Mutiara Tauhid Renungan #387
KAYA TANPA HARTA


Mungkinkah kita bisa kaya tanpa harta?


Jawabannya sangat mungkin, asalkan kita punya keahlian tersenyum dengan kualitas yang sama manisnya pada kelebihan maupun kekurangan.

TAK SEMUA ORANG BISA JADI ORANG KAYA,
TAPI SEMUA ORANG BISA KAYA TANPA HARTA


Gambar:https://bundafuriza.files.wordpress.com/2012/04/miskin-bahagia-2.jpg

2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #386
BIJAK

Tak patut bersedih hati kecuali karena sesuatu yang akan mencelakakan kita esok ( di akhirat ),
dan tak patut pula bersenang hati kecuali karena sesuatu yang akan menyenangkan kita di alam keabadian nanti …


DUNIA HANYALAH PANGGUNG SENDA GURAU BELAKA,  AKHIRAT LAH TEMPAT YANG SEBENARNYA




Gambar:data:image/jpeg;base64

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #385
DANAU ATAU CANGKIR


Ambilah sesendok garam, lalu tuangkan ke dalam danau. Apakah rasa air danau itu berubah?


Sekarang, tuangkan sesendok garam pada secangkir air. Apakah rasa air di dalam cangkir itu berubah?

Begitulah, JIWA YANG LAPANG BAGAIKAN DANAU, SEDANGKAN JIWA YANG SEMPIT BAGAIKAN CANGKIR.”

Maukah memiliki jiwa yang bagaikan danau?
Bisa koq, perkaya saja kesadaran.



Gambar:https://cdn.pixabay.com/photo/2015/09/02/13/22/coffee-919027_960_720.jpg


1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #384
BERSERAH DIRI


Bila badai menerjang bagaimana caranya supaya dapat tetap berdiri kokoh?
Jawabannya sederhana, pegangan!
Berpeganglah pada suatu yang kokoh.


 Berserah diri adalah pegangan yang terkokoh.

Orang yang berserah diri pada Allah dijamin tidak akan tumbang, sehebat apapun  badai menggila ia tidak akan ikutan gila!

 “BARANGSIAPA YANG MENYERAHKAN DIRINYA KEPADA ALLAH SEDANGKAN DIA ORANG YANG BERBUAT KEBAIKAN, MAKA SESUNGUHNYA IA TELAH  BERPEGANG PADA BUHUL TALI YANG KOKOH”  ( LUKMAN 22 )



Gambar:https://khotbahjumat.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #383
TAK KENAL MERUGI



Ajaran agama Islam bila diikuti secara kafah tanpa tercampur dengan ajaran lainnya membuat hidup ini selalu indah.

Betapa tidak. Dengan kacamata Islam, segala yang menimpa diri kita hanya ada dua rasa, yaitu wajar atau menguntungkan.

Masa sih dengan menggunakan ajaran Islam tidak ada kejadian menimpa yang akan terasa merugikan?

Memang, tanpa tafakur ajaran agama akan sulit dinikmati.

KETIKA SEMUA TERASA WAJAR, APALAGI BILA MENGUNTUNGKAN, HIDUP SELALU INDAH



Gambar:http://www.kabarmuslimah.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #382
ISLAM


Mengapa galau?
Apapun alasannya, intinya adalah karena terperangkap masuk ruangan kehidupan yang gelap.

Bagaimana supaya galau itu menghilang?
Gampang, hidupkan saja saklar lampu ruangan itu.

Agama Islam ibarat kumpulan saklar lampu yang membuat “terang” persoalan2 kehidupan


Bila semua persoalan2 kehidupan sudah “terang” tentu saja kebahagiaan dunia akhirat dapat dicapai.


Gambar:http://www.konfrontasi.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #381
TAHU DIRI


Bila keinginanku terwujud menjadi kenyataan, hal itu bukan karena kehebatanku tetapi kebetulan saja keinginan Allah sejalan dengan keinginanku.
Alhamdulillah ...


SAMPAI KAPANPUN MANUSIA HANYA BISA IKHTIAR, DAN SAMPAI KAPANPUN HASIL ADALAH KARYA ALLAH SWT


  
Gambar:https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/sujud-bersyukur-2zrbncte3u8oucqcofx3pc.jpg

2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #380
MASALAH JADI TAK MASALAH


Mengapa kita galau?
Pastilah karena ada masalah yang mengusik kalbu!

Begitulah karakteristik kalbu, bila dia merasa kedatangan masalah maka tanpa dapat dicegah dia langsung mengkerut menjadi galau.
Namun bila dia merasa segala yang dialaminya wajar (apalagi bila menguntungkan), dia tak pernah mengkerut alias rasa galau tak pernah bisa singgah.

Jadi untuk terbebas dari rasa galau mudah saja,
yaitu jangan biarkan kalbu merasa adanya perlakuan tak wajar menimpanya.

Memangnya bisa?

Ketika akal, kalbu, dan Alqur’an melebur dalam tafakur, maka segala kejadian pahit yang dialami akan selalu terasa wajar ( bahkan seringkali menguntungkan! )



DENGAN BERTAFAKUR, MASALAH AKAN MENJADI TAK MASALAH




Gambar:https://maulidamulyarahmawati.files.wordpress.com/2011/03/merenung.jpg



1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #379
HARUS DIBUKA


Mang Karso bertanya, “Dimana nikmatnya agama itu, bukankah hanya menambah beban kegiatan hidup saja?”

Memang, tanpa tafakur ajaran agama akan sulit dinikmati.
Koq…?
Saatnya menyadari…, nikmatnya ajaran agama berada pada kesadarannya, ibarat durian nikmatnya terletak bukan pada kulitnya tapi pada isinya.

Tafakur itu membuka “kulit” agama.



KETIKA SEMUA TERASA WAJAR, APALAGI BILA MENGUNTUNGKAN, HIDUP AKAN SELALU NIKMAT



Gambar:data:image/jpeg;base64

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #378
KESULITAN ABADI


Kesulitan pasti saja terjadi.

Adakah kesulitan yang abadi?

Bagi yang tak mempercayai adanya kehidupan akhirat, sekarang bolehlah tersenyum lebar.
Apa pasal?
Karena kesulitan di alam dunia tak pernah ada yang abadi.



KESULITAN ABADI HANYA ADA DI AKHIRAT!



Gambar:https://islamudina.com


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #377
PEMENANG ATAU PECUNDANG


Manusia akan mendatangi akhirat tak perlulah dibahas lagi.


Ada dua kategori manusia ketika sampai di akhirat, yaitu para pemenang dan para pecundang.

Mereka yang sewaktu di dunia memilih untuk taat pada “aturan main” yang dibuat Allah dan Rasul-Nya, mereka inilah yang akan datang sebagai pemenang.

Sedangkan mereka yang lebih suka memilih taat pada nafsunya, inilah dia sang pecundang.

Begitulah, selalu ada harga dari suatu pilihan.

SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING TAKWA, TAAT HANYA PADA KEHENDAK ALLAH DAN RASUL-NYA



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS22VeQAK_22Vu2twiMf33SZsVipO-Cja7YZGbvlrjGxe3hSBJQ

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #376
BINATANG DAN MANUSIA



Perbedaan yang paling menonjol antara manusia dengan binatang adalah manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, sementara binatang tidak.

Bagi binatang tak jadi masalah apakah mau berbuat curang, atau mau selingkuh, ataupun mau “makan” temennya. Tapi bagi manusia?

Manusia sebaiknya jangan mengikuti polah binatang, karena segala perbuatan “kotor” dapat menguras habis pahala yang susah2 dikumpulkan!

BILA TAK ADA ALAM PERTANGGUNG JAWABAN, NISCAYA MANUSIA DAN BINATANG HANYA SEBATAS BERBEDA TAMPILAN SAJA


 Gambar:https://asset.kompas.com/data/photo/2013/05/11/1042073-anjing-peliharaan-780x390.jpg


2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #375
INGIN TAK DIHINA



Inginkah kita tak dihina orang?

Bila ingin, janganlah tinggal di dunia tapi tinggalah di surga.
Di surga dijamin tidak akan ada orang yang menghina, menghujat, atau menzalimi kita.
Koq tahu …?
Ya, karena mereka yang hobi menghina atau menghujat itu sudah dilokalisir di neraka.

Namun yang jadi persoalan, untuk tinggal di surga itu salah satu syaratnya ego harus dikesampingkan. Dalam kondisi nyaman ataupun tidak nyaman, sikap kita harus selalu selaras dengan kehendak-Nya.

NAH, APAKAH MASIH MAU … ??

SELAMA MASIH BERNAFAS, TAK PEDULI ORANG BAIK ATAUPUN ORANG
JAHAT, TAK MUNGKIN TAK DIHUJAT


  
Gambar:http://4.bp.blogspot.com

6 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #374
MENINGGALKAN YANG MESTI DITINGGALKAN



Manusia adalah makhluk yang berkemampuan terbatas.
Dengan keterbatasan ini manusia berpikir, menghasilkan sesuatu yang diklaimnya sebagai kebenaran.

Saatnya menyadari …, kebenaran yang dihasilkan oleh sesuatu yang memiliki keterbatasan hanyalah dugaan semata. Bagaimanapun kebenaran mutlak hanya dapat dikeluarkan oleh yang Maha Sempurna, yaitu Allah SWT.

Karena itulah bila muncul pikiran yang berbeda dengan Alqur’an, janganlah ragu sedikitpun untuk segera meninggalkannya.

KERUSAKAN MANUSIA TERJADI MANAKALA IA MENGGANTI PERSEPSI QUR’ANI DENGAN PERSEPSI KARYA MANUSIA



Gambar:https://cdn.psychologytoday.com/sites/default/files/field_blog_entry_images/self-awareness.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #373
KARUNIA TERSEMBUNYI



Ketika Allah memberi ketidaknyamanan, sebenarnya DIA bukan mau menyiksa tapi DIA ingin memberi hikmah.

Musibah tak pernah diizinkan~Nya berjalan sendiri, ia senantiasa harus                           ditemani hikmah.

BILA AWAN TIDAK MENANGIS, MANALAH MUNGKIN TAMAN AKAN TERSENYUM



Gambar:https://buletinmitsal.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #372
ON OFF



“On-Off” dimaksudkan sebagai sesuatu yang tidak dilakukan secara konsisten, yaitu sebagai lawan dari istiqomah.

Semua orang tahu, kekuatan istiqomah sudah terbukti dahsyat. Bayangkan saja batu cadas yang tak mempan dilubangi oleh linggis dapat dibuat berlubang oleh tetesan air yang terus menerus tanpa jeda.

Nampaknya dalam bertafakur kita juga harus istiqomah.

Pengalaman mengajarkan kita, tafakur yang “on-off” seringkali mendatangkan kebingungan baru ketimbang pencerahan baru.

ALLAH CINTA PROSES, MENGHARAPKAN SESUATU TERJADI SECARA INSTAN SUDAH BUKAN ZAMANNYA LAGI


  
Gambar:data:image/jpeg;base64

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #371
SETIP PENGHAPUS DOSA


Dosa adalah perbuatan akibat melanggar aturan Tuhan yang tentunya harus dihukum.
Hukuman ini dapat ditunaikan di dunia, namun dapat juga ditunda di akhirat.

Mana yang akan kita pilih?

Bagi mereka yang telah “bangun” tentunya akan memilih hukuman atas dosanya ditunaikan di dunia. Lalu bagaimana caranya?

Nabi kita yang mulia mengatakan bila seseorang berjalan di dalam koridor-Nya, maka musibah yang menimpanya akan diperhitungkan sebagai penghapus dosanya.



Karena itu bila musibah datang berkunjung tak layak bila kita meronta, lihatlah ada SETIP PENGHAPUS DOSA di sana!

MUSIBAH ADALAH SALAH SATU BENTUK TANDA CINTA ALLAH


  
Gambar:https://www.bertuahpos.com/assets/public/images/thumbnail/600/2018Juni/Amalan_Penghapus_Dosa.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #370
TIME IS PAHALA


Kalbu adalah “MESIN PENGGERAK” perilaku.
Apakah perilaku kita akan bergerak ke kiri ataukah ke kanan, tergantung dari asupan apa yang kita berikan padanya.

Bagaimana bila kalbu kita beri asupan TIME IS MONEY …,
perilaku apa yang bakalan ke luar?


Bagaimana pula bila kalbu kita beri asupan TIME IS PAHALA …,
apakah perilaku yang ke luar akan berbeda?

MEMBERI ASUPAN YANG SALAH PADA KALBU MEMBUAT PERILAKU MENYIMPANG!


Gambar :https://goingtojannah.files.wordpress.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #369
KAGAK BECUS




“Semua ajaran Islam gua udah paham!” begitu sentak seorang yang sedang tertimpa musibah ketika temannya mengingatkannya untuk bersabar.

Ops, nanti dulu…!
Islam mengajarkan bahwa ajaran itu bukan untuk dipahami tapi untuk dilaksanakan sebagai “way of life”. Jadi bila perilaku masih belum sesuai dengan ajaran Islam, sorry to say, belum paham ajaran Islam!

Ada seorang syekh yang berkata pada para murid-muridnya, “Tujuan saya mengajarkan kalian ajaran Islam bukan untuk dipahami, tapi untuk dilaksanakan. Jadi bila kalian belum bisa bersabar ketika ditimpa musibah, kemungkinannya saya sebagai guru yang tidak becus ngajar kalian atau kalian yang tidak becus belajarnya!”

AHLI MATEMATIKA YAITU MEREKA YANG MENGUASAI ILMU MATEMATIKA, SEDANGKAN AHLI AGAMA BUKANLAH MEREKA YANG MENGUASAI ILMU AGAMA


Gambar:https://i.ytimg.com/vi/iVQzfMnNDks/hqdefault.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #368
TONG KOSONG


Apa bedanya antara ilmu sekolahan dengan ilmu agama?

Ilmu sekolahan dinilai oleh guru berdasarkan banyaknya pengetahuan yang berhasil kita ketahui.

Sedangkan ilmu agama bukan dinilai oleh guru atau manusia, melainkan oleh Allah. Dan dinilai bukan dari luasnya yang kita tahu, tetapi berdasarkan keberhasilan kita dalam mempraktekkannya.

Menggelikan ya bila kita kibr lantaran merasa menguasai ilmu agama atau merasa paling benar sendiri dengan mengatakan orang lain yang tak sepaham sesat.
Padahal … ilmu agama yang tak dipraktekkan ibarat tong kosong, tak ada nilainya.



KEHEBATAN MANUSIA BUKAN DIUKUR DARI BANYAKNYA AJARAN ISLAM YANG DIA KETAHUI, MELAINKAN DARI BANYAKNYA AJARAN ISLAM YANG DIPRAKTEKKANNYA


  
Gambar:https://pbs.twimg.com/media/C3t2RCtUMAAkOFQ.jpg

0 komentar: