Mutiara Tauhid Renungan #395
DIA YANG TAK PERNAH TIDUR


Allah tak pernah tidur ataupun tertidur.
DIA selalu terjaga mengurus "anak-anakNya" yang saat ini sedang berkelana di dunia.


Begitu hati-hatinya DIA menjaga anak-anakNya itu sehingga DIA tak mau melepaskan jubah asmaul husna-Nya walaupun hanya sedetik.

Sayang ya, walaupun sudah begitu all out masih saja ada anak-Nya yang bengal.

Semoga itu bukan aku, cukuplah Abu Lahab dan Abu Jahal saja.

KETIKA ALLAH MENETAPKAN SUATU KEPUTUSAN, DIA TAK PERNAH SEKALIPUN MENANGGALKAN JUBAH KASIH SAYANG-NYA



  
Gambar: https://static.parade.com/wp-content/uploads/2018/02/city-crosswalk-people-busy-ftr.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #394
LAYAKNYA AIR DAN MINYAK



Jiwa dan raga sejatinya dari sananya terpisah layaknya air dan minyak dalam bejana.

Walaupun jiwa dan raga terpisah, tapi mereka dapat saling mempengaruhi.
Raga yang sakit dapat mempengaruhi jiwa ikutan jadi sakit, begitu juga sebaliknya.

Tugas kita lah, sebagai pemilik keduanya, untuk mencegah jangan sampai sakit pada raga menjalar ke jiwa.

Bagaimana caranya?
Cukup berserah diri saja, menyerahkan soal kesembuhan dari sakit yang diderita hanya kepada-Nya ….

KETIKA CINTA PADA KESEMBUHAN MENGALAHKAN CINTA PADA YANG MENYEMBUHKAN, AWAL DARI SAKIT JIWA PUN DIMULAI!



Gambar:http://1.bp.blogspot.com/-CACBMz38r1M/VMtsAZfjG2I/AAAAAAAAAR0/RPXmaEgfC08/s1600/air%2Bdan%2Bminyak.jpeg

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #393
KEINGINAN LIAR



Bila jiwa masih gelap, keinginan pastilah liar.

Berobat karena ingin sembuh, bekerja karena ingin kaya adalah segelintir contoh dari keinginan liar.

Betapa tidak liar,
sudah berada dalam genggamanNya koq diinginkan!

APAPUN YANG SUDAH BERADA DALAM GENGGAMAN SANG MAHA KUASA, TAK PERLU LAGI DIINGINKAN


Gambar:https://cdn-images-1.medium.com/max/1200/1*k2oDqoDoFOzl1YvAohApcA.jpeg


0 komentar:

Mutiara tauhid Renungan #392
PALING KAYA



Orang yang paling kaya bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan mereka yang paling sedikit keinginannya.

Yuk kita berlomba menjadi orang yang paling kaya …,
sang juara akan mendapat kebahagiaan sementara sang pecundang akan mendapat kegalauan.

CIKAL BAKAL KEGALAUAN ADALAH KEINGINAN



Gambar:https://teknologi.id/wp-content/uploads/2018/10/Screen-Shot-2018-10-08-at-13.47.09.png

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #391
SARIMIN


Pernahkah berjumpa dengan Sarimin?
Sarimin adalah aktor utama dalam doger monyet yang dulu sering dijumpai manggung di perempatan lalu lintas.


Sarimin pandai berperan. Dari mulai naik sepeda, belanja ke pasar, sampai ke sholat.

Sholatnya sarimin pastilah sholat-sholatan. Tapi tahukah kenapa shalatnya sarimin kita vonis sholat-sholatan?
Mungkin jawabannya karena sarimin tetap saja melakukan perbuatan keji dan munkar.

Nah, bila kita telah sholat tapi masih juga melakukan pekerjaan keji dan munkar, relakah kita bila disamakan dengan sarimin?

“SESUNGGUHNYA SHALAT MENCEGAH DARI PERBUATAN KEJI DAN MUNKAR”




Gambar:http://3.bp.blogspot.com/_H9fH7pL7YoU/S6GuPASvt-I/AAAAAAAAAKs/8dA8dwd8zXw/s400/3709847280_c1758f660a_o.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #390
JEBAKAN



Seorang ahli hikmah berkata, “Jangan biarkan hatimu dibuat hitam oleh orang yang tak engkau suka.”
Lho, koq bisa?

Rasa tak suka pada seseorang seringkali menimbulkan rasa panas di hati seperti sebel, benci, marah ataupun dendam.
Padahal ..., sebel, benci, marah ataupun dendam itulah yang membuat hati menjadi hitam

RASA TAK SUKA PADA SESEORANG BUKANLAH ALASAN YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK TIDAK BERLAKU ADIL PADANYA


Gambar:https://cdn.idntimes.com/content-images/community/2018/09/a8c4317fad0d53b777c8bb69feed78fd_600x400.jpeg


4 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #389
TENTERAM


Antara tenteram dan kenyang itu ada kemiripan, yaitu kedua-duanya terjadi begitu saja tanpa direkayasa.

Bila kenyang terjadi lantaran makan banyak, maka tenteram terjadi akibat dari berserah diri dan berbuat kebaikan.

Jadi …, untuk mencari ketenteraman itu tidak perlulah kita repot-repot ‘tetirah’ mengasingkan diri ke tempat sunyi.



“BARANGSIAPA YANG BERSERAH DIRI DAN BERBUAT KEBAIKAN, MAKA IA TIDAK AKAN MERASAKAN KHAWATIR ATAUPUN SEDIH”  Alqur’an


Gambar:https://beritadunia.net/wp-content/uploads/2018/02/4.-15-30-baru.jpg

2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #388
SUBHANALLAH



Allah tak pernah sekejap pun menanggalkan jubah rahman rahim-Nya.
Oleh karena itulah bisa dimengerti kenapa ketetapanNya bagi manusia selalu saja baik.

Seorang ahli hikmah berkata, “Mempunyai prasangka buruk pada-Nya adalah suatu kejahatan serius!”

Subhanallah ....

“JANGANLAH KAMU MATI MELAINKAN BAIK SANGKA TERHADAP ALLAH ‘AZZA WA JALLA”  Muhammad Rasulullah SAW



Gambar:https://cdns.klimg.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #387
KAYA TANPA HARTA


Mungkinkah kita bisa kaya tanpa harta?


Jawabannya sangat mungkin, asalkan kita punya keahlian tersenyum dengan kualitas yang sama manisnya pada kelebihan maupun kekurangan.

TAK SEMUA ORANG BISA JADI ORANG KAYA,
TAPI SEMUA ORANG BISA KAYA TANPA HARTA


Gambar:https://bundafuriza.files.wordpress.com/2012/04/miskin-bahagia-2.jpg

2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #386
BIJAK

Tak patut bersedih hati kecuali karena sesuatu yang akan mencelakakan kita esok ( di akhirat ),
dan tak patut pula bersenang hati kecuali karena sesuatu yang akan menyenangkan kita di alam keabadian nanti …


DUNIA HANYALAH PANGGUNG SENDA GURAU BELAKA,  AKHIRAT LAH TEMPAT YANG SEBENARNYA




Gambar:data:image/jpeg;base64

2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #385
DANAU ATAU CANGKIR


Ambilah sesendok garam, lalu tuangkan ke dalam danau. Apakah rasa air danau itu berubah?


Sekarang, tuangkan sesendok garam pada secangkir air. Apakah rasa air di dalam cangkir itu berubah?

Begitulah, JIWA YANG LAPANG BAGAIKAN DANAU, SEDANGKAN JIWA YANG SEMPIT BAGAIKAN CANGKIR.”

Maukah memiliki jiwa yang bagaikan danau?
Bisa koq, perkaya saja kesadaran.



Gambar:https://cdn.pixabay.com/photo/2015/09/02/13/22/coffee-919027_960_720.jpg


1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #384
BERSERAH DIRI


Bila badai menerjang bagaimana caranya supaya dapat tetap berdiri kokoh?
Jawabannya sederhana, pegangan!
Berpeganglah pada suatu yang kokoh.


 Berserah diri adalah pegangan yang terkokoh.

Orang yang berserah diri pada Allah dijamin tidak akan tumbang, sehebat apapun  badai menggila ia tidak akan ikutan gila!

 “BARANGSIAPA YANG MENYERAHKAN DIRINYA KEPADA ALLAH SEDANGKAN DIA ORANG YANG BERBUAT KEBAIKAN, MAKA SESUNGUHNYA IA TELAH  BERPEGANG PADA BUHUL TALI YANG KOKOH”  ( LUKMAN 22 )



Gambar:https://khotbahjumat.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #383
TAK KENAL MERUGI



Ajaran agama Islam bila diikuti secara kafah tanpa tercampur dengan ajaran lainnya membuat hidup ini selalu indah.

Betapa tidak. Dengan kacamata Islam, segala yang menimpa diri kita hanya ada dua rasa, yaitu wajar atau menguntungkan.

Masa sih dengan menggunakan ajaran Islam tidak ada kejadian menimpa yang akan terasa merugikan?

Memang, tanpa tafakur ajaran agama akan sulit dinikmati.

KETIKA SEMUA TERASA WAJAR, APALAGI BILA MENGUNTUNGKAN, HIDUP SELALU INDAH



Gambar:http://www.kabarmuslimah.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #382
ISLAM


Mengapa galau?
Apapun alasannya, intinya adalah karena terperangkap masuk ruangan kehidupan yang gelap.

Bagaimana supaya galau itu menghilang?
Gampang, hidupkan saja saklar lampu ruangan itu.

Agama Islam ibarat kumpulan saklar lampu yang membuat “terang” persoalan2 kehidupan


Bila semua persoalan2 kehidupan sudah “terang” tentu saja kebahagiaan dunia akhirat dapat dicapai.


Gambar:http://www.konfrontasi.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #381
TAHU DIRI


Bila keinginanku terwujud menjadi kenyataan, hal itu bukan karena kehebatanku tetapi kebetulan saja keinginan Allah sejalan dengan keinginanku.
Alhamdulillah ...


SAMPAI KAPANPUN MANUSIA HANYA BISA IKHTIAR, DAN SAMPAI KAPANPUN HASIL ADALAH KARYA ALLAH SWT


  
Gambar:https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/sujud-bersyukur-2zrbncte3u8oucqcofx3pc.jpg

3 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #380
MASALAH JADI TAK MASALAH


Mengapa kita galau?
Pastilah karena ada masalah yang mengusik kalbu!

Begitulah karakteristik kalbu, bila dia merasa kedatangan masalah maka tanpa dapat dicegah dia langsung mengkerut menjadi galau.
Namun bila dia merasa segala yang dialaminya wajar (apalagi bila menguntungkan), dia tak pernah mengkerut alias rasa galau tak pernah bisa singgah.

Jadi untuk terbebas dari rasa galau mudah saja,
yaitu jangan biarkan kalbu merasa adanya perlakuan tak wajar menimpanya.

Memangnya bisa?

Ketika akal, kalbu, dan Alqur’an melebur dalam tafakur, maka segala kejadian pahit yang dialami akan selalu terasa wajar ( bahkan seringkali menguntungkan! )



DENGAN BERTAFAKUR, MASALAH AKAN MENJADI TAK MASALAH




Gambar:https://maulidamulyarahmawati.files.wordpress.com/2011/03/merenung.jpg



1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #379
HARUS DIBUKA


Mang Karso bertanya, “Dimana nikmatnya agama itu, bukankah hanya menambah beban kegiatan hidup saja?”

Memang, tanpa tafakur ajaran agama akan sulit dinikmati.
Koq…?
Saatnya menyadari…, nikmatnya ajaran agama berada pada kesadarannya, ibarat durian nikmatnya terletak bukan pada kulitnya tapi pada isinya.

Tafakur itu membuka “kulit” agama.



KETIKA SEMUA TERASA WAJAR, APALAGI BILA MENGUNTUNGKAN, HIDUP AKAN SELALU NIKMAT



Gambar:data:image/jpeg;base64

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #378
KESULITAN ABADI


Kesulitan pasti saja terjadi.

Adakah kesulitan yang abadi?

Bagi yang tak mempercayai adanya kehidupan akhirat, sekarang bolehlah tersenyum lebar.
Apa pasal?
Karena kesulitan di alam dunia tak pernah ada yang abadi.



KESULITAN ABADI HANYA ADA DI AKHIRAT!



Gambar:https://islamudina.com


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #377
PEMENANG ATAU PECUNDANG


Manusia akan mendatangi akhirat tak perlulah dibahas lagi.


Ada dua kategori manusia ketika sampai di akhirat, yaitu para pemenang dan para pecundang.

Mereka yang sewaktu di dunia memilih untuk taat pada “aturan main” yang dibuat Allah dan Rasul-Nya, mereka inilah yang akan datang sebagai pemenang.

Sedangkan mereka yang lebih suka memilih taat pada nafsunya, inilah dia sang pecundang.

Begitulah, selalu ada harga dari suatu pilihan.

SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING TAKWA, TAAT HANYA PADA KEHENDAK ALLAH DAN RASUL-NYA



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS22VeQAK_22Vu2twiMf33SZsVipO-Cja7YZGbvlrjGxe3hSBJQ

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #376
BINATANG DAN MANUSIA



Perbedaan yang paling menonjol antara manusia dengan binatang adalah manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, sementara binatang tidak.

Bagi binatang tak jadi masalah apakah mau berbuat curang, atau mau selingkuh, ataupun mau “makan” temennya. Tapi bagi manusia?

Manusia sebaiknya jangan mengikuti polah binatang, karena segala perbuatan “kotor” dapat menguras habis pahala yang susah2 dikumpulkan!

BILA TAK ADA ALAM PERTANGGUNG JAWABAN, NISCAYA MANUSIA DAN BINATANG HANYA SEBATAS BERBEDA TAMPILAN SAJA


 Gambar:https://asset.kompas.com/data/photo/2013/05/11/1042073-anjing-peliharaan-780x390.jpg


2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #375
INGIN TAK DIHINA



Inginkah kita tak dihina orang?

Bila ingin, janganlah tinggal di dunia tapi tinggalah di surga.
Di surga dijamin tidak akan ada orang yang menghina, menghujat, atau menzalimi kita.
Koq tahu …?
Ya, karena mereka yang hobi menghina atau menghujat itu sudah dilokalisir di neraka.

Namun yang jadi persoalan, untuk tinggal di surga itu salah satu syaratnya ego harus dikesampingkan. Dalam kondisi nyaman ataupun tidak nyaman, sikap kita harus selalu selaras dengan kehendak-Nya.

NAH, APAKAH MASIH MAU … ??

SELAMA MASIH BERNAFAS, TAK PEDULI ORANG BAIK ATAUPUN ORANG
JAHAT, TAK MUNGKIN TAK DIHUJAT


  
Gambar:http://4.bp.blogspot.com

6 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #374
MENINGGALKAN YANG MESTI DITINGGALKAN



Manusia adalah makhluk yang berkemampuan terbatas.
Dengan keterbatasan ini manusia berpikir, menghasilkan sesuatu yang diklaimnya sebagai kebenaran.

Saatnya menyadari …, kebenaran yang dihasilkan oleh sesuatu yang memiliki keterbatasan hanyalah dugaan semata. Bagaimanapun kebenaran mutlak hanya dapat dikeluarkan oleh yang Maha Sempurna, yaitu Allah SWT.

Karena itulah bila muncul pikiran yang berbeda dengan Alqur’an, janganlah ragu sedikitpun untuk segera meninggalkannya.

KERUSAKAN MANUSIA TERJADI MANAKALA IA MENGGANTI PERSEPSI QUR’ANI DENGAN PERSEPSI KARYA MANUSIA



Gambar:https://cdn.psychologytoday.com/sites/default/files/field_blog_entry_images/self-awareness.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #373
KARUNIA TERSEMBUNYI



Ketika Allah memberi ketidaknyamanan, sebenarnya DIA bukan mau menyiksa tapi DIA ingin memberi hikmah.

Musibah tak pernah diizinkan~Nya berjalan sendiri, ia senantiasa harus                           ditemani hikmah.

BILA AWAN TIDAK MENANGIS, MANALAH MUNGKIN TAMAN AKAN TERSENYUM



Gambar:https://buletinmitsal.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #372
ON OFF



“On-Off” dimaksudkan sebagai sesuatu yang tidak dilakukan secara konsisten, yaitu sebagai lawan dari istiqomah.

Semua orang tahu, kekuatan istiqomah sudah terbukti dahsyat. Bayangkan saja batu cadas yang tak mempan dilubangi oleh linggis dapat dibuat berlubang oleh tetesan air yang terus menerus tanpa jeda.

Nampaknya dalam bertafakur kita juga harus istiqomah.

Pengalaman mengajarkan kita, tafakur yang “on-off” seringkali mendatangkan kebingungan baru ketimbang pencerahan baru.

ALLAH CINTA PROSES, MENGHARAPKAN SESUATU TERJADI SECARA INSTAN SUDAH BUKAN ZAMANNYA LAGI


  
Gambar:data:image/jpeg;base64

0 komentar: