Mutiara Tauhid Renungan #401
TABIR



Allah tak pernah menutup pintu-Nya.
Luar biasanya lagi kunci pintu itu DIA serahkan pada setiap manusia!

“Nafsu buruk” adalah kunci penutup pintu-Nya,
“nafsu yang tenang” adalah kunci pembukanya.

NIKMAT YANG PALING AGUNG ADALAH KE LUAR DARI HAWA NAFSU, KARENA IA ADALAH TABIR YANG PALING BESAR ANTARA SESEORANG DENGAN ALLAH ( ABU BAKAR ATH ATHAMASTANI w. 951 M )



Gambar:https://3.bp.blogspot.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #400
KEBERHASILAN



Ada dua sudut pandang dalam melihat terjadinya suatu keberhasilan.

Yang pertama, keberhasilan terjadi karena kehebatan kita.
Yang kedua, keberhasilan terjadi bukan karena kehebatan kita tapi semata-mata kebetulan saja keinginan kita sama dengan keinginan Tuhan.

Bila berpegang pada yang pertama, maka tanpa disadari akan dituntunnya kita pada takabur.
Sedangkan bila berpegang pada yang kedua, dituntunnya kita pada bersyukur.

Saatnya menyadari …, berpegang pada “kesalahan” berujung pada kerugian sedangkan berpegang pada “kebenaran” berujung pada ketakwaan.

KEBENARAN HAKIKI ADALAH ALQUR’AN DAN SUNNAH RASUL



Gambar:https://www.wowkeren.com/images/news/00131077.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #399
BERSERAH DIRI



Berserah diri adalah suatu keahlian menghanyutkan jiwa secara total menuruti kehendak-Nya tanpa ada sedikitpun perlawanan.

Apakah benar kata sebagian orang hanya para Nabi saja yang mampu berserah diri?
Tentu saja tidak benar.

Berserah diri adalah ajaran Allah bagi seluruh manusia, tentunya pasti bisa dilakukan oleh setiap orang. Tak mungkinlah Allah mengajarkan suatu ajaran bila tidak bisa kita lakukan.

Bagaimana tahunya kalau kita sudah bisa berserah diri?
Jawabannya tak terlalu sulit.
Bila kita mampu tersenyum dengan kualitas yang sama baiknya pada kelebihan maupun kekurangan, nah itulah yang jadi salah satu cirinya.

ORANG YANG BERSERAH DIRI PASTI DIPELIHARA, DIJAMIN REZEKINYA, DAN DILAPANGKAN JIWANYA OLEH ALLAH SANG MAHA SEGALANYA


Gambar:https://pbs.twimg.com/profile_images/378800000513547505/30ade6025e79e62ba8d01eab9efa01ab.jpeg


2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #398
KIAI JARKONI


Ilmu agama itu tidaklah sama seperti “ilmu sekolahan”

“Ilmu sekolahan” yang dihargai seberapa banyak tahunya, sedangkan di agama yang dihargai bukan seberapa banyak tahunya melainkan seberapa banyak prakteknya.

Orang yang ahli mengajarkan agama tidaklah jaminan ia juga ahli menjalani apa yang diajarkannya itu. 



Teman saya asal Gombong Jatim bilang, di Indonesia ini banyaknya Kiai Jarkoni. Yaitu kiai yang “bisa ngajari tapi ngga bisa ngelakoni.” Dia ngajarin sabar, sementara sendirinya amat mudah tersinggung. Dia ngajarin santun, sementara bibirnya gampang melantunkan hujatan.

Apa iya ya …..

TUHAN TAK SUKA PADA ORANG YANG BERILMU TAPI PERILAKUNYA SEOLAH-OLAH IA TAK BERILMU


Gambar:www.shutterstock.com

1 komentar: