Mutiara Tauhid Renungan #362
MUTIARA YANG HILANG


Tidak ada manusia yang ingin dihujat, semua manusia inginnya dipuji. Tapi benarkah keinginan seperti itu?


Islam melarang memamerkan amal soleh yang telah kita lakukan apabila terkandung niat ingin mendapatkan pujian. Sebagai hukumannya pun jelas, yaitu pahala yang sudah dicatat oleh malaikat Roqib dihapus.
Wah, kalau pahala dianulir lalu bagaimana bisa masuk ke surga?

Mungkin itulah sebabnya, saking berbahayanya Nabi kita yang mulia mengingatkan, “RIYA’ ITU SYIRIK KECIL”

“TAKUTLAH KALIAN PADA PUJIAN, SESUNGGUHNYA PUJIAN ITU SUATU PENYEMBELIHAN” ( Muhammad Rasulullah SAW )


Gambar:https://cdn-asset.hipwee.com/wp-content/uploads/2016/09/hipwee-1111-750x422.jpg

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #361
BISA ULAR


Siapakah manusia yang tidak butuh harta?
Tidak ada!

Benarkah manfaat harta sebegitu besarnya sehingga demi yang satu ini kadang-kadang orang tega saling bunuh-bunuhan?

Sebenarnya harta itu bagaikan bisa ular, dapat bermanfaat tapi sekaligus dapat juga mematikan.

Ilustrasi ular kobra


“KEBINASAAN UMATKU ADA DI DALAM DUA HAL, YAITU MENINGGALKAN ILMU DAN MENGUMPULKAN HARTA,” demikian pernah disampaikan oleh Nabi kita yang mulia 14 abad silam.


Gambar:https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #360
HASRAT INGIN DIMULIAKAN



Semua manusia punya hasrat ingin dimuliakan, dan juga ingin diagungkan. Wajarkah?

Sebagai makhluk yang memang mau diuji tentu saja wajar, tapi bagaimana sebagai makhluk yang lemah?

Inilah jawaban Tuhan :

“KEMULIAAN ITU ADALAH GAUN~KU, DAN KEAGUNGAN ITU ADALAH JUBAH~KU; BARANGSIAPA YANG MEMAKAI GAUN DAN JUBAH~KU ITU, AKAN KULEMPARKAN IA KE DALAM API NERAKA!”

Nampaknya kita harus rela mengucapkan selamat tinggal pada kemuliaan dan selamat tinggal pada keagungan.
Sebagai gantinya kita kedepankan sikap tawadhu, qanaah, dan waro’



Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2436850.jpg



0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #359
MENGGESER LETAK KEPUASAN


Rasa puas muncul setelah kita melakukan suatu action.

Misalnya saja, kita merasa puas setelah melakukan perbuatan bergunjing.
Ataupun kita merasa puas setelah melakukan perbuatan melampiaskan nafsu.

Mengapa tidak kita geser saja letak kepuasan ini?


Kita tidak lagi puas setelah bergunjing, tapi kita puas setelah menang membungkam mulut yang mau bergunjing….
Begitu juga kita puas bukannya setelah melampiaskan emosi, tetapi setelah berhasil meminggirkan emosi.

Mestinya bisa kan ya

JAGOAN ITU BUKAN YANG JAGO MARAH, MONYET JUGA BISA



Gambar:http://mediacerita.com

1 komentar: