Mutiara Tauhid Renungan #365
RODA KEHIDUPAN



Roda kehidupan tidaklah selalu berputar sesuai dengan keinginan
Rela diatur oleh-Nya akan membuat hidup selalu indah

“Mengucapkan syahadat namun tak rela diatur-Nya adalah salah satu bentuk kemunafikan,” begitu kata seorang ahli hikmah.

“SIAPA SAJA YANG TIDAK RELA TERHADAP KETETAPAN~KU DAN TIDAK BERLAKU SABAR TERHADAP COBAAN~KU, DAN TIDAK BERSYUKUR TERHADAP NIKMAT-NIKMAT~KU MAKA CARILAH OLEHMU TUHAN SELAIN AKU!”   Hadits Qudsi
  
Gambar:https://4.bp.blogspot.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #364
PISPOT EMOSI



Seringkali kita mendengar berita seorang anak menjadi bulan-bulanan orang tuanya.
Berapa banyak orang tua yang melampiaskan rasa hatinya yang sedang kesal pada anaknya. Bagaikan dewa mabuk, ia hajar anaknya sampai ampun-ampunan, bahkan ada yang sampai meninggal!

Wahai orang tua sadarlah …, mereka itu bukanlah anakmu tapi titipan-Nya. JANGANLAH MEREKA ENGKAU JADIKAN PISPOT EMOSIMU!

Memperlakukan buruk titipan-Nya sama saja artinya dengan menantang perang pada yang menitipkannya.
Udah nekad apa ….

ANAK ITU LEMAH, TAPI BACKINGNYA SANGAT KUAT!



Gambar:https://img.okezone.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #363
BATU LONCATAN



Dunia sejatinya hanyalah BATU LONCATAN untuk mencapai surga.
Tanpa adanya dunia, manusia pun tak akan pernah bisa merasakan surga.

Sebagai suatu BATU LONCATAN tentunya ia harus dikenali dengan baik, karena salah-salah kaki kita menapak akibatnya bisa gawat yaitu terpeleset nyebur ke tetangganya surga.

Inilah dia dunia itu :

Dunia kandangnya tipuan, hari ini kita dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal besok lusa dibuatnya kita menangis tersedu-sedu

Dunia arena pengujian bagi manusia, siapa yang nanti setelah kiamat layak untuk bersenang-senang dan siapa pula yang pantas berpedih-pedih

Dunia nilainya bagaikan setetes air di lautan

Dunia haruslah diletakkan di tangan

………………………… mau nambahin? silakan ya


  
Gambar:http://asset-a.grid.id

2 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #362
MUTIARA YANG HILANG


Tidak ada manusia yang ingin dihujat, semua manusia inginnya dipuji. Tapi benarkah keinginan seperti itu?


Islam melarang memamerkan amal soleh yang telah kita lakukan apabila terkandung niat ingin mendapatkan pujian. Sebagai hukumannya pun jelas, yaitu pahala yang sudah dicatat oleh malaikat Roqib dihapus.
Wah, kalau pahala dianulir lalu bagaimana bisa masuk ke surga?

Mungkin itulah sebabnya, saking berbahayanya Nabi kita yang mulia mengingatkan, “RIYA’ ITU SYIRIK KECIL”

“TAKUTLAH KALIAN PADA PUJIAN, SESUNGGUHNYA PUJIAN ITU SUATU PENYEMBELIHAN” ( Muhammad Rasulullah SAW )


Gambar:https://cdn-asset.hipwee.com/wp-content/uploads/2016/09/hipwee-1111-750x422.jpg

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #361
BISA ULAR


Siapakah manusia yang tidak butuh harta?
Tidak ada!

Benarkah manfaat harta sebegitu besarnya sehingga demi yang satu ini kadang-kadang orang tega saling bunuh-bunuhan?

Sebenarnya harta itu bagaikan bisa ular, dapat bermanfaat tapi sekaligus dapat juga mematikan.

Ilustrasi ular kobra


“KEBINASAAN UMATKU ADA DI DALAM DUA HAL, YAITU MENINGGALKAN ILMU DAN MENGUMPULKAN HARTA,” demikian pernah disampaikan oleh Nabi kita yang mulia 14 abad silam.


Gambar:https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #360
HASRAT INGIN DIMULIAKAN



Semua manusia punya hasrat ingin dimuliakan, dan juga ingin diagungkan. Wajarkah?

Sebagai makhluk yang memang mau diuji tentu saja wajar, tapi bagaimana sebagai makhluk yang lemah?

Inilah jawaban Tuhan :

“KEMULIAAN ITU ADALAH GAUN~KU, DAN KEAGUNGAN ITU ADALAH JUBAH~KU; BARANGSIAPA YANG MEMAKAI GAUN DAN JUBAH~KU ITU, AKAN KULEMPARKAN IA KE DALAM API NERAKA!”

Nampaknya kita harus rela mengucapkan selamat tinggal pada kemuliaan dan selamat tinggal pada keagungan.
Sebagai gantinya kita kedepankan sikap tawadhu, qanaah, dan waro’



Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2436850.jpg



0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #359
MENGGESER LETAK KEPUASAN


Rasa puas muncul setelah kita melakukan suatu action.

Misalnya saja, kita merasa puas setelah melakukan perbuatan bergunjing.
Ataupun kita merasa puas setelah melakukan perbuatan melampiaskan nafsu.

Mengapa tidak kita geser saja letak kepuasan ini?


Kita tidak lagi puas setelah bergunjing, tapi kita puas setelah menang membungkam mulut yang mau bergunjing….
Begitu juga kita puas bukannya setelah melampiaskan emosi, tetapi setelah berhasil meminggirkan emosi.

Mestinya bisa kan ya

JAGOAN ITU BUKAN YANG JAGO MARAH, MONYET JUGA BISA



Gambar:http://mediacerita.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #358
KETIKA KEBUTUHAN MENJADI KEWAJIBAN



Pernahkah makan dirasakan sebagai kewajiban ketimbang kebutuhan?
Pasti pernah. Ketika sedang sakit, makan pun berubah rasa jadi kewajiban.

Jiwa manusia butuh ibadah agar memperoleh dunia bahagia akhirat surga.

Ketika ibadah dirasakan sebagai kewajiban ketimbang kebutuhan, berhati-hatilah. Pertanda ada yang “sakit” dengan jiwa ini!

MENYADARI ADANYA KEKELIRUAN ITU PENTING!




Gambar:https://3.bp.blogspot.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #357
KENIKMATAN ABSOLUT


Apakah yang paling terasa nikmat di dunia?
Apapun itu, tidak ada seujung kukunya rasa kenikmatan di surga!


Begitu dahsyatnya kenikmatan surga,
sangat layak untuk diperjuangkan mati-matian sampai menutup mata

Bagaimanakah caranya untuk mendapatkan surga itu?
Ternyata pendapat para bijak berbeda-beda,
surga itu untuk mereka yang selalu berbuat kebaikan,
surga itu untuk mereka yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain
surga itu untuk mereka yang dekat dengan-Nya,
surga itu untuk mereka yang paling pasrah menjalani ketetapan-Nya,
surga itu untuk mereka yang ………. dan lain-lain masih banyak lagi.

Benarkah bila kita ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan surga bertanya pada manusia bijak?

Ah …, mereka itu belum pernah ke sana.
Mengapa tak bertanya pada yang punya surga …?

SURGA DIBERIKAN KEPADA MEREKA YANG TAAT PADA ALLAH DAN MUHAMMAD RASULULLAH SAW” ( Alqur’an )



Gambar:https://i1.wp.com



0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #356
KENIKMATAN SEJATI


Kenikmatan itu jenisnya tidak satu melainkan dua.
Ada kenikmatan yang “di luar” dan ada kenikmatan yang ”di dalam”

Kalbu yang dibiarkan tidak terawat dan tidak pula terasah, ia hanya dapat menikmati kenikmatan yang di “luar” saja,
yaitu sebatas kenikmatan makan dan minum.



Lho…koq mirip dengan sapi ya…??

SALAH SATU INDIKATOR KALBU YANG SEDANG SEKARAT ADALAH IA HANYA BISA MERASAKAN KENIKMATAN SEBATAS PADA KENIKMATAN MAKAN DAN MINUM SAJA



Gambar:https://cdn.pixabay.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #355
KEPUASAN SEJATI


Menuruti hawa nafsu mengantarkan pada kepuasan semu yang selalu berujung pada penyesalan.


