Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan # 438
SHALAT YANG DISESALKAN



Rasululah SAW pernah bersabda, “Nanti pada hari kiamat ada orang yang membawa shalatnya ke hadapan Allah. Kemudian shalatnya diterima, dan dilipat2 seperti dilipat2nya pakaian yang kotor dan usang. Lalu shalat itu dibantingkan ke wajahnya!”

Wah, gawat nih … ternyata tidak semua shalat yang kita lakukan bakal diterima oleh Allah!

Mungkinkah kita bisa selagi di dunia ini merasakan apakah di akhirat nanti shalat kita bakal diterima-Nya ataukah dibanting?
Rasanya mungkin.

Bila sudah shalat tapi perilaku tidak juga santun, besar kemungkinan wajah kita bakal bengep. Bukankah salam yang kita sampaikan ke kanan dan ke kiri itu tidak hanya sekedar penutup shalat?

“SESUNGGUHNYA SHALAT MENCEGAH DARI PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR” ( Al Ankabuut 45 )


Gambar:https:https://lh3.googleusercontent.com


Mutiara Tauhid Renungan #437
SHALAT



Manusia mempunyai akal dan kalbu.

Keduanya bisa melakukan sholat, tentunya dengan kualitas yang berbeda.

Bila akal yang shalat, ia sekedar menggugurkan kewajiban
Bila kalbu yang shalat, ia sedang berproses menjadi “indah”

Di tangan kita lah keputusan apakah shalat mau menggunakan akal atau menggunakan kalbu.

KELALAIAN TERBESAR SAAT SHALAT ADALAH MEMBIARKAN AKAL MENGAMBIL ALIH KALBU



Gambar:https://thumb.viva.co.id


Mutiara Tauhid Renungan #436
PUNGGUK MERINDUKAN BULAN


Ingin punya perilaku yang selaras dengan kehendak Tuhan tapi membiarkan kalbu “kosong”?


Itu mah, kata orang tua tempo doeloe, tak beda dengan pungguk merindukan rembulan.

Bila kita ingin bisa ngobrol sama bule, pastilah kita butuh kemampuan berbahasa Inggris kan …

Bila kita ingin bisa berperilaku selaras dengan kehendak-Nya, apa yang kita butuhkan?
Pasti dong kemampuan kalbu ya …

Masih banyak orang yang beranggapan kemampuan kalbu seperti sabar, pasrah, ikhlas, tawakal, bersyukur, dan lain-lainnya itu datang dengan sendirinya. Padahal manalah ada kemampuan yang datang dengan sendirinya.

TANPA BELAJAR, AKAL JONGKOK.
TANPA TAFAKUR, KALBU TIARAP.


Gambar:https://ahbabulcoffee.files.wordpress.com/2016/05/images.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #435
ISI HATI BUKAN ISI OTAK


Sering jadi berita seorang yang ilmu agama Islamnya tinggi tapi melakukan perbuatan tak terpuji. Umat pun mengerinyitkan dahi, koq bisa ya …?

Sebenarnya tak perlu lah heran. Karena ilmu agama bila masih berada di otak, belum turun ke hati, memang tak mampu membuat orang berakhlak mulia. Jauh hari Rasulullah SAW sebenarnya telah memberi petunjuk, “Dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila daging itu baik maka akan baik pula akhlak orang itu. Daging itu adalah hati”


Saatnya menyadari …, akhlak mulia muncul bukan disebabkan karena otak banyak tahu ilmu agama, melainkan karena hati banyak terisi keyakinan yang diajarkan oleh ilmu agama.

PERILAKU BUKANLAH HASIL MENGIMPLEMENTASIKAN ILMU, MELAINKAN PANCARAN     DARI KEYAKINAN YANG TERPATERI DI KALBU



Gambar:https://i2.wp.com

Mutiara Tauhid Renungan #434
SALAH BERJUANG



Benarkah untuk menjadi orang yang bertakwa kita harus berjuang keras mengimplementasikan ilmu agama yang telah kita pelajari menjadi amal soleh?

Saatnya menyadari …, amal soleh bukanlah dihasilkan dari perjuangan mengimplementasikan ilmu agama. Amal soleh merupakan implementasi otomatis dari keyakinan yang terpateri di kalbu.

DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL DAGING. BILA DAGING ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PULA AKHLAK ORANG ITU. DAGING ITU ADALAH  KALBU



Gambar:https://i0.wp.com/www.arrisalah.net

Mutiara Tauhid Renungan #433
TANDA KEBERHASILAN


Seseorang dikatakan menguasai ajaran Islam, apakah karena ia banyak tahu mengenai ajaran Islam ataukah karena ia mampu mempraktekkan banyak ajaran Islam?

Saatnya menyadari …, tidak ada satu pun ajaran yang dibuat hanya untuk sebatas tahu saja.

Keberhasilan dalam mempelajari suatu ajaran dicirikan bukan oleh hapalnya, melainkan oleh seberapa mampu ia mempraktekkan ajaran tersebut.



BELAJAR ISLAM TAPI TAK DAPAT MEMPRAKTEKKAN AJARANNYA BERARTI SASARAN BELUM TERCAPAI



Gambar:https://img.okeinfo.net

Mutiara Tauhid Renungan #432
MENISTA TUHAN


Tuhan mengatur segala hal yang akan menimpa kita.

“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan” –Nuh 4

Katakanlah : “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami” –At Taubah 51

Saatnya menyadari …, apakah kita tidak menista Tuhan apabila menggerutu saat datang ketidaknyamanan dari-Nya?



TUHAN MEMANG MENETAPKAN, TETAPI DIA TIDAK KEJAM


Gambar:https://bimbinganislam.com


Mutiara Tauhid Renungan #431
SMS



Kali ini izinkan ya saya berbagi sms yang saya terima dari seorang teman :

Melihat ke atas memperoleh semangat untuk maju,
melihat ke bawah bersyukur atas semua yang ada,
melihat ke samping semangat kebersamaan,
melihat ke belakang sebagai pengalaman berharga,
melihat ke dalam untuk introspeksi,
melihat ke depan untuk menjadi lebih baik.



Gambar:https://blog.malwarebytes.com

Mutiara Tauhid Renungan #430
BERMATA TAPI TAK MELIHAT



Pernahkah menjumpai orang yang sedang asik bergunjing, apa yang terlihat?

Bagi orang yang “bermata”  yang terlihat adanya transfer pahala.
Ya, tak nampak olehnya yang bergunjing itu menggunakan jilbab, ataupun yang bergunjing itu sudah sering kali naik haji.

ORANG YANG TENGGELAM DALAM FAKTA IBARAT KATA PEPATAH “BERMATA TAPI TAK MELIHAT”


Gambar:https://amp.galamedianews.com/media/news/190904184143-ancam.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #429
SETAN SELALU ADA DIMANA-MANA


Apakah ada tempat yang bebas dari setan?

“KEMUDIAN AKU (SETAN) AKAN DATANGI MEREKA DARI MUKA DAN DARI BELAKANG MEREKA, DARI KANAN DAN KIRI MEREKA”  Al A’raaf 17

Saatnya menyadari …,  dimana pun kita berpijak selalu saja ada setan yang mengintai.


Ketika kita sedang berperan sebagai dermawan, akan ada orang yang berperan sebagai setan yang mengatakan perbuatan kita itu riya’

Begitu pula ketika kita sedang berperan sebagai penyampai kebenaran, akan selalu ada orang yang berperan sebagai setan yang mengatakan perbuatan kita itu sesat.

TAK MASALAH BILA PERAN BAIK DAN PERAN SETAN SELALU BERGANDENGAN, YANG PENTING JANGAN KITA YANG BERPERAN SEBAGAI SETAN

  
Gambar:https://anefariz.com/wp-content/uploads/2017/07/eye.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #428
KARYA UNTUK ALAM KEABADIAN



Alam abadi itu ghaib, karena itu perlu “karya ghaib” pula untuk meraihnya.

Inilah dia :

Biar dia menzalimiku, yang penting bukan aku yang menzaliminya ..
Biar dia menuduh aku sesat, yang penting bukan aku yang menuduhnya ..
Biar dia menghakimiku tidak konsisten mentaati Alqur’an, yang penting bukan aku yang menghakiminya .. ..
Biar dia memakiku, yang penting bukan aku yang memakinya ..
Biar dia membenciku, yang penting bukan aku yang membencinya ..

WALAUPUN MALAM TERASA PANJANG,
NAMUN SANG FAJAR AKAN TERBIT JUGA

WALAUPUN USIA KITA PANJANG,  
LIANG KUBUR AKAN KITA MASUKI JUGA



Gambar:https://cdn.utakatikotak.com/20190710/20190710_105825menyiram_tanaman.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #427
TRUST



Unsur utama keberhasilan dalam belajar adalah percaya pada guru.

Bila Anda meragukan seorang guru, apapun alasannya, itu pertanda saatnya Anda mencari pengganti guru lain.

HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JIKA DATANG KEPADAMU ORANG FASIK MEMBAWA SUATU BERITA, MAKA PERIKSALAH DENGAN TELITI AGAR KAMU TIDAK MENIMPAKAN SUATU MUSIBAH KEPADA SUATU KAUM TANPA MENGETAHUI KEADAANNYA YANG MENYEBABKAN KAMU MENYESAL ATAS PERBUATANMU ITU. Al Hujuraat : 6


Gambar:https://www.incimages.com/uploaded_files/image/970x450/getty_943018312_402276.jpg