Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #383
TAK KENAL MERUGI



Ajaran agama Islam bila diikuti secara kafah tanpa tercampur dengan ajaran lainnya membuat hidup ini selalu indah.

Betapa tidak. Dengan kacamata Islam, segala yang menimpa diri kita hanya ada dua rasa, yaitu wajar atau menguntungkan.

Masa sih dengan menggunakan ajaran Islam tidak ada kejadian menimpa yang akan terasa merugikan?

Memang, tanpa tafakur ajaran agama akan sulit dinikmati.

KETIKA SEMUA TERASA WAJAR, APALAGI BILA MENGUNTUNGKAN, HIDUP SELALU INDAH



Gambar:http://www.kabarmuslimah.com

Mutiara Tauhid Renungan #382
ISLAM


Mengapa galau?
Apapun alasannya, intinya adalah karena terperangkap masuk ruangan kehidupan yang gelap.

Bagaimana supaya galau itu menghilang?
Gampang, hidupkan saja saklar lampu ruangan itu.

Agama Islam ibarat kumpulan saklar lampu yang membuat “terang” persoalan2 kehidupan


Bila semua persoalan2 kehidupan sudah “terang” tentu saja kebahagiaan dunia akhirat dapat dicapai.


Gambar:http://www.konfrontasi.com

Mutiara Tauhid Renungan #381
TAHU DIRI


Bila keinginanku terwujud menjadi kenyataan, hal itu bukan karena kehebatanku tetapi kebetulan saja keinginan Allah sejalan dengan keinginanku.
Alhamdulillah ...


SAMPAI KAPANPUN MANUSIA HANYA BISA IKHTIAR, DAN SAMPAI KAPANPUN HASIL ADALAH KARYA ALLAH SWT


  
Gambar:https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/sujud-bersyukur-2zrbncte3u8oucqcofx3pc.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #380
MASALAH JADI TAK MASALAH


Mengapa kita galau?
Pastilah karena ada masalah yang mengusik kalbu!

Begitulah karakteristik kalbu, bila dia merasa kedatangan masalah maka tanpa dapat dicegah dia langsung mengkerut menjadi galau.
Namun bila dia merasa segala yang dialaminya wajar (apalagi bila menguntungkan), dia tak pernah mengkerut alias rasa galau tak pernah bisa singgah.

Jadi untuk terbebas dari rasa galau mudah saja,
yaitu jangan biarkan kalbu merasa adanya perlakuan tak wajar menimpanya.

Memangnya bisa?

Ketika akal, kalbu, dan Alqur’an melebur dalam tafakur, maka segala kejadian pahit yang dialami akan selalu terasa wajar ( bahkan seringkali menguntungkan! )



DENGAN BERTAFAKUR, MASALAH AKAN MENJADI TAK MASALAH




Gambar:https://maulidamulyarahmawati.files.wordpress.com/2011/03/merenung.jpg



Mutiara Tauhid Renungan #379
HARUS DIBUKA


Mang Karso bertanya, “Dimana nikmatnya agama itu, bukankah hanya menambah beban kegiatan hidup saja?”

Memang, tanpa tafakur ajaran agama akan sulit dinikmati.
Koq…?
Saatnya menyadari…, nikmatnya ajaran agama berada pada kesadarannya, ibarat durian nikmatnya terletak bukan pada kulitnya tapi pada isinya.

Tafakur itu membuka “kulit” agama.



KETIKA SEMUA TERASA WAJAR, APALAGI BILA MENGUNTUNGKAN, HIDUP AKAN SELALU NIKMAT



Gambar:data:image/jpeg;base64

Mutiara Tauhid Renungan #378
KESULITAN ABADI


Kesulitan pasti saja terjadi.

Adakah kesulitan yang abadi?

Bagi yang tak mempercayai adanya kehidupan akhirat, sekarang bolehlah tersenyum lebar.
Apa pasal?
Karena kesulitan di alam dunia tak pernah ada yang abadi.



KESULITAN ABADI HANYA ADA DI AKHIRAT!



Gambar:https://islamudina.com


Mutiara Tauhid Renungan #377
PEMENANG ATAU PECUNDANG


Manusia akan mendatangi akhirat tak perlulah dibahas lagi.


Ada dua kategori manusia ketika sampai di akhirat, yaitu para pemenang dan para pecundang.

Mereka yang sewaktu di dunia memilih untuk taat pada “aturan main” yang dibuat Allah dan Rasul-Nya, mereka inilah yang akan datang sebagai pemenang.

Sedangkan mereka yang lebih suka memilih taat pada nafsunya, inilah dia sang pecundang.

Begitulah, selalu ada harga dari suatu pilihan.

SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING TAKWA, TAAT HANYA PADA KEHENDAK ALLAH DAN RASUL-NYA



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS22VeQAK_22Vu2twiMf33SZsVipO-Cja7YZGbvlrjGxe3hSBJQ

Mutiara Tauhid Renungan #376
BINATANG DAN MANUSIA



Perbedaan yang paling menonjol antara manusia dengan binatang adalah manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, sementara binatang tidak.

Bagi binatang tak jadi masalah apakah mau berbuat curang, atau mau selingkuh, ataupun mau “makan” temennya. Tapi bagi manusia?

Manusia sebaiknya jangan mengikuti polah binatang, karena segala perbuatan “kotor” dapat menguras habis pahala yang susah2 dikumpulkan!

BILA TAK ADA ALAM PERTANGGUNG JAWABAN, NISCAYA MANUSIA DAN BINATANG HANYA SEBATAS BERBEDA TAMPILAN SAJA


 Gambar:https://asset.kompas.com/data/photo/2013/05/11/1042073-anjing-peliharaan-780x390.jpg


Mutiara Tauhid Renungan #375
INGIN TAK DIHINA



Inginkah kita tak dihina orang?

Bila ingin, janganlah tinggal di dunia tapi tinggalah di surga.
Di surga dijamin tidak akan ada orang yang menghina, menghujat, atau menzalimi kita.
Koq tahu …?
Ya, karena mereka yang hobi menghina atau menghujat itu sudah dilokalisir di neraka.

Namun yang jadi persoalan, untuk tinggal di surga itu salah satu syaratnya ego harus dikesampingkan. Dalam kondisi nyaman ataupun tidak nyaman, sikap kita harus selalu selaras dengan kehendak-Nya.

NAH, APAKAH MASIH MAU … ??

SELAMA MASIH BERNAFAS, TAK PEDULI ORANG BAIK ATAUPUN ORANG
JAHAT, TAK MUNGKIN TAK DIHUJAT


  
Gambar:http://4.bp.blogspot.com

Mutiara Tauhid Renungan #374
MENINGGALKAN YANG MESTI DITINGGALKAN



Manusia adalah makhluk yang berkemampuan terbatas.
Dengan keterbatasan ini manusia berpikir, menghasilkan sesuatu yang diklaimnya sebagai kebenaran.

Saatnya menyadari …, kebenaran yang dihasilkan oleh sesuatu yang memiliki keterbatasan hanyalah dugaan semata. Bagaimanapun kebenaran mutlak hanya dapat dikeluarkan oleh yang Maha Sempurna, yaitu Allah SWT.

Karena itulah bila muncul pikiran yang berbeda dengan Alqur’an, janganlah ragu sedikitpun untuk segera meninggalkannya.

KERUSAKAN MANUSIA TERJADI MANAKALA IA MENGGANTI PERSEPSI QUR’ANI DENGAN PERSEPSI KARYA MANUSIA



Gambar:https://cdn.psychologytoday.com/sites/default/files/field_blog_entry_images/self-awareness.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #373
KARUNIA TERSEMBUNYI



Ketika Allah memberi ketidaknyamanan, sebenarnya DIA bukan mau menyiksa tapi DIA ingin memberi hikmah.

Musibah tak pernah diizinkan~Nya berjalan sendiri, ia senantiasa harus                           ditemani hikmah.

BILA AWAN TIDAK MENANGIS, MANALAH MUNGKIN TAMAN AKAN TERSENYUM



Gambar:https://buletinmitsal.com

Mutiara Tauhid Renungan #372
ON OFF



“On-Off” dimaksudkan sebagai sesuatu yang tidak dilakukan secara konsisten, yaitu sebagai lawan dari istiqomah.

Semua orang tahu, kekuatan istiqomah sudah terbukti dahsyat. Bayangkan saja batu cadas yang tak mempan dilubangi oleh linggis dapat dibuat berlubang oleh tetesan air yang terus menerus tanpa jeda.

Nampaknya dalam bertafakur kita juga harus istiqomah.

Pengalaman mengajarkan kita, tafakur yang “on-off” seringkali mendatangkan kebingungan baru ketimbang pencerahan baru.

ALLAH CINTA PROSES, MENGHARAPKAN SESUATU TERJADI SECARA INSTAN SUDAH BUKAN ZAMANNYA LAGI


  
Gambar:data:image/jpeg;base64