Mutiara Tauhid Renungan #356
KENIKMATAN SEJATI


Kenikmatan itu jenisnya tidak satu melainkan dua.
Ada kenikmatan yang “di luar” dan ada kenikmatan yang ”di dalam”

Kalbu yang dibiarkan tidak terawat dan tidak pula terasah, ia hanya dapat menikmati kenikmatan yang di “luar” saja,
yaitu sebatas kenikmatan makan dan minum.



Lho…koq mirip dengan sapi ya…??

SALAH SATU INDIKATOR KALBU YANG SEDANG SEKARAT ADALAH IA HANYA BISA MERASAKAN KENIKMATAN SEBATAS PADA KENIKMATAN MAKAN DAN MINUM SAJA



Gambar:https://cdn.pixabay.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #355
KEPUASAN SEJATI


Menuruti hawa nafsu mengantarkan pada kepuasan semu yang selalu berujung pada penyesalan.


Menahan diri dari keinginan hawa nafsu mengantarkan pada kepuasan sejati yang tak pernah mengenal penyesalan.

Hai jiwa yang tenang ...
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

MENAHAN NAFSU ITU BERAT, TETAPI MENAHAN SIKSAAN NERAKA JAUUHHH LEBIH BERAT LAGI …



Gambar:https://i2.wp.com/www.aktual.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #354
SEMBILU



Kalbu yang sering digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan sembilu.
Ia tajam untuk menangkap hikmah.

Kalbu yang lalai digunakan untuk bertafakur tak ubahnya bagaikan telur busuk.
Ia tajam untuk memfitnah, menghujat, ataupun menabur berita busuk.

BERTAFAKUR SEJENAK LEBIH BAIK DARIPADA IBADAH SATU TAHUN



Gambar:https://indonesia.findwiki.co

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #353
TAK PERNAH KELIRU



Mungkinkah dalam menentukan hasil atas ikhtiar manusia Allah melakukan kekeliruan?

Saatnya menyadari …, Sang Maha Kuasa walaupun mempunyai kemampuan yang tak terbatas namun DIA TAK MAMPU BERBUAT KEKELIRUAN!

APA YANG DIBERIKAN-NYA PADA KITA SELALU SESUAI DENGAN YANG KITA BUTUHKAN, BUKANNYA SESUAI DENGAN APA YANG EGO INGINKAN.


Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2467591.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#352
KEINGINAN



Di alam dunia ini ada dua keinginan, yaitu keinginan ego dan keinginan Allah.  Sepanjang kita berada di dalam koridor-Nya, yang terjadi selalu keinginan DIA.

Patutkah meronta bila yang kita mau tak terwujud jadi kenyataan?

Mengapa harus meronta, bukankah DIA tidak kejam?
Bukankah DIA tak mampu sedetik pun memberhentikan kasih sayang-Nya pada kita?
Bukankah DIA sangat ingin kita ke surga melebihi keinginan diri kita sendiri?

Sesungguhnyalah, meronta atas ketetapan-Nya bukanlah perilaku manusia yang berhati dan berakal.

“MAKA NIKMAT TUHAN KAMU MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?”



Gambar:https://3c1703fe8d.site.internapcdn.net/newman/gfx/news/hires/2014/7-psychologist.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #351
KALBU YANG CEMAS


Fakta sudah mengajarkan kita, sesuatu yang tidak digunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya pastilah akhirnya akan rusak.

Bila kalbu rusak, apakah penyebabnya?
Tak diragukan, pastilah dia digunakan bukan untuk keperluan ibadah.

Salah satu bentuk kerusakan hati adalah rasa cemas.



Rasa cemas muncul karena sebelumnya hati digunakan untuk menerawang hasil, padahal … perkara hasil sepenuhnya adalah urusan Tuhan.
Dengan begitu menerawang hasil jelaslah bukan termasuk perkara ibadah.

Pantas saja kata ahli hikmah, “KECEMASAN TIDAK PERNAH LAHIR DARI IBADAH, MELAINKAN LANTARAN DARI MEMIKIRKAN HASIL.”



Gambar:https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #350
KETIKA KUASANYA DIABAIKAN


Bila kita sakit maka kita pun bergegas ke dokter.
Mengapa?
Apakah supaya sembuh,
ataukah semata-mata melakukan ibadah yang bernama ikhtiar?

Bila kita sadar kesembuhan sepenuhnya ada di tangan Allah bukannya di tangan dokter, niscaya akan terasa kesembuhan itu hanyalah merupakan dampak saja sedangkan tujuan utamanya adalah ibadah.



“KETIKA DAMPAK DIJADIKAN TUJUAN, KETIKA ITU KUASA ALLAH DIABAIKAN,” begitu kata ahli hikmah.



Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2267762.jpg



0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan Kalbu #349
KETIKA KALBU DITUNGGANGI EGO


Saat bekerja karena dorongan ingin kaya, bukan karena dorongan ibadah ...
Saat memberi karena dorongan kasihan, bukan karena dorongan kesadaran menunaikan perintah-Nya ….
Saat ke dokter karena dorongan ingin sembuh, bukannya semata-mata lantaran ibadah ...

Hati-hati ..., karena pada saat itu kalbu sedang ditunggangi ego!

INNA SHOLATI, WANUSUKI, WAMAHYAYA, WAMAMATI, LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN ...




Gambar :https://image.freepik.com/icones-gratis/cavalo-com-jockey-silhueta-negra_318-49270.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #348
KALBU YANG MATI


Peredam segala perilaku tercela adalah ingat akan kematian diri.

Bagaimana bila setelah ingat kematian perbuatan tercela masih tetap lanjut?

Solusinya hanya satu, yaitu berdoa.


Bermohonlah kepada-Nya agar DIA mengganti dengan kalbu yang baru, karena kalbu yang saat ini digunakan kemungkinan besar sudah mati!



Gambar:http://3.bp.blogspot.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #347
REM


Bagaimana mengendalikan mobil yang melaju kencang?
Untunglah ada rem.



Bagaimana mengendalikan perilaku liar yang tercela?
Untunglah ada rasa takut, yaitu rasa takut akan kehidupan setelah kematian.
  
REM SEGALA PERILAKU TERCELA ADALAH INGAT AKAN KEMATIAN DIRI.




Gambar: https://awsimages.detik.net.id

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #346
DI SANA DIANJURKAN DI SINI TABU


Nabi kita yang mulia, Muhammad Rasulullah SAW, memberikan petunjuk kepada kita, “Manusia yang paling cerdik ialah yang terbanyak mengingat kematian, serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah yang benar-benar cerdik, dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat”

Kenapa ya kalau di tanah air kita jangankan mengingat-ngingat kematian, ngomong soal kematian saja oleh sebagian orang Islam justru dianggap tabu …



“BARANGSIAPA TELAH MERASAKAN INGAT KEMATIAN, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN IA SENANG MENCARI PAHALA DAN BENCI TERHADAP DOSA”   ( Abu Hamzah Al-Khurasani ) 




Gambar: http://anaktelkom.com/wp-content/uploads/2016/05/Bingung.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #345
MENYADARI SIKAP HIDUP



Jalan kehidupan tidaklah selalu lurus, tapi berbelok-belok.
Pernahkah kita kebingungan belokan mana yang harus kita ambil ketika menjumpai persimpangan tiga ataupun persimpangan empat?

Begitulah, tanpa menyadari “BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP HIDUP” pasti kita sering dibingungkan ketika menjumpai “persimpangan kehidupan.”

SIKAP HIDUP YANG BENAR ADALAH YANG SELARAS DENGAN KEHENDAK~NYA



Gambar :http://3h.ca/wp-content/uploads/2013/12/Overcoming-Challenges_The-Real-Iron-Man1.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #344
GALAU



Bila suatu ketika hati diserang rasa galau apa sebab?

Tak usahlah berpayah-payah menduga, hal ini pastilah lantaran berserah dirinya sedang mengendur.

 “BARANGSIAPA YANG BERSERAH DIRI DAN BERBUAT KEBAIKAN, MAKA IA TIDAK AKAN MERASAKAN KHAWATIR ATAUPUN SEDIH”




Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Sedih1-317wfwetde57df1c8y05xc.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #343
MASA DEPAN CEMERLANG



Ketika telinga kita mendengar disampaikannya firman Allah, bagaimanakah reaksi hati? Apakah tiada rasa, datar saja bagaikan mendengar siaran berita?

Mereka yang dapat menyadari bahwa firman Allah yang didengarnya itu sejatinya adalah sumpah Sang Maha Kuasa, pastilah akan tertunduk khidmat berupaya untuk memahatnya di kalbu.

Mereka inilah yang punya “masa depan” cemerlang.


“ALLAH TELAH BERJANJI DENGAN SEBENAR-BENARNYA. ALLAH TIDAK AKAN MENGINGKARI JANJI-NYA”  -Az Zumar 20



Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Anak-dan-Quran-2zgfzirpfsoog9vtmyzxts.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #342
KALBU YANG PEKA



Kalbu yang peka mudah saja ia meyakini janji-janji Allah.
Apa yang mesti diperbuat agar kalbu peka?

Pisau akan menjadi semakin tajam bila sering dipakai,
kalbu akan semakin peka bila ia sering digunakan.

BARANG ORISINAL PASTI LEBIH BAIK, TAPI KALBU YANG ORISINAL PASTI LEBIH JELEK!



Gambar :http://kolom.abatasa.co.id/gambar/kolom-berlian-di-dalam-hafi-914_l.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #341
KEPEDEAN


Allah telah berjanji bahwa DIA tidak akan pernah menganiaya manusia.
Percayakah kita pada janji-Nya itu?


Ops …!  Jangan dulu buru-buru mengatakan “pastilah”
Tanda percaya bukanlah di bibir, melainkan pada perilaku.

MERONTA BILA MENDAPAT KETETAPAN-NYA YANG TAK NYAMAN BUKANLAH PERILAKU ORANG YANG PERCAYA PADA JANJI-NYA



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRNbYeZrmhqSp9X1q9n1-gro2Urp85eiMDhf9FEYTJA3imlFWp9

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #340
KALBU YANG TERSUMBAT


Kata-kata yang meluncur dari bibir bukanlah cerminan dari perilaku.
Perilaku merupakan cerminan dari percaya atau tidaknya kalbu pada janji-janji yang disampaikan Sang Maha Kuasa.

Allah Sang Pemilik Surga berjanji, “Barangsiapa yang dapat menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah ganjarannya”


Bila kita masih mudah marah tak usahlah berdalih macam-macam. Karena persoalannya sudah sangat jelas, yaitu tingkat kepercayaan kalbu kita pada janji Sang Maha Kuasa masih terbilang rendah. Bukankah marah termasuk salah satu keinginan nafsu?

BILA JANJI ALLAH SAJA TAK DIPERCAYA, KEMANAKAH AKAN MENCARI PEGANGAN HIDUP?




Gambar :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSgcxbGQIIhmfIVUG2rhIwzoz32lcTo11686s4dOakTr_8pGWLY

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #339
BERCERMIN DIRI


Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk immortal, tidak akan sirna namun berpindah alam. Sekarang tinggal di dunia esok lusa pindah ke alam kubur. Konsekuensi logisnya, manusia harus berkarya mengumpulkan bekal tidak hanya untuk kehidupan saat ini saja namun juga untuk kehidupan setelah lepas dari alam yang sekarang.

Berkarya untuk alam yang sekarang ini harusnya seimbang dengan berkarya untuk alam keabadian kelak.


Bila bercermin diri, saat ini aku rajin berkarya untuk membangun alam yang akan segera ditinggalkan ataukah untuk alam yang akan dituju? 

Coba saja buat statistiknya berapa % karya untuk dunia dan berapa % pula karya untuk akhirat yang sudah aku buat, seimbangkah?
Bila tampak seimbang, berarti sudah benar.

“WAHAI MANUSIA! KETAHUILAH BAHWA APA YANG ENGKAU BANGUN ITU AKHIRNYA AKAN HANCUR. USIAMU AKAN HABIS.  RAGAMU AKAN DITIMBUNI TANAH. TEMANMU HANYALAH AMAL SOLEHMU” - Hadits Qudsi



Gambar :http://3.bp.blogspot.com/-UYN-VI0v1ew/VAXZd1KiDXI/AAAAAAAAANE/jB8HoNavMgU/s1600/anigif.gif

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #338
PEMBERIAN TERINDAH



Memberi maaf jauh lebih indah dibandingkan dengan memberi dunia dengan seluruh isinya




Gambar:http://www.panjimas.com/wp-content/uploads/2015/06/maaf.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#337
MELUKIS DI ATAS AIR


Banyak orang yang bertekad akan :
… selalu ikhlas menerima musibah
… selalu pasrah bila dizalimi
… selalu tawadhu
… selalu bersyukur di waktu senang dan susah
… selalu berzikir ingat Allah di waktu duduk, berjalan, berbaring

Akankah tekad mereka itu kesampaian?


Ah, hanya berbekal tekad saja tanpa diiringi kesadaran tak ubahnya bagaikan melukis di atas air.......



Gambar :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTrqai29xzh0_sH2dk26m8cYTyqqe3lkAbg9DlfecOAd6Wye9MV

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#336
MENJADI KEKASIH ALLAH



Ada satu rahasia besar yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as. pada kita, “SALAH SATU SEBAB AKU MENJADI KEKASIH ALLAH ADALAH KARENA AKU TIDAK PERNAH MERISAUKAN SESUATU YANG TELAH DITANGGUNG OLEH-NYA.”

Ternyata untuk menjadi kekasih Allah tidaklah susah2 banget, asalkan saja tidak meragukan kemampuan-Nya.

Bisakah kita tidak meragukan kemampuan-Nya?
Janganlah terlalu cepat mengatakan bisa.

Mari kita introspeksi :
Ketika telah berikhtiar sungguh-sungguh, apakah merisaukan hasil yang akan terjadi?
Ketika berobat, apakah merisaukan datangnya kesembuhan?
Setelah bekerja dengan baik, apakah merisaukan kecukupan harta?
Setelah lama dalam kesendirian, apakah merisaukan jodoh?

Bila jawabannya iya, rupanya kita belum memenuhi kriteria sebagaimana yang dimaksud Nabi Ibrahim as.



Gambar :https://static-s.aa-cdn.net/img

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#335
DI TANGAN BUKAN DI HATI


Selama manusia belum mampu merasakan di balik kesenangan terselip ujian-Nya, boro2 ia bisa lurus, perilakunya malahan cenderung melaju ke arah nekad.

Salah satu dari sekian kenekadan itu misalnya saja ia mengakui bahwa harta itu adalah ujian. Tapi mengapa dia nekad meletakkannya di hati? Bukankah bila harta ditaruh di hati ia akan dapat menggantikan posisi Allah?



HARTA HARUS DILETAKKAN DI TANGAN,” begitu kata seorang ahli hikmah.



Gambar :https://amaryllis.pna.web.id/wp-content/uploads/2018/03/cinta-harta-722x445.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#334
PANTANG DIDUAKAN


Allah berada dimana-mana.
Pada diri manusia DIA berada lebih dekat dari urat leher, tepatnya DIA bersinggasana di dalam hati manusia.


DIA hanya akan meninggalkan singgasana-Nya apabila si pemilik hati berlaku nekad menyandingkan-Nya dengan harta, pangkat, amarah, ataupun dendam kesumat.

Begitulah, DIA selamanya tak pernah mau diduakan!

MANUSIA YANG PALING NEKAD ADALAH MEREKA YANG MELAKUKAN PERBUATAN YANG NYATA-NYATA TAK DISUKAI-NYA




Gambar :https://cdn.brilio.net

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#333
MENGORBANKAN TUHAN




Kenapa menuruti nafsu itu salah?
Sadari … menuruti nafsu adalah bahasa halus dari mengorbankan Tuhan!

BILA KITA BERPIHAK, PASTI ADA YANG DIKORBANKAN
BILA KITA BERPIHAK PADA NAFSU , TUHANLAH YANG KITA KORBANKAN!




Gambar:http://www.dharitri.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan#332
DAN SETANPUN MENANGIS


Mungkin tak pernah terbayangkan setan yang selalu digambarkan sebagai musuh kita yang canggih dan lihai itu menangis. Koq bisa?

Coba saja dirasakan bagaimana frustrasinya setan ketika ia menggoda manusia yang memiliki kemampuan sabar, kemampuan pasrah, kemampuan ikhlas, kemampuan bersyukur, apalagi kemampuan berserah diri!

Yuk kita bikin setan menangis frustrasi, makin kejer dia nangisnya semakin baik.

“MUSUH” HASUTAN ADALAH KEMAMPUAN




Gambar:http://4.bp.blogspot.com/-Jp7etrWu5ww

0 komentar: