Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #345
MENYADARI SIKAP HIDUP



Jalan kehidupan tidaklah selalu lurus, tapi berbelok-belok.
Pernahkah kita kebingungan belokan mana yang harus kita ambil ketika menjumpai persimpangan tiga ataupun persimpangan empat?

Begitulah, tanpa menyadari “BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP HIDUP” pasti kita sering dibingungkan ketika menjumpai “persimpangan kehidupan.”

SIKAP HIDUP YANG BENAR ADALAH YANG SELARAS DENGAN KEHENDAK~NYA



Gambar :http://3h.ca/wp-content/uploads/2013/12/Overcoming-Challenges_The-Real-Iron-Man1.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #344
GALAU



Bila suatu ketika hati diserang rasa galau apa sebab?

Tak usahlah berpayah-payah menduga, hal ini pastilah lantaran berserah dirinya sedang mengendur.

 “BARANGSIAPA YANG BERSERAH DIRI DAN BERBUAT KEBAIKAN, MAKA IA TIDAK AKAN MERASAKAN KHAWATIR ATAUPUN SEDIH”




Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Sedih1-317wfwetde57df1c8y05xc.jpg


Mutiara Tauhid Renungan #343
MASA DEPAN CEMERLANG



Ketika telinga kita mendengar disampaikannya firman Allah, bagaimanakah reaksi hati? Apakah tiada rasa, datar saja bagaikan mendengar siaran berita?

Mereka yang dapat menyadari bahwa firman Allah yang didengarnya itu sejatinya adalah sumpah Sang Maha Kuasa, pastilah akan tertunduk khidmat berupaya untuk memahatnya di kalbu.

Mereka inilah yang punya “masa depan” cemerlang.


“ALLAH TELAH BERJANJI DENGAN SEBENAR-BENARNYA. ALLAH TIDAK AKAN MENGINGKARI JANJI-NYA”  -Az Zumar 20



Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Anak-dan-Quran-2zgfzirpfsoog9vtmyzxts.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #342
KALBU YANG PEKA



Kalbu yang peka mudah saja ia meyakini janji-janji Allah.
Apa yang mesti diperbuat agar kalbu peka?

Pisau akan menjadi semakin tajam bila sering dipakai,
kalbu akan semakin peka bila ia sering digunakan.

BARANG ORISINAL PASTI LEBIH BAIK, TAPI KALBU YANG ORISINAL PASTI LEBIH JELEK!



Gambar :http://kolom.abatasa.co.id/gambar/kolom-berlian-di-dalam-hafi-914_l.jpg


Mutiara Tauhid Renungan #341
KEPEDEAN


Allah telah berjanji bahwa DIA tidak akan pernah menganiaya manusia.
Percayakah kita pada janji-Nya itu?


Ops …!  Jangan dulu buru-buru mengatakan “pastilah”
Tanda percaya bukanlah di bibir, melainkan pada perilaku.

MERONTA BILA MENDAPAT KETETAPAN-NYA YANG TAK NYAMAN BUKANLAH PERILAKU ORANG YANG PERCAYA PADA JANJI-NYA



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRNbYeZrmhqSp9X1q9n1-gro2Urp85eiMDhf9FEYTJA3imlFWp9

Mutiara Tauhid Renungan #340
KALBU YANG TERSUMBAT


Kata-kata yang meluncur dari bibir bukanlah cerminan dari perilaku.
Perilaku merupakan cerminan dari percaya atau tidaknya kalbu pada janji-janji yang disampaikan Sang Maha Kuasa.

Allah Sang Pemilik Surga berjanji, “Barangsiapa yang dapat menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah ganjarannya”


Bila kita masih mudah marah tak usahlah berdalih macam-macam. Karena persoalannya sudah sangat jelas, yaitu tingkat kepercayaan kalbu kita pada janji Sang Maha Kuasa masih terbilang rendah. Bukankah marah termasuk salah satu keinginan nafsu?

BILA JANJI ALLAH SAJA TAK DIPERCAYA, KEMANAKAH AKAN MENCARI PEGANGAN HIDUP?




Gambar :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSgcxbGQIIhmfIVUG2rhIwzoz32lcTo11686s4dOakTr_8pGWLY

Mutiara Tauhid Renungan #339
BERCERMIN DIRI


Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk immortal, tidak akan sirna namun berpindah alam. Sekarang tinggal di dunia esok lusa pindah ke alam kubur. Konsekuensi logisnya, manusia harus berkarya mengumpulkan bekal tidak hanya untuk kehidupan saat ini saja namun juga untuk kehidupan setelah lepas dari alam yang sekarang.

Berkarya untuk alam yang sekarang ini harusnya seimbang dengan berkarya untuk alam keabadian kelak.


Bila bercermin diri, saat ini aku rajin berkarya untuk membangun alam yang akan segera ditinggalkan ataukah untuk alam yang akan dituju? 

Coba saja buat statistiknya berapa % karya untuk dunia dan berapa % pula karya untuk akhirat yang sudah aku buat, seimbangkah?
Bila tampak seimbang, berarti sudah benar.

“WAHAI MANUSIA! KETAHUILAH BAHWA APA YANG ENGKAU BANGUN ITU AKHIRNYA AKAN HANCUR. USIAMU AKAN HABIS.  RAGAMU AKAN DITIMBUNI TANAH. TEMANMU HANYALAH AMAL SOLEHMU” - Hadits Qudsi



Gambar :http://3.bp.blogspot.com/-UYN-VI0v1ew/VAXZd1KiDXI/AAAAAAAAANE/jB8HoNavMgU/s1600/anigif.gif

Mutiara Tauhid Renungan #338
PEMBERIAN TERINDAH



Memberi maaf jauh lebih indah dibandingkan dengan memberi dunia dengan seluruh isinya




Gambar:http://www.panjimas.com/wp-content/uploads/2015/06/maaf.jpg

Mutiara Tauhid Renungan#337
MELUKIS DI ATAS AIR


Banyak orang yang bertekad akan :
… selalu ikhlas menerima musibah
… selalu pasrah bila dizalimi
… selalu tawadhu
… selalu bersyukur di waktu senang dan susah
… selalu berzikir ingat Allah di waktu duduk, berjalan, berbaring

Akankah tekad mereka itu kesampaian?


Ah, hanya berbekal tekad saja tanpa diiringi kesadaran tak ubahnya bagaikan melukis di atas air.......



Gambar :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTrqai29xzh0_sH2dk26m8cYTyqqe3lkAbg9DlfecOAd6Wye9MV

Mutiara Tauhid Renungan#336
MENJADI KEKASIH ALLAH



Ada satu rahasia besar yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as. pada kita, “SALAH SATU SEBAB AKU MENJADI KEKASIH ALLAH ADALAH KARENA AKU TIDAK PERNAH MERISAUKAN SESUATU YANG TELAH DITANGGUNG OLEH-NYA.”

Ternyata untuk menjadi kekasih Allah tidaklah susah2 banget, asalkan saja tidak meragukan kemampuan-Nya.

Bisakah kita tidak meragukan kemampuan-Nya?
Janganlah terlalu cepat mengatakan bisa.

Mari kita introspeksi :
Ketika telah berikhtiar sungguh-sungguh, apakah merisaukan hasil yang akan terjadi?
Ketika berobat, apakah merisaukan datangnya kesembuhan?
Setelah bekerja dengan baik, apakah merisaukan kecukupan harta?
Setelah lama dalam kesendirian, apakah merisaukan jodoh?

Bila jawabannya iya, rupanya kita belum memenuhi kriteria sebagaimana yang dimaksud Nabi Ibrahim as.



Gambar :https://static-s.aa-cdn.net/img

Mutiara Tauhid Renungan#335
DI TANGAN BUKAN DI HATI


Selama manusia belum mampu merasakan di balik kesenangan terselip ujian-Nya, boro2 ia bisa lurus, perilakunya malahan cenderung melaju ke arah nekad.

Salah satu dari sekian kenekadan itu misalnya saja ia mengakui bahwa harta itu adalah ujian. Tapi mengapa dia nekad meletakkannya di hati? Bukankah bila harta ditaruh di hati ia akan dapat menggantikan posisi Allah?



HARTA HARUS DILETAKKAN DI TANGAN,” begitu kata seorang ahli hikmah.



Gambar :https://amaryllis.pna.web.id/wp-content/uploads/2018/03/cinta-harta-722x445.jpg


Mutiara Tauhid Renungan#334
PANTANG DIDUAKAN


Allah berada dimana-mana.
Pada diri manusia DIA berada lebih dekat dari urat leher, tepatnya DIA bersinggasana di dalam hati manusia.


DIA hanya akan meninggalkan singgasana-Nya apabila si pemilik hati berlaku nekad menyandingkan-Nya dengan harta, pangkat, amarah, ataupun dendam kesumat.

Begitulah, DIA selamanya tak pernah mau diduakan!

MANUSIA YANG PALING NEKAD ADALAH MEREKA YANG MELAKUKAN PERBUATAN YANG NYATA-NYATA TAK DISUKAI-NYA




Gambar :https://cdn.brilio.net