Mutiara Tauhid Renungan #151
TABAYUN

Ada pemilihan pemimpin.

Umat Islam pun terbelah dua, ada yang mengedepankan kapabilitas ada pula yang mengedepankan harus Muslim.

“Bapak kafir! Bapak munafik! Pokoknya bapak itu naudzu billah min dzalik! Mengaku Islam koq milih pemimpin yang non Muslim!”

“Bukankah bapak bergama Islam, tapi mengapa bapak memilih pemimpin yang non Muslim? Bukankah Alqur’an tegas melarang janganlah memilih pemimpin yang non Muslim? Mohon penjelasannya.”

Saatnya menyadari …, ungkapan rasa yang pertama masuknya kategori menista sedangkan yang kedua adalah tabayun.


TABAYUN ADALAH AJARAN ISLAM, SEDANGKAN MENISTA AJARAN NON ISLAM







Gambar:www.shutterstock.com


13 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #150
ISLAM





Islam adalah suatu agama buatan Tuhan tentunya kita sudah tahu.

Tapi sudah tahukah bahwa Islam itu merupakan kumpulan dari ajaran2 yang mengajarkan agar yang paling berharga bagi diri kita tidak hilang?

Memangnya yang paling berharga bagi diri kita itu apa sih ..?

Wah kalau hari gini masih belum juga sadar apa sebenarnya yang paling berharga bagi diri kita ya repot. Boro-boro akan berterima kasih Dia memberi kita agama Islam, bisa2 kita malahan ‘marah’ sama DIA koq banyak bangeet sih kewajiban yang harus kita lakukan!

BURUK SANGKA PADA ALLAH ADALAH SUATU KEJAHATAN







Gambar:www.iwanttobemuslim.com






12 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #149
BERZIKIR


“INGATLAH, HANYA DENGAN MENGINGAT ALLAH HATI MENJADI TENTERAM”  AR RA’D : 28

Tapi koq kenapa ya walaupun bibir sudah basah menyebut-nyebut Allah hati masih galau juga?
Pastilah ada salah prosedur nih …

Saatnya menyadari …, yang “dibasahkan” dengan mengingat Allah bukanlah bibir, melainkan hati!

MANUSIA “TERHUBUNG” DENGAN ALLAH BUKAN MELALUI BIBIRNYA, MELAINKAN MELALUI HATINYA







Gambar:www.shutterstock

12 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #148
TABIR GAIB

“SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG  BERIMAN ITU ADALAH MEREKA YANG APABILA DISEBUT ALLAH GEMETARLAH HATI MEREKA …” AL ANFAAL : 2

Mengapa setelah menyebut Allah kalbu koq datar saja ya tidak merasakan apa-apa?

Saatnya menyadari …., bila telah menyebut nama-Nya berulang-ulang tapi  “terhubung” tak kesampaian juga, jangan-jangan karena kita lalai menipiskan “tabir” yang menghalangi antara kita dengan DIA Sang Maha Pencipta.


 ANTARA MANUSIA DENGAN SANG MAHA PENCIPTA DIHALANGI OLEH “TABIR GAIB” YANG MERUPAKAN PENJELMAAN DARI NAFSU BURUK MANUSIA






Gambar:www.pixabay.com

12 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #147
TERHUBUNG


Manusia “terhubung” dengan Sang Maha Pencipta bukan melalui akalnya, melainkan melalui kalbunya.

Sadari …, saat mengingat~Nya tapi kalbu tidak merasakan apa-apa alias datar saja,  saat itu sebenarnya yang kita gunakan adalah akal.

AWAL KEGAGALAN DARI “TERHUBUNG” DENGAN ALLAH KARENA TERTIPU MENYANGKA MENGGUNAKAN KALBU PADAHAL YANG DIGUNAKANNYA ADALAH AKAL






Gambar:www.pixabay.com

8 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #146
MENDEKATKAN DIRI KEPADA-NYA


Apakah berdosa bila kita tidak mendekatkan diri pada Allah?
Mari kita tengok Alqur’an.

“HAI ORANG2 YANG BERIMAN, BERTAKWALAH KEPADA ALLAH DAN CARILAH JALAN YANG MENDEKATKAN DIRI KEPADA~NYA …”  AL MAIDAH : 35

Nah, berdosakah bila disuruh~Nya kita mendekatkan diri kepada~Nya tapi kita lebih memilih mendekatkan diri pada uang?

“INGATLAH ALLAH DI WAKTU BERDIRI, DI WAKTU DUDUK, DAN DI WAKTU BERBARING…” AN NISAA’ : 103






Gambar:www.pixabay.com

6 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #145
TABIR

Allah tak pernah menutup pintu-Nya.
Luar biasanya lagi kunci pintu itu DIA serahkan pada setiap manusia!


“Nafsu buruk” adalah kunci penutup pintu-Nya,
nafsu yang tenang” adalah kunci pembukanya.

NIKMAT YANG PALING AGUNG ADALAH KE LUAR DARI HAWA NAFSU, KARENA IA ADALAH TABIR YANG PALING BESAR ANTARA SESEORANG DENGAN ALLAH ( ABU BAKAR ATH ATHAMASTANI w. 951 M )






Gambar:www.pixabay.com

6 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #144
KEBERHASILAN


Ada dua sudut pandang dalam melihat terjadinya suatu keberhasilan.

Yang pertama, keberhasilan terjadi karena kehebatan kita.
Yang kedua, keberhasilan terjadi bukan karena kehebatan kita tapi semata-mata kebetulan saja keinginan kita sama dengan keinginan Tuhan.

Bila berpegang pada yang pertama, maka tanpa disadari akan dituntunnya kita pada takabur.
Sedangkan bila berpegang pada yang kedua, dituntunnya kita pada bersyukur.

Saatnya menyadari …, berpegang pada “kesalahan” berujung pada kerugian sedangkan berpegang pada “kebenaran” berujung pada ketakwaan.

KEBENARAN HAKIKI ADALAH ALQUR’AN DAN SUNNAH RASUL







Gambar:www.pixabay.com



6 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #143
BERSERAH DIRI


Berserah diri adalah suatu keahlian menghanyutkan jiwa secara total menuruti kehendak-Nya tanpa ada sedikitpun perlawanan.

Apakah benar kata sebagian orang hanya para Nabi saja yang mampu berserah diri?
Tentu saja tidak benar.

Berserah diri adalah ajaran Allah bagi seluruh manusia, tentunya pasti bisa dilakukan oleh setiap orang. Tak mungkinlah Allah mengajarkan suatu ajaran bila tidak bisa kita lakukan.

Bagaimana tahunya kalau kita sudah bisa berserah diri?
Jawabannya tak terlalu sulit.
Bila kita mampu tersenyum dengan kualitas yang sama baiknya pada kelebihan maupun kekurangan, nah itulah yang jadi salah satu cirinya.

ORANG YANG BERSERAH DIRI PASTI DIPELIHARA, DIJAMIN REZEKINYA, DAN DILAPANGKAN JIWANYA OLEH ALLAH SANG MAHA SEGALANYA







Gambar:www.unsplash.com

11 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #142
KIAI JARKONI

Ilmu agama itu tidaklah sama seperti “ilmu sekolahan”

“Ilmu sekolahan” yang dihargai seberapa banyak tahunya, sedangkan di agama yang dihargai bukan seberapa banyak tahunya melainkan seberapa banyak prakteknya.

Orang yang ahli mengajarkan agama tidaklah jaminan ia juga ahli menjalani apa yang diajarkannya itu.

Teman saya asal Gombong Jatim bilang, di Indonesia ini banyaknya Kiai Jarkoni. Yaitu kiai yang “bisa ngajari tapi ngga bisa ngelakoni.” Dia ngajarin sabar, sementara sendirinya amat mudah tersinggung. Dia ngajarin santun, sementara bibirnya gampang melantunkan hujatan.



Apa iya ya …..

TUHAN TAK SUKA PADA ORANG YANG BERILMU TAPI PERILAKUNYA SEOLAH-OLAH IA TAK BERILMU







Gambar:www.shutterstock.com


19 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #141
MENYAMBUT TAMU AGUNG

Pak Jokowi sebagai presiden tak pernah diizinkan berjalan sendiri, kemana pun ia blusukan harus ditemani oleh paspampres.

Demikian juga dengan musibah, kemanapun ia berkunjung tak diizinkan Allah berjalan sendiri. Ia harus selalu ditemani oleh hikmah.

Bila suatu ketika kita kedatangan musibah tapi yang kita sambut bukan hikmahnya, ini tak beda seperti kita kedatangan pak Jokowi tapi yang kita sambut dengan meriah adalah paspampresnya.




 Jangan salah menyambut ah …

KETIKA ALLAH MENGIRIM KETIDAKNYAMANAN, SEBENARNYA DIA BUKAN MAU MENYIKSA TAPI DIA MAU MEMBERI HIKMAH







Gambar:www.dreamstime.com



16 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #140
SIANG DAN MALAM


Mengapa harus ada siang, mengapa tidak malam saja terus menerus?

Mengapa pula harus ada malam, mengapa tidak siang saja terus menerus?

Apapun analisanya, akhirnya akan bermuara pada kenyataan bahwa manusia memang butuh siang dan malam bergantian.

Begitu juga apapun analisanya, manusia memang butuh nyaman dan tidak nyaman layaknya butuh siang dan malam.

Saatnya menyadari …, tak ada alasan untuk tak bersyukur atas ketidaknyamanan.

BILA JIWA TAK DITEMPA DENGAN KETIDAK-NYAMANAN, MANALAH MUNGKIN TERCIPTA JIWA YANG INDAH







Gambar:www.pixabay.com

11 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #139
DIA YANG TAK PERNAH TIDUR



Allah tak pernah tidur ataupun tertidur.

DIA selalu terjaga mengurus anak-anakNya yang saat ini sedang berkelana di dunia.

Begitu hati-hatinya DIA menjaga anak-anakNya itu sehingga DIA tak mau melepaskan jubah asmaul husna-Nya walaupun hanya sedetik.

Sayang ya, walaupun sudah begitu all out masih saja ada anak-Nya yang bengal.

Semoga itu bukan aku, cukuplah Abu Lahab dan Abu Jahal saja.

KETIKA ALLAH MENETAPKAN SUATU KEPUTUSAN, DIA TAK PERNAH SEKALIPUN MENANGGALKAN JUBAH KASIH SAYANG-NYA







Gambar:All-free-download.com

25 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #138
LAYAKNYA AIR DAN MINYAK


Jiwa dan raga sejatinya dari sananya terpisah layaknya air dan minyak dalam bejana.

Walaupun jiwa dan raga terpisah, tapi mereka dapat saling mempengaruhi.
Raga yang sakit dapat mempengaruhi jiwa ikutan jadi sakit, begitu juga sebaliknya.

Tugas kita lah, sebagai pemilik keduanya, untuk mencegah jangan sampai sakit pada raga menjalar ke jiwa.

Bagaimana caranya?
Cukup berserah diri saja, menyerahkan soal kesembuhan dari sakit yang diderita hanya kepada-Nya ….

KETIKA CINTA PADA KESEMBUHAN MENGALAHKAN CINTA PADA YANG MENYEMBUHKAN, AWAL DARI SAKIT JIWA PUN DIMULAI!





Gambar:www.pixabay.com


13 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #137
KEINGINAN LIAR


Bila jiwa masih gelap, keinginan pastilah liar.

Berobat karena ingin sembuh, bekerja karena ingin kaya adalah segelintir contoh dari keinginan liar.

Betapa tidak liar,
sudah berada dalam genggamanNya koq diinginkan!

APAPUN YANG SUDAH BERADA DALAM GENGGAMAN SANG MAHA KUASA, TAK PERLU LAGI DIINGINKAN






Gambar:www.pixabay.com

19 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #136
PALING KAYA

Orang yang paling kaya bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan mereka yang paling sedikit keinginannya.

Yuk kita berlomba menjadi orang yang paling kaya …,
sang juara akan mendapat kebahagiaan sementara sang pecundang akan mendapat kegalauan.


CIKAL BAKAL KEGALAUAN ADALAH KEINGINAN







Gambar:www.pixabay.com

16 komentar: