Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #252
TENTERAM

Allah Yang Maha Bijaksana membuat hati kita menjadi tentram bila kita mengingat~Nya ( Ar-Ra’d : 28 ).

Saatnya menyadari …, hati tenteram bukanlah lantaran banyak harta, melainkan karena banyak mengingat~Nya.


Nah prioritas mana yang lebih utama, memburu harta ataukah mengingat Allah?

SEMUA ORANG BISA MEMPEROLEH KETENTRAMAN JIWA, WALAUPUN IA MISKIN HARTA




Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #251
MEMBUKA PINTU SURGA

Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang memberi ganjaran surga bagi yang dapat menahan hawa nafsunya ( An-Naazi’at : 40-41 ).

Saatnya menyadari …, menahan amarah identik dengan membuka pintu surga.


Nah, relakah kita mengikuti kemarahan?

UJUNG DARI KEMARAHAN SELALU PENYESALAN




Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #250
KARUNIA TERSEMBUNYI

Banyak kenikmatan yang dilipat-Nya di antara taring-taring bencana, begitu juga banyak kegembiraan yang menghadap arah dimana di sana beberapa musibah telah menanti.



Saatnya menyadari …, ketidaknyamanan dari~Nya bukanlah selalu identik dengan bencana, begitu juga kegembiraan tidaklah selalu berarti indah.

Nah, perlukah kita ngedumel bila menerima ketentuan-Nya yang tidak nyaman?

KETIDAKNYAMANAN ADALAH PECUTAN KASIH SAYANG~NYA YANG TERSEMBUNYI



Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #249
NYAMAN DAN TAK NYAMAN


Allah SWT, walaupun Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pasti menguji kita di dunia ini dengan kenyamanan dan ketidaknyamanan ( Al-Anbiya’ : 35, Al-’Araaf : 168 ). Begitulah janji-Nya, di belahan dunia manapun kita berpijak pastilah akan berjumpa dengan yang namanya kenyamanan dan ketidaknyamanan.

Saatnya menyadari …, selagi berada di alam dunia kita tidak mungkin dapat menghindar dari ketidaknyamanan, seperti halnya kita tidak bisa menghindar dari sakit.

Nah, akankah kita ikhlas di kala menerima ketentuan~Nya yang tak nyaman?

HANYA DI SURGA SATU-SATUNYA TEMPAT YANG BEBAS DARI KETIDAKNYAMANAN





Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #248
PELUANG

Allah SWT di dalam Alqur’an menegaskan bahwa DIA akan membalas perbuatan baik dengan balasan 1000% ( Al An’am 160 ).

Saatnya menyadari …, perbuatan baik yang kita lakukan sejatinya bukanlah untuk kepentingan orang lain, melainkan untuk kepentingan diri kita sendiri.

Nah, maukah berbuat baik pada mereka yang memfitnah kita?


SETIAP MANUSIA AKAN BERTANGGUNG JAWAB PADA PERBUATAN YANG DILAKUKANNYA



Gambar:www.pixabay.com




Mutiara Tauhid Renungan #247
ADA API ADA ASAP

Benarkah seorang ustadz yang berpendapat bahwa akhlak orang Indonesia sulit dirubah kecuali bila Tuhan berkenan menurunkan kembali Muhammad Rasulullah SAW di bumi Indonesia?

Saatnya menyadari …, walaupun berada di samping Rasulullah SAW, tanpa bertafakur tidak akan bisa terbentuk kesadaran. Tanpa kesadaran manalah mungkin ada akhlak mulia. Ya, tanpa adanya api manalah mungkin timbul asap.


TANPA ADANYA “KESADARAN,” ABU BAKAR DAN ABU LAHAB TIDAK AKAN ADA BEDANYA




Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #246
MENGUNDANG KERUGIAN


Allah menciptakan manusia dengan kemampuan yang terbatas, oleh karena itu Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang ini perlu menurunkan Alqur’an.

Saatnya menyadari …, mereka yang tidak fanatik menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidupnya tidak disangsikan lagi pastilah bakal merugi.

MELANGGAR ALQUR’AN IDENTIK DENGAN MENGUNDANG KERUGIAN




Gambar:https://lh3.googleusercontent.com


Mutiara Tauhid Renungan #245
LOGIKA

Nabi kita yang mulia pernah bersabda, “Seorang pelacur masuk surga lantaran ia memberi minum anjing yang kehausan.”

Mengacu pada sabda Nabi ini ada yang berlogika Tuhan membuat banyak jalan menuju surga termasuk di antaranya lewat memberi minum anjing. Namun ada juga yang berlogika, sabda Nabi itu mengandung pengertian atau isyarat begitu tingginya nilai perbuatan baik di mata Allah.

Dari dua logika ini manakah yang benar?


Saatnya menyadari …, benar atau salah itu ukurannya adalah tidak melanggar Alqur’an dan sunah Rasul.

Dengan kesadaran ini maka kita bisa mengerti mengapa logika yang pertama keliru sedangkan logika yang kedua benar.
Logika yang pertama keliru karena melanggar Alqur’an, bukankah menurut  Alqur’an surga hanya dapat diperoleh melalui ketaatan pada-Nya?

BERLOGIKA DALAM SPIRITUAL TANPA MEMBAWA ALQUR’AN DAN SUNAH RASUL ADALAH AWAL DARI LAHIRNYA KEBINGUNGAN




Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #244
HATI-HATI SALAH BERJUANG

Tak disangsikan lagi sebaik-baik manusia adalah yang paling kaya amal solehnya. Tapi tahukah Anda bila amal soleh itu muncul bukannya lantaran otak banyak tahu ilmu agama, melainkan karena kalbu banyak terisi dengan keyakinan?


Saatnya menyadari …, perjuangan kita yang sesungguhnya bukanlah dalam mengamalkan ilmu jadi amal soleh, melainkan memasak ilmu agar ia berubah menjadi keyakinan. Ya, amal soleh hanya muncul bila ada keyakinan yang tertanam di kalbu.

“DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL ‘DAGING.’ BILA ‘DAGING’ ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PULA PERILAKUNYA. DAGING’ ITU ADALAH KALBU”



Gambar:www.pixabay.com


Mutiara Tauhid Renungan #243
KESIA-SIAAN TERSEMBUNYI

Rasulullah SAW yang mulia bersabda, “Di dalam diri manusia ada segumpal ‘daging.’ Bila ‘daging’ itu baik maka akan baik pula perilakunya. ‘Daging’ itu adalah kalbu.”

Saatnya menyadari …, isi kalbulah yang akan menentukan seseorang itu tampil berakhlak mulia atau durjana.


SIA-SIA BELAJAR AGAMA BILA HANYA UNTUK MENGISI AKAL




Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #242
MENGGOSOK UBIN

Nabi kita yang mulia, Muhammad Rasulullah SAW, bersabda, “Di dalam diri manusia ada segumpal ‘daging.’ Bila ‘daging’ itu baik maka akan baik pula perilakunya. ‘Daging’ itu adalah KALBU”


Saatnya menyadari …, perilaku mulia tidak dapat dibuat dengan menggosok otak, sebagaimana cermin tidak pernah dapat dibuat dengan menggosok ubin.

UNTUK MEMBUAT PERILAKU. MULIA, YANG HARUS DIGARAP ADALAH KALBU BUKANNYA OTAK





Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #241
PENGENDALI LANGKAH


Tentunya kita tak mau bila langkah kita sia-sia bukan?
Nah, bagaimana caranya untuk bisa merasakan bahwa langkah kita selama ini tidak sia-sia?
Menyadari tujuan adalah jawabannya!

Ya, bila sadar tujuan akan terasa nyambung atau tidaknya langkah yang selama ini kita ayunkan.

Nah, sudah sadarkah tujuan hidup ini untuk apa?

SETIAP KEGIATAN MULAILAH SELALU DARI TUJUAN





Gambar:www.pixabay.com