Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #309
KEKELIRUAN DIRI



Peduli dengan kekeliruan diri, merupakan langkah besar menuju pribadi indah.
Sebaliknya, tak mau peduli dengan kekeliruan diri merupakan langkah besar menjumpai bencana dahsyat.

AKU ADALAH AKU,
INDAH ATAU BURUKNYA SANG AKU TERGANTUNG PADA MAUNYA AKU …



Gambar :http://static.pulsk.com/images/2013/09/14/ea3a1a243317468fa6a51fdeaf67be20.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #308
PENA EMAS


Apakah orang yang beriman akan adanya Allah suatu saat pasti akan menempati surga?

Sebagaimana kita sudah yakini, surga akan diberikan kepada yang hasil timbangannya baik.
Namun perlu disadari, yang ditimbang itu bukanlah iman, melainkan beratnya amal perbuatan. Karena itu tak heran walaupun iblis lebih beriman dibandingkan kita tentang adanya Allah, namun kita tak akan menemukan iblis di surga.


Begitulah, IMAN TANPA KETAATAN BAGAIKAN PENA EMAS DI TANGAN SI BUTA HURUF.





Gambar :http://salafy.or.id/wp-content/uploads/2014/02/thoughtful-pen-writing-24581037-2560-1702.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #307
BUKAN NEGERI DONGENG



Bagi manusia, tidak ada kepastian yang melebihi dari kematiannya.

WALAUPUN MALAM TERASA PANJANG,
NAMUN SANG FAJAR AKAN TERBIT JUGA.
WALAUPUN USIA KITA PANJANG,
LIANG KUBUR AKAN KITA MASUKI JUGA …

Alam kubur bukanlah negeri dongeng.
Nah, sudahkah menabung untuk persiapan hidup di sana ..?




Gambar http://2.bp.blogspot.com/-6oaG6oxsJIU/T4ttJ1CEuqI/AAAAAAAAAQU/EJo0yPvZCL4/s1600/Alam+KuBur.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #306
ALAM PERTANGGUNGJAWABAN



Sekecil apapun perbuatan selama hidup di dunia kelak harus dipertanggungjawabkan di akhirat, begitulah kata Alqur’an.
Dengan begini tidak ada satu orangpun yang bakalan dirugikan.

Orang yang menyimpan dendam, mencerminkan belum yakin adanya akhirat, bukankah ia nanti akan menerima transfer pahala dari orang yang menzaliminya, mengapa pula perlu dendam?

Orang yang menghujat, setali tiga uang, yaitu belum yakin adanya akhirat.

Bagaimana bila disamping dendam, juga menghujat?
Wah ini gawat …, jangan-jangan bukannya belum yakin adanya akhirat, tapi lebih dari itu yaitu mengingkari keberadaannya!

SEANDAINYA CAHAYA KEYAKINAN MENYINARIMU, NISCAYA ENGKAU DAPAT MELIHAT AKHIRAT ITU LEBIH DEKAT KETIMBANG ENGKAU BERJALAN MENUJUNYA (Ibn ‘Atha’illah)


  
Gambar :ttps://4.bp.blogspot.com

Mutiara Tauhid Renungan #305
RIDHO ALLAH



Tanpa ketaatan kepada-Nya, tidak ada ridha Allah
Tanpa ridha Allah, tidak ada DBAS
Tanpa DBAS, mau ngapain di dunia .... ???


Gambar : http://blog.munatour.co.id

Mutiara Tauhid Renungan #304
SATU SAJA


Semua manusia menginginkan kembali ke tempat asalnya semula yaitu surga.  Untuk ini ia harus mendaki jalan berliku ribuan bahkan bisa jutaan tahun lamanya.
Dan apakah akhirnya ia akan sampai di tujuan atau tidak, ditentukan oleh satu hal saja yaitu kesediaannya taat mengikuti kehendak2 Sang Pencipta.



