Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #354
SEMBILU



Kalbu yang sering digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan sembilu.
Ia tajam untuk menangkap hikmah.

Kalbu yang lalai digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan telur busuk.
Ia tajam untuk memfitnah, menghujat, ataupun menabur berita busuk.

BERTAFAKUR SEJENAK LEBIH BAIK DARIPADA IBADAH SATU TAHUN



Gambar:https://indonesia.findwiki.co

Mutiara Tauhid Renungan #353
TAK PERNAH KELIRU



Mungkinkah dalam menentukan hasil atas ikhtiar manusia Allah melakukan kekeliruan?

Saatnya menyadari …, Sang Maha Kuasa walaupun mempunyai kemampuan yang tak terbatas namun DIA TAK MAMPU BERBUAT KEKELIRUAN!

APA YANG DIBERIKAN-NYA PADA KITA SELALU SESUAI DENGAN YANG KITA BUTUHKAN, BUKANNYA SESUAI DENGAN APA YANG EGO INGINKAN.


Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2467591.jpg

Mutiara Tauhid Renungan#352
KEINGINAN



Di alam dunia ini ada dua keinginan, yaitu keinginan ego dan keinginan Allah.  Sepanjang kita berada di dalam koridor-Nya, yang terjadi selalu keinginan DIA.

Patutkah meronta bila yang kita mau tak terwujud jadi kenyataan?

Mengapa harus meronta, bukankah DIA tidak kejam?
Bukankah DIA tak mampu sedetik pun memberhentikan kasih sayang-Nya pada kita?
Bukankah DIA sangat ingin kita ke surga melebihi keinginan diri kita sendiri?

Sesungguhnyalah, meronta atas ketetapan-Nya bukanlah perilaku manusia yang berhati dan berakal.

“MAKA NIKMAT TUHAN KAMU MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?”



Gambar:https://3c1703fe8d.site.internapcdn.net/newman/gfx/news/hires/2014/7-psychologist.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #351
KALBU YANG CEMAS


Fakta sudah mengajarkan kita, sesuatu yang tidak digunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya pastilah akhirnya akan rusak.

Bila kalbu rusak, apakah penyebabnya?
Tak diragukan, pastilah dia digunakan bukan untuk keperluan ibadah.

Salah satu bentuk kerusakan hati adalah rasa cemas.



Rasa cemas muncul karena sebelumnya hati digunakan untuk menerawang hasil, padahal … perkara hasil sepenuhnya adalah urusan Tuhan.
Dengan begitu menerawang hasil jelaslah bukan termasuk perkara ibadah.

Pantas saja kata ahli hikmah, “KECEMASAN TIDAK PERNAH LAHIR DARI IBADAH, MELAINKAN LANTARAN DARI MEMIKIRKAN HASIL.”



Gambar:https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

Mutiara Tauhid Renungan #350
KETIKA KUASANYA DIABAIKAN


Bila kita sakit maka kita pun bergegas ke dokter.
Mengapa?
Apakah supaya sembuh,
ataukah semata-mata melakukan ibadah yang bernama ikhtiar?

Bila kita sadar kesembuhan sepenuhnya ada di tangan Allah bukannya di tangan dokter, niscaya akan terasa kesembuhan itu hanyalah merupakan dampak saja sedangkan tujuan utamanya adalah ibadah.



“KETIKA DAMPAK DIJADIKAN TUJUAN, KETIKA ITU KUASA ALLAH DIABAIKAN,” begitu kata ahli hikmah.



Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2267762.jpg



Mutiara Tauhid Renungan Kalbu #349
KETIKA KALBU DITUNGGANGI EGO


Saat bekerja karena dorongan ingin kaya, bukan karena dorongan ibadah ...
Saat memberi karena dorongan kasihan, bukan karena dorongan kesadaran menunaikan perintah-Nya ….
Saat ke dokter karena dorongan ingin sembuh, bukannya semata-mata lantaran ibadah ...

Hati-hati ..., karena pada saat itu kalbu sedang ditunggangi ego!

