Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #361
BISA ULAR


Siapakah manusia yang tidak butuh harta?
Tidak ada!

Benarkah manfaat harta sebegitu besarnya sehingga demi yang satu ini kadang-kadang orang tega saling bunuh-bunuhan?

Sebenarnya harta itu bagaikan bisa ular, dapat bermanfaat tapi sekaligus dapat juga mematikan.

Ilustrasi ular kobra


“KEBINASAAN UMATKU ADA DI DALAM DUA HAL, YAITU MENINGGALKAN ILMU DAN MENGUMPULKAN HARTA,” demikian pernah disampaikan oleh Nabi kita yang mulia 14 abad silam.


Gambar:https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Mutiara Tauhid Renungan #360
HASRAT INGIN DIMULIAKAN



Semua manusia punya hasrat ingin dimuliakan, dan juga ingin diagungkan. Wajarkah?

Sebagai makhluk yang memang mau diuji tentu saja wajar, tapi bagaimana sebagai makhluk yang lemah?

Inilah jawaban Tuhan :

“KEMULIAAN ITU ADALAH GAUN~KU, DAN KEAGUNGAN ITU ADALAH JUBAH~KU; BARANGSIAPA YANG MEMAKAI GAUN DAN JUBAH~KU ITU, AKAN KULEMPARKAN IA KE DALAM API NERAKA!”

Nampaknya kita harus rela mengucapkan selamat tinggal pada kemuliaan dan selamat tinggal pada keagungan.
Sebagai gantinya kita kedepankan sikap tawadhu, qanaah, dan waro’



Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2436850.jpg



Mutiara Tauhid Renungan #359
MENGGESER LETAK KEPUASAN


Rasa puas muncul setelah kita melakukan suatu action.

Misalnya saja, kita merasa puas setelah melakukan perbuatan bergunjing.
Ataupun kita merasa puas setelah melakukan perbuatan melampiaskan nafsu.

Mengapa tidak kita geser saja letak kepuasan ini?


Kita tidak lagi puas setelah bergunjing, tapi kita puas setelah menang membungkam mulut yang mau bergunjing….
Begitu juga kita puas bukannya setelah melampiaskan emosi, tetapi setelah berhasil meminggirkan emosi.

Mestinya bisa kan ya

JAGOAN ITU BUKAN YANG JAGO MARAH, MONYET JUGA BISA



Gambar:http://mediacerita.com

Mutiara Tauhid Renungan #358
KETIKA KEBUTUHAN MENJADI KEWAJIBAN



Pernahkah makan dirasakan sebagai kewajiban ketimbang kebutuhan?
Pasti pernah. Ketika sedang sakit, makan pun berubah rasa jadi kewajiban.

Jiwa manusia butuh ibadah agar memperoleh dunia bahagia akhirat surga.

Ketika ibadah dirasakan sebagai kewajiban ketimbang kebutuhan, berhati-hatilah. Pertanda ada yang “sakit” dengan jiwa ini!

MENYADARI ADANYA KEKELIRUAN ITU PENTING!




Gambar:https://3.bp.blogspot.com

Mutiara Tauhid Renungan #357
KENIKMATAN ABSOLUT


Apakah yang paling terasa nikmat di dunia?
Apapun itu, tidak ada seujung kukunya rasa kenikmatan di surga!


Begitu dahsyatnya kenikmatan surga,
sangat layak untuk diperjuangkan mati-matian sampai menutup mata

Bagaimanakah caranya untuk mendapatkan surga itu?
Ternyata pendapat para bijak berbeda-beda,
surga itu untuk mereka yang selalu berbuat kebaikan,
surga itu untuk mereka yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain
surga itu untuk mereka yang dekat dengan-Nya,
surga itu untuk mereka yang paling pasrah menjalani ketetapan-Nya,
surga itu untuk mereka yang ………. dan lain-lain masih banyak lagi.

Benarkah bila kita ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan surga bertanya pada manusia bijak?

Ah …, mereka itu belum pernah ke sana.
Mengapa tak bertanya pada yang punya surga …?

SURGA DIBERIKAN KEPADA MEREKA YANG TAAT PADA ALLAH DAN MUHAMMAD RASULULLAH SAW” ( Alqur’an )



Gambar:https://i1.wp.com



Mutiara Tauhid Renungan #356
KENIKMATAN SEJATI


Kenikmatan itu jenisnya tidak satu melainkan dua.
Ada kenikmatan yang “di luar” dan ada kenikmatan yang ”di dalam”

Kalbu yang dibiarkan tidak terawat dan tidak pula terasah, ia hanya dapat menikmati kenikmatan yang di “luar” saja,
yaitu sebatas kenikmatan makan dan minum.



Lho…koq mirip dengan sapi ya…??

SALAH SATU INDIKATOR KALBU YANG SEDANG SEKARAT ADALAH IA HANYA BISA MERASAKAN KENIKMATAN SEBATAS PADA KENIKMATAN MAKAN DAN MINUM SAJA



Gambar:https://cdn.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #355
KEPUASAN SEJATI


Menuruti hawa nafsu mengantarkan pada kepuasan semu yang selalu berujung pada penyesalan.


Menahan diri dari keinginan hawa nafsu mengantarkan pada kepuasan sejati yang tak pernah mengenal penyesalan.

Hai jiwa yang tenang ...
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

MENAHAN NAFSU ITU BERAT, TETAPI MENAHAN SIKSAAN NERAKA JAUUHHH LEBIH BERAT LAGI …



Gambar:https://i2.wp.com/www.aktual.com

Mutiara Tauhid Renungan #354
SEMBILU



Kalbu yang sering digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan sembilu.
Ia tajam untuk menangkap hikmah.

Kalbu yang lalai digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan telur busuk.
Ia tajam untuk memfitnah, menghujat, ataupun menabur berita busuk.

BERTAFAKUR SEJENAK LEBIH BAIK DARIPADA IBADAH SATU TAHUN



Gambar:https://indonesia.findwiki.co

Mutiara Tauhid Renungan #353
TAK PERNAH KELIRU



Mungkinkah dalam menentukan hasil atas ikhtiar manusia Allah melakukan kekeliruan?

Saatnya menyadari …, Sang Maha Kuasa walaupun mempunyai kemampuan yang tak terbatas namun DIA TAK MAMPU BERBUAT KEKELIRUAN!

APA YANG DIBERIKAN-NYA PADA KITA SELALU SESUAI DENGAN YANG KITA BUTUHKAN, BUKANNYA SESUAI DENGAN APA YANG EGO INGINKAN.


Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2467591.jpg

Mutiara Tauhid Renungan#352
KEINGINAN



Di alam dunia ini ada dua keinginan, yaitu keinginan ego dan keinginan Allah.  Sepanjang kita berada di dalam koridor-Nya, yang terjadi selalu keinginan DIA.

Patutkah meronta bila yang kita mau tak terwujud jadi kenyataan?

Mengapa harus meronta, bukankah DIA tidak kejam?
Bukankah DIA tak mampu sedetik pun memberhentikan kasih sayang-Nya pada kita?
Bukankah DIA sangat ingin kita ke surga melebihi keinginan diri kita sendiri?

Sesungguhnyalah, meronta atas ketetapan-Nya bukanlah perilaku manusia yang berhati dan berakal.

“MAKA NIKMAT TUHAN KAMU MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?”



Gambar:https://3c1703fe8d.site.internapcdn.net/newman/gfx/news/hires/2014/7-psychologist.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #351
KALBU YANG CEMAS


Fakta sudah mengajarkan kita, sesuatu yang tidak digunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya pastilah akhirnya akan rusak.

Bila kalbu rusak, apakah penyebabnya?
Tak diragukan, pastilah dia digunakan bukan untuk keperluan ibadah.

Salah satu bentuk kerusakan hati adalah rasa cemas.



Rasa cemas muncul karena sebelumnya hati digunakan untuk menerawang hasil, padahal … perkara hasil sepenuhnya adalah urusan Tuhan.
Dengan begitu menerawang hasil jelaslah bukan termasuk perkara ibadah.

Pantas saja kata ahli hikmah, “KECEMASAN TIDAK PERNAH LAHIR DARI IBADAH, MELAINKAN LANTARAN DARI MEMIKIRKAN HASIL.”



Gambar:https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

Mutiara Tauhid Renungan #350
KETIKA KUASANYA DIABAIKAN


Bila kita sakit maka kita pun bergegas ke dokter.
Mengapa?
Apakah supaya sembuh,
ataukah semata-mata melakukan ibadah yang bernama ikhtiar?

Bila kita sadar kesembuhan sepenuhnya ada di tangan Allah bukannya di tangan dokter, niscaya akan terasa kesembuhan itu hanyalah merupakan dampak saja sedangkan tujuan utamanya adalah ibadah.



“KETIKA DAMPAK DIJADIKAN TUJUAN, KETIKA ITU KUASA ALLAH DIABAIKAN,” begitu kata ahli hikmah.



Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2267762.jpg