Mutiara Tauhid Renungan #327
TUNGGULAH SEJENAK


Layakkah bila hidup di dunia mengikuti kemauan nafsu?
Bila dunia dipandang sebagai kesempatan hidup yang sekali-kalinya, tentulah layak banget
Tetapi bila dunia dipandang sebagai “alam ujian,” tentulah sangat tidak layak bangeet ...!

Tuhan Sang Pencipta alam dunia mengatakan bahwa dunia adalah alam ujian bagi manusia. Dari sini mestinya kita bisa merasakan bahwa hidup yang paling benar di alam ujian adalah prihatin mengekang nafsu, bukannya malahan mengaminkan keinginan nafsu yang seabrek itu.


TUNGGULAH SEJENAK, TOH TAK LAMA LAGI JUGA ALAM UJIAN INI USAI..., begitu kata seorang ahli hikmah.


Gambar:http://humairoh.com/wp-content/uploads/2017/11/Ngokor000022602.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #326
PERLAWANAN



Engkau menyuruhku agar harta aku perlakukan sebagai ujian
eh …,  aku malahan menjadikannya sebagai tujuan

Engkau menyuruhku agar aku menjadi makhluk yang paling bertakwa
eh …, aku malahan berlomba menjadi yang paling kuasa, paling kaya

Engkau menyuruhku klarifikasi agar tidak timbul fitnah
eh …, aku malahan lebih senang menghakimi, menghujat

Engkau menyuruhku agar aku jangan suka berprasangka buruk
eh …., aku malahan menjadikannya sebagai hobi

Engkau menyuruhku agar aku ingat kasih sayangMu di waktu duduk, berjalan, dan berbaring
eh …, aku malahan ingat ketetapan2Mu yang membuat hatiku sesak

Ampuuun Gustiii …..

“BARANGSIAPA MENTAATI ALLAH DAN RASUL~NYA, MEREKA ITU AKAN BERSAMA2 DENGAN ORANG2 YANG DIANUGERAHI NIKMAT”




Gambar:https://www.salisma.com/wp-content/uploads/2015/08/muka-490x400.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #325
JAHILIYAH



Begitu kita mendengar kata “jahiliyah,” langsung terbayang zaman dahulu kala dimana ketika itu perilaku manusia sangatlah buruk.

Zaman jahiliyah seolah-olah hanya kejadian di masa lalu yang tak akan terulang lagi. Benarkah?

Orang yang telah menyadari bahwa perilaku itu hanyalah cerminan dari kesadaran yang tertanam di dalam kalbu akan paham, “BILA KESADARAN MEMUDAR ZAMAN JAHILIYAH AKAN HIDUP KEMBALI

Ibarat pelita, kesadaran pun dapat padam
Pelita padam karena kehabisan minyak
KESADARAN PADAM KARENA KEHABISAN WAKTU UNTUK BERTAFAKUR


Gambar:https://pwmu.co/wp-content/uploads/2018/03/Ilustrasi-Kondisi-Masyarakat-Arab-sebelum-Islam-pada-zaman-Jahiliyyah2.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #324
MELEBIHI MALIN KUNDANG


Aku adalah sang jiwa.
Untuk bisa berada di dunia aku dititipkan-Nya pada pasangan ayah dan ibu. “Orang tua” sejatiku bukanlah mereka, tetapi DIA yang menciptakanku.


Aku taati maunya ayah dan ibuku karena aku takut sekali menjadi anak durhaka. Sementara, aku seringkali tidak mentaati maunya “orang tuaku.” Padahal durhaka pada ayah dan ibu saja sudah terbayang apa akibatnya, apalagi bila durhaka pada “orang tua” ...

“SESUNGGUHNYA KEBANYAKAN DARI MANUSIA ITU ‘TERTIDUR’ DAN BARU TERBANGUN KETIKA IA MATI,”  apakah ini yang dimaksud oleh Nabiku yang mulia empat belas abad yang silam?


Gambar :http://assets-cdn.ekantipur.com/images


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #323
MAKHLUK PENYEMPURNA


Rumah semegah dan seindah apapun belumlah dikatakan sempurna bila belum ada isinya.
Apakah surga dan neraka sudah sempurna? Tentu saja belum, mereka menunggu disempurnakan oleh manusia


Mereka yang semasa hidupnya taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah yang akan “menyempurnakan” surga;
sedangkan mereka yang membangkang pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah yang akan “menyempurnakan” neraka.

Andaikan usiaku berakhir hari ini, manakah yang akan aku sempurnakan?

MENYESAL BELAKANGAN SUDAH KUNO, MENYESAL HARUSLAH DI DEPAN!



Gambar:https://static2.sewarga.com/wp-content/uploads/2017/06/Surga-dan-Neraka.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #322
JAUH PANGGANG DARI API


Einstein yang konon adalah manusia paling cerdas sedunia pernah tidak naik kelas. Koq bisa?

Tak usah heran …, setinggi apapun IQ seseorang bila diuji dengan perkalian 17 x 17 pasti gagal bila ia tidak mempunyai kemampuan di bidang kali-kalian.

Manusia yang konon adalah makhluk Allah yang paling sempurna, tidaklah dijamin akan selalu lulus dari ujian-ujianNya. Koq demikian?

Tak usah heran …, yang namanya ujian itu lulus atau tidaknya bukan ditentukan oleh sempurna atau tidaknya, melainkan oleh ada tidaknya kemampuan. Tanpa memiliki kemampuan yang sesuai dengan soal ujiannya, ya selalu jadi pecundang.


Coba bayangkan,  kita akan diuji kali-kalian tapi kita mati-matian belajar agar bisa sabar, ikhlas, pasrah. Bisakah kita lulus?
Begitu juga kita akan diuji Allah, walaupun kita mati-matian belajar sampai tingkat doktor di universitas paling bergengsi, bisakah kita lulus?  Inilah yang dikatakan orang bijak tempo doeloe, “JAUH PANGGANG DARI API”


Gambar:http://pojok.lovelybogor.com/wp-content/uploads/2018/02/fire-2886715_640-300x200.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #321
UJIAN ALLAH



Satu-satunya ujian yang soalnya tak pernah berubah dari sejak zaman dahulu kala sampai dengan sekarang hanyalah ujian Allah.

TAPI ANEHNYA WALAUPUN SOALNYA SUDAH DIBOCORKAN, KOQ LEBIH BANYAK YANG GAGALNYA YA …?

Tak usah heran …, selama kemampuannya tak ada, walaupun soalnya dibocorkan, tetap saja sangat sulit untuk bisa lulus!

MENGATASI UJIAN ALLAH BUTUH KEMAMPUAN KALBU, BUKANNYA KEMAMPUAN AKAL



Gambar:https://www.jobtestprep.com/media/26738/xfirefighter-written-test-main.jpg.pagespeed.ic.mtt8IYC7yl.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #320
KETAATAN ADALAH SEGALANYA



Bumi diciptakan Allah untuk berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari.
Apa yang terjadi bila bumi membangkang, sehari saja ia mogok berputar pada porosnya?  Ya, pastilah keharmonisan alam raya akan terganggu.

Begitu juga, apa jadinya bila manusia yang diciptakan-Nya untuk berperilaku selaras dengan kehendak-Nya tapi ia berperilaku semaunya sendiri?

Pastilah tak jauh berbeda seperti yang dialami alam raya, ia pasti akan kehilangan ketenteraman dan kelak akan kehilangan surga!

PADA HARI KETIKA MUKA MEREKA DIBOLAK-BALIKKAN DALAM NERAKA, MEREKA BERKATA, “ALANGKAH BAIKNYA ANDAIKATA DAHULU KAMI TAAT KEPADA ALLAH DAN TAAT PULA KEPADA RASUL”


Gambar:https://www.scienceabc.com/wp-content/uploads/2015/09/Solar-System.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #319
JEMBATAN SHIRAATHAL MUSTAQIIM


Seorang ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali wafat th. 1111, menuturkan bahwa semua manusia akan melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat neraka.


Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung.

Namun di samping itu, ada juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang.

Perbedaan cara menyeberangi jembatan ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selagi mampir di dunia, apakah ia selalu taat ataukah ia sering membangkang pada aturan Tuhan dan Rasul-Nya.


Marilah kita “berlatih” lebih giat lagi agar kelak kaki kita mampu berlari secepat kilat!


Gambar  :data:image/jpeg;base64

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #318
PELECEHAN



Mungkinkah selama hidup di dunia kita tak mengalami rasa galau alias bahagia selamanya …?

Bila bahagia selamanya tak mungkin, lalu apa gunanya Alqur’an sebagai pedoman

Walaupun surga sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya, mungkinkah kita dapat berupaya untuk meraihnya …?

Bila meraih surga tak dapat kita upayakan, lalu apa gunanya alqur’an sebagai pedoman

BILA BAHAGIA SELAMANYA DIANGGAP TAK MUNGKIN
BILA SURGA DIANGGAP TAK DAPAT DIUPAYAKAN
APAKAH ITU TIDAK BERARTI PELECEHAN TERHADAP ALQUR’AN?



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRBL_m3fFQxYfLBHMTTIVM88J2-fmwdh7JX-_cPHrJenIESZ5dIkg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #317
INSAN KAMIL



Menyadari adanya kekeliruan diri, merupakan langkah awal menjadi insan kamil.

Perlu dirasakan kembali sabda Nabi kita yang mulia empat belas abad yang silam : “Barangsiapa yang amal solehnya hari ini sama dengan hari kemarin ia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang amal solehnya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, ia adalah orang yang celaka!”

BILA AKU SANGGUP TERTAWA TERPINGKAL-PINGKAL PADAHAL TAMPILANKU LEBIH BURUK DARI KEMARIN, BOLEH JADI INI SALAH SATU PERTANDA AKU TELAH KEHILANGAN HATI …



Gambar:https://i2.wp.com/www.hisbah.net/wp-content/uploads/2016/01/intropeksi-Diri.jpg?fit=700%2C350&ssl=1


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #316
PAMRIH TERSEMBUNYI



Ketika aku menyapa, aku mengharapkan dia membalas
Ketika aku tersenyum, aku mengharapkan diapun membalas tersenyum
Ketika aku menyampaikan kebenaran, aku mengharapkan dia menerima

Aku sebel bila perlakuan santunku dibalas dengan cuek.
Ada apa dengan diri ini, bukankah malaikat Raqib telah mencatat dan tak akan mengurangi atau menambahnya bila orang itu tak membalas dengan santun juga?

“KEINGINAN AGAR KEISTIMEWAANMU DIKETAHUI ORANG, ADALAH BUKTI TIDAK ADANYA KEJUJURAN DALAM KEHAMBAANMU” (Ibn ‘Atha’illah)



Gambar:https://2.bp.blogspot.com/-sDnSkQJnN1I/WeCI8KiJMFI/AAAAAAAAMoQ/_qnDv8-a0hoT2RvJ3GGTuKosq42bpDyfwCLcBGAs/s1600/22500837_216883295516049_1686301327_n.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #315
PECAH KONGSI



Kita mempunyai akal dan kalbu.

Akal kita sudah sangat meyakini DIA pastilah Maha Pengasih Maha Penyayang, bagaimana dengan kalbu kita? Apakah mereka kompak seiya sekata, jangan-jangan tanpa sepengetahuan kita mereka pecah kongsi!

BILA KALBU SERING MERONTA LANTARAN PENGATURAN-NYA, APAPUN ALASANNYA, HAL INI SUDAH CUKUP MEMBUKTIKAN TERNYATA SI KALBU INI MASIH MERAGUKAN KASIH SAYANG-NYA!

Lalu apa artinya ucapan lirih bismillahirrahmanirrahiiim ....?



Gambar :sosyalmedya

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #314
TAK TERBENDUNG



Bila hidup semata-mata ditujukan untuk ibadah (selalu berperilaku selaras dengan kehendak-Nya) , dijamin tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membendung terwujudnya “Dunia Bahagia Akhirat Surga.”


Gambar:http://www.dailymoslem.com/wp-content/uploads/Shalat-Tapi-Masih-Maksiat-1.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #313
IKRAR BODONG


Setiap hari, paling sedikitnya lima kali, ketika menghadap Allah kita berikrar :

INNA SHOLATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMAMATI LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN

Kita bertekad akan berperilaku karena Allah semata.


Mungkinkah tekad ini dapat kesampaian bila tidak memiliki banyak keyakinan yang tertanam di kalbu?

Ah, manalah mungkin …
Bukankah perilaku itu merupakan cerminan dari keyakinan?

“DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL ‘DAGING.’ BILA ‘DAGING’ ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PERILAKUNYA. ‘DAGING” ITU ADALAH KALBU” (Muhammad Rasulullah SAW)



Gambar :https://pusatpandang.com/wp-content/uploads/2018/03/sholat-tahajud.jpg



0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #312
HARUS MURNI


Kita butuh keyakinan, karena kemampuan kalbu seperti sabar, pasrah, ikhlas, bersyukur dan lainnya itu terbentuk melalui interaksi antar keyakinan2.
Mengambil keyakinan tidak boleh keliru, ibarat orang bikin kue pakailah telur ayam jangan telur cicak.

Selama orang masih mengambil keyakinan salah, seperti misalnya sabar ada batasnya atau marah itu manusiawi, tak mungkinlah akan dapat terbentuk kemampuan sabar.


KEYAKINAN ITU HARUS MURNI, YAITU SELARAS DENGAN ALQURAN DAN SUNNAH RASUL. Di luar itu adalah KW !



Gambar :www.kompasiana.com




0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #311
SERIBU KALI LEBIH PENTING


Empat belas abad yang silam Nabi kita yang mulia pernah memberikan petunjuk, “DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL DAGING. BILA DAGING ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PERILAKUNYA. ‘DAGING’ ITU ADALAH KALBU”

Di zaman kini, dimana kita merindukan orang2 yang berperilaku akhlakul karimah, petunjuk Nabi tersebut bila dikaji kembali hasilnya mungkin akan membuat kita kaget, ternyata SERIBU KALI LEBIH PENTING MENGURUS KALBU KETIMBANG MENGURUS AKAL!
Selama ini kita terbalik!

Sebetulnya sejarah juga sudah mencatat, mereka yang rajin mengurus akal ( bahkan sampai level doktor ) tidak pasti mencerminkan akhlakul karimah, tapi yang pasti mereka banyak yang ahli dalam “akal-akalan.”

Nah, apakah kesalahan akibat kurang “mikir” ini akan kita wariskan juga pada anak2 kita?
Jangan dong ah …


Gambar :www.dakwatuna.com


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #310
ISTIGFAR


Ketika kita mencemaskan sukses atau tidaknya hasil upaya,
ketika kita bepergian jauh minta selamat,
ketika kita bekerja karena dorongan ingin kaya,
ketika kita ke dokter karena sangat ingin sembuh …

segeralah istigfar …, karena secara tak langsung kita telah menuding-Nya tidur.


Padahal DIA tak pernah sedetik pun tertidur, apalagi tidur, DIA selalu istiqomah ‘mati-matian’ dalam memilihkan yang terbaik bagi para hamba-Nya yang menyerahkan diri pada-Nya tanpa reserve.

…. LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYIL ADZIM ….



Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Menangis-dalam-doa-2zz8jcb7f96g9k551imm80.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #309
KEKELIRUAN DIRI



Peduli dengan kekeliruan diri, merupakan langkah besar menuju pribadi indah.
Sebaliknya, tak mau peduli dengan kekeliruan diri merupakan langkah besar menjumpai bencana dahsyat.

AKU ADALAH AKU,
INDAH ATAU BURUKNYA SANG AKU TERGANTUNG PADA MAUNYA AKU …



Gambar :http://static.pulsk.com/images/2013/09/14/ea3a1a243317468fa6a51fdeaf67be20.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #308
PENA EMAS


Apakah orang yang beriman akan adanya Allah suatu saat pasti akan menempati surga?

Sebagaimana kita sudah yakini, surga akan diberikan kepada yang hasil timbangannya baik.
Namun perlu disadari, yang ditimbang itu bukanlah iman, melainkan beratnya amal perbuatan. Karena itu tak heran walaupun iblis lebih beriman dibandingkan kita tentang adanya Allah, namun kita tak akan menemukan iblis di surga.


Begitulah, IMAN TANPA KETAATAN BAGAIKAN PENA EMAS DI TANGAN SI BUTA HURUF.





Gambar :http://salafy.or.id/wp-content/uploads/2014/02/thoughtful-pen-writing-24581037-2560-1702.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #307
BUKAN NEGERI DONGENG



Bagi manusia, tidak ada kepastian yang melebihi dari kematiannya.

WALAUPUN MALAM TERASA PANJANG,
NAMUN SANG FAJAR AKAN TERBIT JUGA.
WALAUPUN USIA KITA PANJANG,
LIANG KUBUR AKAN KITA MASUKI JUGA …

Alam kubur bukanlah negeri dongeng.
Nah, sudahkah menabung untuk persiapan hidup di sana ..?




Gambar http://2.bp.blogspot.com/-6oaG6oxsJIU/T4ttJ1CEuqI/AAAAAAAAAQU/EJo0yPvZCL4/s1600/Alam+KuBur.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #306
ALAM PERTANGGUNGJAWABAN



Sekecil apapun perbuatan selama hidup di dunia kelak harus dipertanggungjawabkan di akhirat, begitulah kata Alqur’an.
Dengan begini tidak ada satu orangpun yang bakalan dirugikan.

Orang yang menyimpan dendam, mencerminkan belum yakin adanya akhirat, bukankah ia nanti akan menerima transfer pahala dari orang yang menzaliminya, mengapa pula perlu dendam?

Orang yang menghujat, setali tiga uang, yaitu belum yakin adanya akhirat.

Bagaimana bila disamping dendam, juga menghujat?
Wah ini gawat …, jangan-jangan bukannya belum yakin adanya akhirat, tapi lebih dari itu yaitu mengingkari keberadaannya!

SEANDAINYA CAHAYA KEYAKINAN MENYINARIMU, NISCAYA ENGKAU DAPAT MELIHAT AKHIRAT ITU LEBIH DEKAT KETIMBANG ENGKAU BERJALAN MENUJUNYA (Ibn ‘Atha’illah)


  
Gambar :ttps://4.bp.blogspot.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #305
RIDHO ALLAH



Tanpa ketaatan kepada-Nya, tidak ada ridha Allah
Tanpa ridha Allah, tidak ada DBAS
Tanpa DBAS, mau ngapain di dunia .... ???


Gambar : http://blog.munatour.co.id

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #304
SATU SAJA


Semua manusia menginginkan kembali ke tempat asalnya semula yaitu surga.  Untuk ini ia harus mendaki jalan berliku ribuan bahkan bisa jutaan tahun lamanya.
Dan apakah akhirnya ia akan sampai di tujuan atau tidak, ditentukan oleh satu hal saja yaitu kesediaannya taat mengikuti kehendak2 Sang Pencipta.



Semoga kita tak berhenti bertafakur, karena sungguh tak terbayangkan apa jadinya bila setelah menjalani perjalanan yang begitu panjang ribuan atau jutaan tahun, boro-boro nyampe di tujuan ...
Ah,  mendekatinya pun sama sekali tidak.



Gambar: https://1.bp.blogspot.com/--0gpnO706gs/UZtVI21a6MI/AAAAAAAABXM/wr2bhDOdE0A/s1600/telunjuk+2.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #303
PILKADA



Salah satu asesoris dunia adalah jabatan. Tak heran bila yang dapat membuat menjadi “orang penting” ini diperebutkan.

Tapi, benarkah seharusnya kita berlomba-lomba menjadi orang penting?

Yang jelas mah kata kang Ebet, “MEMANG BAIK MENJADI ORANG PENTING, TAPI YANG JAUH LEBIH PENTING LAGI ADALAH MENJADI ORANG BAIK”




Gambar:http://rmol.co/images/berita/normal/2017/11/927005_02581429112017_kampanye_ilustrasi.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #302
AWAL DARI KEHIDUPAN



ALAM KUBUR BUKANLAH ALAM KEMATIAN.
Alam kubur adalah awal dari “benar2 hidup.” Bila dulu taat pada Allah dan Rasul-Nya, niscaya awal kehidupan yang sebenarnya ini akan diisi dengan bersyukur tanpa henti karena diberi kesempatan tinggal di dunia.
Sebaliknya, bila dulu “mabuk dunia” maka akan menyesal tanpa henti mengapa pernah mampir ke dunia.

Sekaranglah saatnya untuk memilih ...




Gambar: http://www.salamdakwah.com

0 komentar: