Recent Posts

Mutiara Tauhid Renungan #326
PERLAWANAN



Engkau menyuruhku agar harta aku perlakukan sebagai ujian
eh …,  aku malahan menjadikannya sebagai tujuan

Engkau menyuruhku agar aku menjadi makhluk yang paling bertakwa
eh …, aku malahan berlomba menjadi yang paling kuasa, paling kaya

Engkau menyuruhku klarifikasi agar tidak timbul fitnah
eh …, aku malahan lebih senang menghakimi, menghujat

Engkau menyuruhku agar aku jangan suka berprasangka buruk
eh …., aku malahan menjadikannya sebagai hobi

Engkau menyuruhku agar aku ingat kasih sayangMu di waktu duduk, berjalan, dan berbaring
eh …, aku malahan ingat ketetapan2Mu yang membuat hatiku sesak

Ampuuun Gustiii …..

“BARANGSIAPA MENTAATI ALLAH DAN RASUL~NYA, MEREKA ITU AKAN BERSAMA2 DENGAN ORANG2 YANG DIANUGERAHI NIKMAT”




Gambar:https://www.salisma.com/wp-content/uploads/2015/08/muka-490x400.jpg


Mutiara Tauhid Renungan #325
JAHILIYAH



Begitu kita mendengar kata “jahiliyah,” langsung terbayang zaman dahulu kala dimana ketika itu perilaku manusia sangatlah buruk.

Zaman jahiliyah seolah-olah hanya kejadian di masa lalu yang tak akan terulang lagi. Benarkah?

Orang yang telah menyadari bahwa perilaku itu hanyalah cerminan dari kesadaran yang tertanam di dalam kalbu akan paham, “BILA KESADARAN MEMUDAR ZAMAN JAHILIYAH AKAN HIDUP KEMBALI

Ibarat pelita, kesadaran pun dapat padam
Pelita padam karena kehabisan minyak
KESADARAN PADAM KARENA KEHABISAN WAKTU UNTUK BERTAFAKUR


Gambar:https://pwmu.co/wp-content/uploads/2018/03/Ilustrasi-Kondisi-Masyarakat-Arab-sebelum-Islam-pada-zaman-Jahiliyyah2.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #324
MELEBIHI MALIN KUNDANG


Aku adalah sang jiwa.
Untuk bisa berada di dunia aku dititipkan-Nya pada pasangan ayah dan ibu. “Orang tua” sejatiku bukanlah mereka, tetapi DIA yang menciptakanku.


Aku taati maunya ayah dan ibuku karena aku takut sekali menjadi anak durhaka. Sementara, aku seringkali tidak mentaati maunya “orang tuaku.” Padahal durhaka pada ayah dan ibu saja sudah terbayang apa akibatnya, apalagi bila durhaka pada “orang tua” ...

“SESUNGGUHNYA KEBANYAKAN DARI MANUSIA ITU ‘TERTIDUR’ DAN BARU TERBANGUN KETIKA IA MATI,”  apakah ini yang dimaksud oleh Nabiku yang mulia empat belas abad yang silam?


Gambar :http://assets-cdn.ekantipur.com/images


Mutiara Tauhid Renungan #323
MAKHLUK PENYEMPURNA


Rumah semegah dan seindah apapun belumlah dikatakan sempurna bila belum ada isinya.
Apakah surga dan neraka sudah sempurna? Tentu saja belum, mereka menunggu disempurnakan oleh manusia


Mereka yang semasa hidupnya taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah yang akan “menyempurnakan” surga;
sedangkan mereka yang membangkang pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah yang akan “menyempurnakan” neraka.

Andaikan usiaku berakhir hari ini, manakah yang akan aku sempurnakan?

MENYESAL BELAKANGAN SUDAH KUNO, MENYESAL HARUSLAH DI DEPAN!



Gambar:https://static2.sewarga.com/wp-content/uploads/2017/06/Surga-dan-Neraka.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #322
JAUH PANGGANG DARI API


Einstein yang konon adalah manusia paling cerdas sedunia pernah tidak naik kelas. Koq bisa?

Tak usah heran …, setinggi apapun IQ seseorang bila diuji dengan perkalian 17 x 17 pasti gagal bila ia tidak mempunyai kemampuan di bidang kali-kalian.

Manusia yang konon adalah makhluk Allah yang paling sempurna, tidaklah dijamin akan selalu lulus dari ujian-ujianNya. Koq demikian?

Tak usah heran …, yang namanya ujian itu lulus atau tidaknya bukan ditentukan oleh sempurna atau tidaknya, melainkan oleh ada tidaknya kemampuan. Tanpa memiliki kemampuan yang sesuai dengan soal ujiannya, ya selalu jadi pecundang.


Coba bayangkan,  kita akan diuji kali-kalian tapi kita mati-matian belajar agar bisa sabar, ikhlas, pasrah. Bisakah kita lulus?
Begitu juga kita akan diuji Allah, walaupun kita mati-matian belajar sampai tingkat doktor di universitas paling bergengsi, bisakah kita lulus?  Inilah yang dikatakan orang bijak tempo doeloe, “JAUH PANGGANG DARI API”


Gambar:http://pojok.lovelybogor.com/wp-content/uploads/2018/02/fire-2886715_640-300x200.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #321
UJIAN ALLAH



Satu-satunya ujian yang soalnya tak pernah berubah dari sejak zaman dahulu kala sampai dengan sekarang hanyalah ujian Allah.

TAPI ANEHNYA WALAUPUN SOALNYA SUDAH DIBOCORKAN, KOQ LEBIH BANYAK YANG GAGALNYA YA …?

Tak usah heran …, selama kemampuannya tak ada, walaupun soalnya dibocorkan, tetap saja sangat sulit untuk bisa lulus!

MENGATASI UJIAN ALLAH BUTUH KEMAMPUAN KALBU, BUKANNYA KEMAMPUAN AKAL



Gambar:https://www.jobtestprep.com/media/26738/xfirefighter-written-test-main.jpg.pagespeed.ic.mtt8IYC7yl.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #320
KETAATAN ADALAH SEGALANYA



Bumi diciptakan Allah untuk berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari.
Apa yang terjadi bila bumi membangkang, sehari saja ia mogok berputar pada porosnya?  Ya, pastilah keharmonisan alam raya akan terganggu.

Begitu juga, apa jadinya bila manusia yang diciptakan-Nya untuk berperilaku selaras dengan kehendak-Nya tapi ia berperilaku semaunya sendiri?

Pastilah tak jauh berbeda seperti yang dialami alam raya, ia pasti akan kehilangan ketenteraman dan kelak akan kehilangan surga!

PADA HARI KETIKA MUKA MEREKA DIBOLAK-BALIKKAN DALAM NERAKA, MEREKA BERKATA, “ALANGKAH BAIKNYA ANDAIKATA DAHULU KAMI TAAT KEPADA ALLAH DAN TAAT PULA KEPADA RASUL”


Gambar:https://www.scienceabc.com/wp-content/uploads/2015/09/Solar-System.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #319
JEMBATAN SHIRAATHAL MUSTAQIIM


Seorang ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali wafat th. 1111, menuturkan bahwa semua manusia akan melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat neraka.


Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung.

Namun di samping itu, ada juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang.

Perbedaan cara menyeberangi jembatan ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selagi mampir di dunia, apakah ia selalu taat ataukah ia sering membangkang pada aturan Tuhan dan Rasul-Nya.


Marilah kita “berlatih” lebih giat lagi agar kelak kaki kita mampu berlari secepat kilat!


Gambar  :data:image/jpeg;base64

Mutiara Tauhid Renungan #318
PELECEHAN



Mungkinkah selama hidup di dunia kita tak mengalami rasa galau alias bahagia selamanya …?

Bila bahagia selamanya tak mungkin, lalu apa gunanya Alqur’an sebagai pedoman

Walaupun surga sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya, mungkinkah kita dapat berupaya untuk meraihnya …?

Bila meraih surga tak dapat kita upayakan, lalu apa gunanya alqur’an sebagai pedoman

BILA BAHAGIA SELAMANYA DIANGGAP TAK MUNGKIN
BILA SURGA DIANGGAP TAK DAPAT DIUPAYAKAN
APAKAH ITU TIDAK BERARTI PELECEHAN TERHADAP ALQUR’AN?



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRBL_m3fFQxYfLBHMTTIVM88J2-fmwdh7JX-_cPHrJenIESZ5dIkg

Mutiara Tauhid Renungan #317
INSAN KAMIL



Menyadari adanya kekeliruan diri, merupakan langkah awal menjadi insan kamil.

Perlu dirasakan kembali sabda Nabi kita yang mulia empat belas abad yang silam : “Barangsiapa yang amal solehnya hari ini sama dengan hari kemarin ia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang amal solehnya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, ia adalah orang yang celaka!”

BILA AKU SANGGUP TERTAWA TERPINGKAL-PINGKAL PADAHAL TAMPILANKU LEBIH BURUK DARI KEMARIN, BOLEH JADI INI SALAH SATU PERTANDA AKU TELAH KEHILANGAN HATI …



Gambar:https://i2.wp.com/www.hisbah.net/wp-content/uploads/2016/01/intropeksi-Diri.jpg?fit=700%2C350&ssl=1


Mutiara Tauhid Renungan #316
PAMRIH TERSEMBUNYI



Ketika aku menyapa, aku mengharapkan dia membalas
Ketika aku tersenyum, aku mengharapkan diapun membalas tersenyum
Ketika aku menyampaikan kebenaran, aku mengharapkan dia menerima

Aku sebel bila perlakuan santunku dibalas dengan cuek.
Ada apa dengan diri ini, bukankah malaikat Raqib telah mencatat dan tak akan mengurangi atau menambahnya bila orang itu tak membalas dengan santun juga?

“KEINGINAN AGAR KEISTIMEWAANMU DIKETAHUI ORANG, ADALAH BUKTI TIDAK ADANYA KEJUJURAN DALAM KEHAMBAANMU” (Ibn ‘Atha’illah)



Gambar:https://2.bp.blogspot.com/-sDnSkQJnN1I/WeCI8KiJMFI/AAAAAAAAMoQ/_qnDv8-a0hoT2RvJ3GGTuKosq42bpDyfwCLcBGAs/s1600/22500837_216883295516049_1686301327_n.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #315
PECAH KONGSI



Kita mempunyai akal dan kalbu.

Akal kita sudah sangat meyakini DIA pastilah Maha Pengasih Maha Penyayang, bagaimana dengan kalbu kita? Apakah mereka kompak seiya sekata, jangan-jangan tanpa sepengetahuan kita mereka pecah kongsi!

BILA KALBU SERING MERONTA LANTARAN PENGATURAN-NYA, APAPUN ALASANNYA, HAL INI SUDAH CUKUP MEMBUKTIKAN TERNYATA SI KALBU INI MASIH MERAGUKAN KASIH SAYANG-NYA!

Lalu apa artinya ucapan lirih bismillahirrahmanirrahiiim ....?



Gambar :sosyalmedya