Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #302
AWAL DARI KEHIDUPAN



ALAM KUBUR BUKANLAH ALAM KEMATIAN.
Alam kubur adalah awal dari “benar2 hidup.” Bila dulu taat pada Allah dan Rasul-Nya, niscaya awal kehidupan yang sebenarnya ini akan diisi dengan bersyukur tanpa henti karena diberi kesempatan tinggal di dunia.
Sebaliknya, bila dulu “mabuk dunia” maka akan menyesal tanpa henti mengapa pernah mampir ke dunia.

Sekaranglah saatnya untuk memilih ...




Gambar: http://www.salamdakwah.com

Mutiara Tauhid Renungan #301
PENGANTIN


Para bijak mengatakan, memasuki liang lahat bagaikan orang bangun dari tidur. Seperti apa kira-kira rasanya ya …?


Taat pada Allah membuat ketika “bangun” serasa pengantin …

TAAT PADA EGO, MEMBUAT KETIKA “BANGUN” SERASA PENJAHAT YANG AKAN DIHUKUM PANCUNG



Gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com

Mutiara Tauhid Renungan #300
GAWAT

Di awal kedatangan ke dunia, pada saat lahir, warna jiwa kita putih bersih.
Perjalanan waktu merubah warna jiwa ini.


Bila hari demi hari perilaku kita selaras dengan kehendak-Nya, warna jiwa tidak hanya putih bersih tapi juga mengkilat. Namun bila sebaliknya, warna jiwa bisa berubah jadi abu-abu bahkan hitam!

Wah, bila kita pulang dengan warna yang tidak beda dengan saat kita datang aja udah salah, bagaimana kalo hitam ya … APA NGGA GAWAT?


Gambar : http://cdn.teenink.com/artwork/Jan11/originals/f127953_1296363921.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #299
BERAT JIWA


Salah seorang sahabat agung Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab, pernah mengingatkan kita, “HITUNGLAH DIRIMU SEBELUM DIHITUNG, DAN TIMBANGLAH DIRIMU SEBELUM DITIMBANG”

Berat badan kita boleh jadi sekarang ini sudah ideal, tapi apakah “berat jiwa” juga sudah ideal?
Bila belum, mau nunggu apa lagi …??

AKU ADALAH JIWA
AKULAH YANG AKAN DITIMBANG ITU …



Gambar :http://www.syaarar.com

Mutiara Tauhid Renungan #298
PALING PASTI


Semua manusia pada akhirnya menjadi tua, dan mati.
Menabung untuk kehidupan hari tua dan menabung untuk kehidupan setelah kematian tentunya menjadi suatu keharusan.


Mana yang harus diprioritaskan?

Yang pasti, menabung untuk hari tua BELUM PASTI aku yang bakalan menikmatinya, sedangkan menabung untuk alam kubur PASTI aku yang akan menikmatinya.



Gambar :https://i2.wp.com/gayahidupbaru.com

Mutiara Tauhid Renungan #297
TERBALIK



Normalkah bila memburu rezeki dijadikan nomor satu, sementara memburu amal soleh dijadikan nomor dua?

Normalkah untuk sesuatu yang sudah dijamin pasti akan aku dapatkan ia aku kejar mati-matian, sementara yang tak dijamin akan aku dapatkan ia aku kejar sekenanya?

Allah sudah menjamin rezekiku, bagaimana dengan surga : sudah dijamin-Nya kah aku kelak akan tinggal di sana?



Gambar :www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #296
TAMPIL MENAWAN


Manusia memiliki jiwa dan raga.
Di antara keduanya manakah yang seharusnya dibuat menawan : jiwa ataukah raga?


Bila aku katakan jiwa, apakah jawaban yang kuberikan itu sudah sesuai dengan kenyataannya?
Bila belum, bagaimana jadinya bila dalam keadaan jiwa yang kumel mendadak aku dipanggil-Nya ... ?
Akan beranikah aku menatap-Nya?
Akankah DIA mengajak aku ke surga-Nya?
Lalu kemanakah aku akan pergi, bukankah dunia tempat asalku sudah hancur?

Oh Tuhan, jangankan untuk tinggal di neraka,
MENYEBUT NAMA ITU SAJA SUDAH MEMBUAT AKU TERKAPAR PERIH …



Gambar:www.pixabay.com


Mutiara Tauhid Renungan #295
KESADARAN



“CELUPKAN TANGANMU DI LAUTAN, KEMUDIAN ANGKATLAH.  AIR YANG MENETES JATUH DARI JARIMU ITULAH DUNIA, SEDANGKAN LAUTAN ITULAH AKHIRAT,” demikian Nabi kita yang mulia pernah bersabda.

“Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan..” firman Allah dalam Alqur’an.

Jadi, manakah yang lebih bernilai : kehidupan di alam dunia ataukah kehidupan selepas dari alam dunia?


Gambar :www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #294
SURGA PILIHAN DIRI



Allah menyediakan surga untuk manusia tidak datar, tapi bertingkat tujuh. Adapun perbedaannya terletak pada ‘”kemuliaannya.”

SUDAHKAH KITA MEMILIH MAU TINGGAL DI TINGKAT YANG MANA?

Bila kita memilih tinggal di tingkat tujuh, yaitu bersama dengan Muhammad Rasulullah, para Nabi, orang-orang bijak yang bertakwa, maka ketaatan kita haruslah prima.
Tapi bila kita sudah puas dengan pilihan tingkat satu saja, yaitu bergabung selamanya dengan komunitas para bayi, anak-anak idiot, atau orang gila dari sejak kecil, cukuplah dengan ketaatan seadanya saja.

Masa sih makhluk yang sempurna milihnya bergabung dengan anak2 idiot dan kumpulan orang gila?



Ganbar : http://www.sesawi.net

Mutiara Tauhid Renungan #293
BERKARYA


Biar dia menghujatku, yang penting bukan aku yang menghujatnya ..
Biar dia memfitnahku, yang penting bukan aku yang memfitnahnya ..
Biar dia memakiku, yang penting bukan aku yang memakinya ..
Biar dia membenciku, yang penting bukan aku yang membencinya ..


WALAUPUN KIAMAT BESOK, BENIH AKAN TETAP KUTANAM …



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com

Mutiara Tauhid Renungan # 292
PUNAH



Tsunami meluluh lantakkan Aceh.
Tak terhitung karya terbaik anak bangsa ini yang dibuat dengan perasan otak serta cucuran keringat sirna dalam sekejap dilahap tsunami yang bagaikan raksasa kelaparan ini.

Semoga kejadian ini membuat kita sadar, TIDAK ADA SATUPUN KARYA MANUSIA YANG TAK AKAN PUNAH KECUALI HANYA AMAL SOLEH.




Gambar:http://media.nationalgeographic.co.id

Mutiara Tauhid Renungan #291
PRIHATIN



Manusia adalah makhluk pengembara. Alam dunia ini hanyalah secuil saja dari perjalanan yang harus dilewati. Orang yang mau “mikir” akan menyadari bahwa kenikmatan sejati bagi seorang pengembara tempatnya bukan di perjalanan, melainkan di tujuan. Karena itu hidup prihatin di perjalanan mestinya suatu keharusan.

Bila suatu ketika muncul hasrat ingin melakukan maksiat yang semuanya nikmat itu, tinggalkan saja, tahanlah air liur … bukankah kita sedang prihatin? Begitu juga bila kita mau bergunjing, tahanlah …
Nanti di alam tujuan kita akan menikmati kenikmatan tiada tara yang bedanya bak langit dan bumi dengan kenikmatan yang dapat disajikan oleh dunia.

“KENIKMATAN YANG PALING PUNCAK DI DUNIA, TIADALAH SEUJUNG KUKUNYA KENIKMATAN DI SURGA,” begitulah kata Nabi kita yang mulia.



Gambar:https://kampussamudrailmuhikmah.files.wordpress.com/2015/04/kampus-samudra-ilmu-hikmah4.jpg