INNA SHOLATI, WANUSUKI, WAMAHYAYA, WAMAMATI, LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN ...




Gambar :https://image.freepik.com/icones-gratis/cavalo-com-jockey-silhueta-negra_318-49270.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #348
KALBU YANG MATI


Peredam segala perilaku tercela adalah ingat akan kematian diri.

Bagaimana bila setelah ingat kematian perbuatan tercela masih tetap lanjut?

Solusinya hanya satu, yaitu berdoa.


Bermohonlah kepada-Nya agar DIA mengganti dengan kalbu yang baru, karena kalbu yang saat ini digunakan kemungkinan besar sudah mati!



Gambar:http://3.bp.blogspot.com

Mutiara Tauhid Renungan #347
REM


Bagaimana mengendalikan mobil yang melaju kencang?
Untunglah ada rem.



Bagaimana mengendalikan perilaku liar yang tercela?
Untunglah ada rasa takut, yaitu rasa takut akan kehidupan setelah kematian.
  
REM SEGALA PERILAKU TERCELA ADALAH INGAT AKAN KEMATIAN DIRI.




Gambar: https://awsimages.detik.net.id

Mutiara Tauhid Renungan #346
DI SANA DIANJURKAN DI SINI TABU


Nabi kita yang mulia, Muhammad Rasulullah SAW, memberikan petunjuk kepada kita, “Manusia yang paling cerdik ialah yang terbanyak mengingat kematian, serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah yang benar-benar cerdik, dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat”

Kenapa ya kalau di tanah air kita jangankan mengingat-ngingat kematian, ngomong soal kematian saja oleh sebagian orang Islam justru dianggap tabu …



“BARANGSIAPA TELAH MERASAKAN INGAT KEMATIAN, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN IA SENANG MENCARI PAHALA DAN BENCI TERHADAP DOSA”   ( Abu Hamzah Al-Khurasani ) 




Gambar: http://anaktelkom.com/wp-content/uploads/2016/05/Bingung.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #345
MENYADARI SIKAP HIDUP



Jalan kehidupan tidaklah selalu lurus, tapi berbelok-belok.
Pernahkah kita kebingungan belokan mana yang harus kita ambil ketika menjumpai persimpangan tiga ataupun persimpangan empat?

Begitulah, tanpa menyadari “BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP HIDUP” pasti kita sering dibingungkan ketika menjumpai “persimpangan kehidupan.”

SIKAP HIDUP YANG BENAR ADALAH YANG SELARAS DENGAN KEHENDAK~NYA



Gambar :http://3h.ca/wp-content/uploads/2013/12/Overcoming-Challenges_The-Real-Iron-Man1.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #344
GALAU



Bila suatu ketika hati diserang rasa galau apa sebab?

Tak usahlah berpayah-payah menduga, hal ini pastilah lantaran berserah dirinya sedang mengendur.

 “BARANGSIAPA YANG BERSERAH DIRI DAN BERBUAT KEBAIKAN, MAKA IA TIDAK AKAN MERASAKAN KHAWATIR ATAUPUN SEDIH”




Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Sedih1-317wfwetde57df1c8y05xc.jpg


Mutiara Tauhid Renungan #343
MASA DEPAN CEMERLANG



Ketika telinga kita mendengar disampaikannya firman Allah, bagaimanakah reaksi hati? Apakah tiada rasa, datar saja bagaikan mendengar siaran berita?

Mereka yang dapat menyadari bahwa firman Allah yang didengarnya itu sejatinya adalah sumpah Sang Maha Kuasa, pastilah akan tertunduk khidmat berupaya untuk memahatnya di kalbu.

Mereka inilah yang punya “masa depan” cemerlang.


“ALLAH TELAH BERJANJI DENGAN SEBENAR-BENARNYA. ALLAH TIDAK AKAN MENGINGKARI JANJI-NYA”  -Az Zumar 20



Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Anak-dan-Quran-2zgfzirpfsoog9vtmyzxts.jpg