Menahan diri dari keinginan hawa nafsu mengantarkan pada kepuasan sejati yang tak pernah mengenal penyesalan.

Hai jiwa yang tenang ...
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

MENAHAN NAFSU ITU BERAT, TETAPI MENAHAN SIKSAAN NERAKA JAUUHHH LEBIH BERAT LAGI …



Gambar:https://i2.wp.com/www.aktual.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #354
SEMBILU



Kalbu yang sering digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan sembilu.
Ia tajam untuk menangkap hikmah.

Kalbu yang lalai digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan telur busuk.
Ia tajam untuk memfitnah, menghujat, ataupun menabur berita busuk.

BERTAFAKUR SEJENAK LEBIH BAIK DARIPADA IBADAH SATU TAHUN



Gambar:https://indonesia.findwiki.co

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #353
TAK PERNAH KELIRU



Mungkinkah dalam menentukan hasil atas ikhtiar manusia Allah melakukan kekeliruan?

Saatnya menyadari …, Sang Maha Kuasa walaupun mempunyai kemampuan yang tak terbatas namun DIA TAK MAMPU BERBUAT KEKELIRUAN!

APA YANG DIBERIKAN-NYA PADA KITA SELALU SESUAI DENGAN YANG KITA BUTUHKAN, BUKANNYA SESUAI DENGAN APA YANG EGO INGINKAN.


Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2467591.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#352
KEINGINAN



Di alam dunia ini ada dua keinginan, yaitu keinginan ego dan keinginan Allah.  Sepanjang kita berada di dalam koridor-Nya, yang terjadi selalu keinginan DIA.

Patutkah meronta bila yang kita mau tak terwujud jadi kenyataan?

Mengapa harus meronta, bukankah DIA tidak kejam?
Bukankah DIA tak mampu sedetik pun memberhentikan kasih sayang-Nya pada kita?
Bukankah DIA sangat ingin kita ke surga melebihi keinginan diri kita sendiri?

Sesungguhnyalah, meronta atas ketetapan-Nya bukanlah perilaku manusia yang berhati dan berakal.

“MAKA NIKMAT TUHAN KAMU MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?”



Gambar:https://3c1703fe8d.site.internapcdn.net/newman/gfx/news/hires/2014/7-psychologist.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #351
KALBU YANG CEMAS


Fakta sudah mengajarkan kita, sesuatu yang tidak digunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya pastilah akhirnya akan rusak.

Bila kalbu rusak, apakah penyebabnya?
Tak diragukan, pastilah dia digunakan bukan untuk keperluan ibadah.

Salah satu bentuk kerusakan hati adalah rasa cemas.



Rasa cemas muncul karena sebelumnya hati digunakan untuk menerawang hasil, padahal … perkara hasil sepenuhnya adalah urusan Tuhan.
Dengan begitu menerawang hasil jelaslah bukan termasuk perkara ibadah.

Pantas saja kata ahli hikmah, “KECEMASAN TIDAK PERNAH LAHIR DARI IBADAH, MELAINKAN LANTARAN DARI MEMIKIRKAN HASIL.”



Gambar:https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #350
KETIKA KUASANYA DIABAIKAN


Bila kita sakit maka kita pun bergegas ke dokter.
Mengapa?
Apakah supaya sembuh,
ataukah semata-mata melakukan ibadah yang bernama ikhtiar?

Bila kita sadar kesembuhan sepenuhnya ada di tangan Allah bukannya di tangan dokter, niscaya akan terasa kesembuhan itu hanyalah merupakan dampak saja sedangkan tujuan utamanya adalah ibadah.



“KETIKA DAMPAK DIJADIKAN TUJUAN, KETIKA ITU KUASA ALLAH DIABAIKAN,” begitu kata ahli hikmah.



Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2267762.jpg



0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan Kalbu #349
KETIKA KALBU DITUNGGANGI EGO


Saat bekerja karena dorongan ingin kaya, bukan karena dorongan ibadah ...
Saat memberi karena dorongan kasihan, bukan karena dorongan kesadaran menunaikan perintah-Nya ….
Saat ke dokter karena dorongan ingin sembuh, bukannya semata-mata lantaran ibadah ...

Hati-hati ..., karena pada saat itu kalbu sedang ditunggangi ego!

INNA SHOLATI, WANUSUKI, WAMAHYAYA, WAMAMATI, LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN ...