Semoga kita tak berhenti bertafakur, karena sungguh tak terbayangkan apa jadinya bila setelah menjalani perjalanan yang begitu panjang ribuan atau jutaan tahun, boro-boro nyampe di tujuan ...
Ah,  mendekatinya pun sama sekali tidak.



Gambar: https://1.bp.blogspot.com/--0gpnO706gs/UZtVI21a6MI/AAAAAAAABXM/wr2bhDOdE0A/s1600/telunjuk+2.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #303
PILKADA



Salah satu asesoris dunia adalah jabatan. Tak heran bila yang dapat membuat menjadi “orang penting” ini diperebutkan.

Tapi, benarkah seharusnya kita berlomba-lomba menjadi orang penting?

Yang jelas mah kata kang Ebet, “MEMANG BAIK MENJADI ORANG PENTING, TAPI YANG JAUH LEBIH PENTING LAGI ADALAH MENJADI ORANG BAIK”




Gambar:http://rmol.co/images/berita/normal/2017/11/927005_02581429112017_kampanye_ilustrasi.jpg


Mutiara Tauhid Renungan #302
AWAL DARI KEHIDUPAN



ALAM KUBUR BUKANLAH ALAM KEMATIAN.
Alam kubur adalah awal dari “benar2 hidup.” Bila dulu taat pada Allah dan Rasul-Nya, niscaya awal kehidupan yang sebenarnya ini akan diisi dengan bersyukur tanpa henti karena diberi kesempatan tinggal di dunia.
Sebaliknya, bila dulu “mabuk dunia” maka akan menyesal tanpa henti mengapa pernah mampir ke dunia.

Sekaranglah saatnya untuk memilih ...




Gambar: http://www.salamdakwah.com

Mutiara Tauhid Renungan #301
PENGANTIN


Para bijak mengatakan, memasuki liang lahat bagaikan orang bangun dari tidur. Seperti apa kira-kira rasanya ya …?


Taat pada Allah membuat ketika “bangun” serasa pengantin …

TAAT PADA EGO, MEMBUAT KETIKA “BANGUN” SERASA PENJAHAT YANG AKAN DIHUKUM PANCUNG



Gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com

Mutiara Tauhid Renungan #300
GAWAT

Di awal kedatangan ke dunia, pada saat lahir, warna jiwa kita putih bersih.
Perjalanan waktu merubah warna jiwa ini.


Bila hari demi hari perilaku kita selaras dengan kehendak-Nya, warna jiwa tidak hanya putih bersih tapi juga mengkilat. Namun bila sebaliknya, warna jiwa bisa berubah jadi abu-abu bahkan hitam!

Wah, bila kita pulang dengan warna yang tidak beda dengan saat kita datang aja udah salah, bagaimana kalo hitam ya … APA NGGA GAWAT?


Gambar : http://cdn.teenink.com/artwork/Jan11/originals/f127953_1296363921.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #299
BERAT JIWA


Salah seorang sahabat agung Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab, pernah mengingatkan kita, “HITUNGLAH DIRIMU SEBELUM DIHITUNG, DAN TIMBANGLAH DIRIMU SEBELUM DITIMBANG”

Berat badan kita boleh jadi sekarang ini sudah ideal, tapi apakah “berat jiwa” juga sudah ideal?
Bila belum, mau nunggu apa lagi …??

AKU ADALAH JIWA
AKULAH YANG AKAN DITIMBANG ITU …



Gambar :http://www.syaarar.com

Mutiara Tauhid Renungan #298
PALING PASTI


Semua manusia pada akhirnya menjadi tua, dan mati.
Menabung untuk kehidupan hari tua dan menabung untuk kehidupan setelah kematian tentunya menjadi suatu keharusan.


Mana yang harus diprioritaskan?

Yang pasti, menabung untuk hari tua BELUM PASTI aku yang bakalan menikmatinya, sedangkan menabung untuk alam kubur PASTI aku yang akan menikmatinya.



Gambar :https://i2.wp.com/gayahidupbaru.com