Gambar :https://image.freepik.com/icones-gratis/cavalo-com-jockey-silhueta-negra_318-49270.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #348
KALBU YANG MATI


Peredam segala perilaku tercela adalah ingat akan kematian diri.

Bagaimana bila setelah ingat kematian perbuatan tercela masih tetap lanjut?

Solusinya hanya satu, yaitu berdoa.


Bermohonlah kepada-Nya agar DIA mengganti dengan kalbu yang baru, karena kalbu yang saat ini digunakan kemungkinan besar sudah mati!



Gambar:http://3.bp.blogspot.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #347
REM


Bagaimana mengendalikan mobil yang melaju kencang?
Untunglah ada rem.



Bagaimana mengendalikan perilaku liar yang tercela?
Untunglah ada rasa takut, yaitu rasa takut akan kehidupan setelah kematian.
  
REM SEGALA PERILAKU TERCELA ADALAH INGAT AKAN KEMATIAN DIRI.




Gambar: https://awsimages.detik.net.id

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #346
DI SANA DIANJURKAN DI SINI TABU


Nabi kita yang mulia, Muhammad Rasulullah SAW, memberikan petunjuk kepada kita, “Manusia yang paling cerdik ialah yang terbanyak mengingat kematian, serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah yang benar-benar cerdik, dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat”

Kenapa ya kalau di tanah air kita jangankan mengingat-ngingat kematian, ngomong soal kematian saja oleh sebagian orang Islam justru dianggap tabu …



“BARANGSIAPA TELAH MERASAKAN INGAT KEMATIAN, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN IA SENANG MENCARI PAHALA DAN BENCI TERHADAP DOSA”   ( Abu Hamzah Al-Khurasani ) 




Gambar: http://anaktelkom.com/wp-content/uploads/2016/05/Bingung.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #345
MENYADARI SIKAP HIDUP



Jalan kehidupan tidaklah selalu lurus, tapi berbelok-belok.
Pernahkah kita kebingungan belokan mana yang harus kita ambil ketika menjumpai persimpangan tiga ataupun persimpangan empat?

Begitulah, tanpa menyadari “BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP HIDUP” pasti kita sering dibingungkan ketika menjumpai “persimpangan kehidupan.”

SIKAP HIDUP YANG BENAR ADALAH YANG SELARAS DENGAN KEHENDAK~NYA



Gambar :http://3h.ca/wp-content/uploads/2013/12/Overcoming-Challenges_The-Real-Iron-Man1.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #344
GALAU



Bila suatu ketika hati diserang rasa galau apa sebab?

Tak usahlah berpayah-payah menduga, hal ini pastilah lantaran berserah dirinya sedang mengendur.

 “BARANGSIAPA YANG BERSERAH DIRI DAN BERBUAT KEBAIKAN, MAKA IA TIDAK AKAN MERASAKAN KHAWATIR ATAUPUN SEDIH”




Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Sedih1-317wfwetde57df1c8y05xc.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #343
MASA DEPAN CEMERLANG



Ketika telinga kita mendengar disampaikannya firman Allah, bagaimanakah reaksi hati? Apakah tiada rasa, datar saja bagaikan mendengar siaran berita?

Mereka yang dapat menyadari bahwa firman Allah yang didengarnya itu sejatinya adalah sumpah Sang Maha Kuasa, pastilah akan tertunduk khidmat berupaya untuk memahatnya di kalbu.

Mereka inilah yang punya “masa depan” cemerlang.


“ALLAH TELAH BERJANJI DENGAN SEBENAR-BENARNYA. ALLAH TIDAK AKAN MENGINGKARI JANJI-NYA”  -Az Zumar 20



Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Anak-dan-Quran-2zgfzirpfsoog9vtmyzxts.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #342
KALBU YANG PEKA



Kalbu yang peka mudah saja ia meyakini janji-janji Allah.
Apa yang mesti diperbuat agar kalbu peka?

Pisau akan menjadi semakin tajam bila sering dipakai,
kalbu akan semakin peka bila ia sering digunakan.

BARANG ORISINAL PASTI LEBIH BAIK, TAPI KALBU YANG ORISINAL PASTI LEBIH JELEK!



Gambar :http://kolom.abatasa.co.id/gambar/kolom-berlian-di-dalam-hafi-914_l.jpg


0 komentar: