Mutiara Tauhid Renungan #303
PILKADA



Salah satu asesoris dunia adalah jabatan. Tak heran bila yang dapat membuat menjadi “orang penting” ini diperebutkan.

Tapi, benarkah seharusnya kita berlomba-lomba menjadi orang penting?

Yang jelas mah kata kang Ebet, “MEMANG BAIK MENJADI ORANG PENTING, TAPI YANG JAUH LEBIH PENTING LAGI ADALAH MENJADI ORANG BAIK”




Gambar:http://rmol.co/images/berita/normal/2017/11/927005_02581429112017_kampanye_ilustrasi.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #302
AWAL DARI KEHIDUPAN



ALAM KUBUR BUKANLAH ALAM KEMATIAN.
Alam kubur adalah awal dari “benar2 hidup.” Bila dulu taat pada Allah dan Rasul-Nya, niscaya awal kehidupan yang sebenarnya ini akan diisi dengan bersyukur tanpa henti karena diberi kesempatan tinggal di dunia.
Sebaliknya, bila dulu “mabuk dunia” maka akan menyesal tanpa henti mengapa pernah mampir ke dunia.

Sekaranglah saatnya untuk memilih ...




Gambar: http://www.salamdakwah.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #301
PENGANTIN


Para bijak mengatakan, memasuki liang lahat bagaikan orang bangun dari tidur. Seperti apa kira-kira rasanya ya …?


Taat pada Allah membuat ketika “bangun” serasa pengantin …

TAAT PADA EGO, MEMBUAT KETIKA “BANGUN” SERASA PENJAHAT YANG AKAN DIHUKUM PANCUNG



Gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #300
GAWAT

Di awal kedatangan ke dunia, pada saat lahir, warna jiwa kita putih bersih.
Perjalanan waktu merubah warna jiwa ini.


Bila hari demi hari perilaku kita selaras dengan kehendak-Nya, warna jiwa tidak hanya putih bersih tapi juga mengkilat. Namun bila sebaliknya, warna jiwa bisa berubah jadi abu-abu bahkan hitam!

Wah, bila kita pulang dengan warna yang tidak beda dengan saat kita datang aja udah salah, bagaimana kalo hitam ya … APA NGGA GAWAT?


Gambar : http://cdn.teenink.com/artwork/Jan11/originals/f127953_1296363921.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #299
BERAT JIWA


Salah seorang sahabat agung Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab, pernah mengingatkan kita, “HITUNGLAH DIRIMU SEBELUM DIHITUNG, DAN TIMBANGLAH DIRIMU SEBELUM DITIMBANG”

Berat badan kita boleh jadi sekarang ini sudah ideal, tapi apakah “berat jiwa” juga sudah ideal?
Bila belum, mau nunggu apa lagi …??

AKU ADALAH JIWA
AKULAH YANG AKAN DITIMBANG ITU …



Gambar :http://www.syaarar.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #298
PALING PASTI


Semua manusia pada akhirnya menjadi tua, dan mati.
Menabung untuk kehidupan hari tua dan menabung untuk kehidupan setelah kematian tentunya menjadi suatu keharusan.


Mana yang harus diprioritaskan?

Yang pasti, menabung untuk hari tua BELUM PASTI aku yang bakalan menikmatinya, sedangkan menabung untuk alam kubur PASTI aku yang akan menikmatinya.



Gambar :https://i2.wp.com/gayahidupbaru.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #297
TERBALIK



Normalkah bila memburu rezeki dijadikan nomor satu, sementara memburu amal soleh dijadikan nomor dua?

Normalkah untuk sesuatu yang sudah dijamin pasti akan aku dapatkan ia aku kejar mati-matian, sementara yang tak dijamin akan aku dapatkan ia aku kejar sekenanya?

Allah sudah menjamin rezekiku, bagaimana dengan surga : sudah dijamin-Nya kah aku kelak akan tinggal di sana?



Gambar :www.pixabay.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #296
TAMPIL MENAWAN


Manusia memiliki jiwa dan raga.
Di antara keduanya manakah yang seharusnya dibuat menawan : jiwa ataukah raga?


Bila aku katakan jiwa, apakah jawaban yang kuberikan itu sudah sesuai dengan kenyataannya?
Bila belum, bagaimana jadinya bila dalam keadaan jiwa yang kumel mendadak aku dipanggil-Nya ... ?
Akan beranikah aku menatap-Nya?
Akankah DIA mengajak aku ke surga-Nya?
Lalu kemanakah aku akan pergi, bukankah dunia tempat asalku sudah hancur?

Oh Tuhan, jangankan untuk tinggal di neraka,
MENYEBUT NAMA ITU SAJA SUDAH MEMBUAT AKU TERKAPAR PERIH …



Gambar:www.pixabay.com


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #295
KESADARAN



“CELUPKAN TANGANMU DI LAUTAN, KEMUDIAN ANGKATLAH.  AIR YANG MENETES JATUH DARI JARIMU ITULAH DUNIA, SEDANGKAN LAUTAN ITULAH AKHIRAT,” demikian Nabi kita yang mulia pernah bersabda.

“Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan..” firman Allah dalam Alqur’an.

Jadi, manakah yang lebih bernilai : kehidupan di alam dunia ataukah kehidupan selepas dari alam dunia?


Gambar :www.pixabay.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #294
SURGA PILIHAN DIRI



Allah menyediakan surga untuk manusia tidak datar, tapi bertingkat tujuh. Adapun perbedaannya terletak pada ‘”kemuliaannya.”

SUDAHKAH KITA MEMILIH MAU TINGGAL DI TINGKAT YANG MANA?

Bila kita memilih tinggal di tingkat tujuh, yaitu bersama dengan Muhammad Rasulullah, para Nabi, orang-orang bijak yang bertakwa, maka ketaatan kita haruslah prima.
Tapi bila kita sudah puas dengan pilihan tingkat satu saja, yaitu bergabung selamanya dengan komunitas para bayi, anak-anak idiot, atau orang gila dari sejak kecil, cukuplah dengan ketaatan seadanya saja.

Masa sih makhluk yang sempurna milihnya bergabung dengan anak2 idiot dan kumpulan orang gila?



Ganbar : http://www.sesawi.net

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #293
BERKARYA


Biar dia menghujatku, yang penting bukan aku yang menghujatnya ..
Biar dia memfitnahku, yang penting bukan aku yang memfitnahnya ..
Biar dia memakiku, yang penting bukan aku yang memakinya ..
Biar dia membenciku, yang penting bukan aku yang membencinya ..


WALAUPUN KIAMAT BESOK, BENIH AKAN TETAP KUTANAM …



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan # 292
PUNAH



Tsunami meluluh lantakkan Aceh.
Tak terhitung karya terbaik anak bangsa ini yang dibuat dengan perasan otak serta cucuran keringat sirna dalam sekejap dilahap tsunami yang bagaikan raksasa kelaparan ini.

Semoga kejadian ini membuat kita sadar, TIDAK ADA SATUPUN KARYA MANUSIA YANG TAK AKAN PUNAH KECUALI HANYA AMAL SOLEH.




Gambar:http://media.nationalgeographic.co.id

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #291
PRIHATIN



Manusia adalah makhluk pengembara. Alam dunia ini hanyalah secuil saja dari perjalanan yang harus dilewati. Orang yang mau “mikir” akan menyadari bahwa kenikmatan sejati bagi seorang pengembara tempatnya bukan di perjalanan, melainkan di tujuan. Karena itu hidup prihatin di perjalanan mestinya suatu keharusan.

Bila suatu ketika muncul hasrat ingin melakukan maksiat yang semuanya nikmat itu, tinggalkan saja, tahanlah air liur … bukankah kita sedang prihatin? Begitu juga bila kita mau bergunjing, tahanlah …
Nanti di alam tujuan kita akan menikmati kenikmatan tiada tara yang bedanya bak langit dan bumi dengan kenikmatan yang dapat disajikan oleh dunia.

“KENIKMATAN YANG PALING PUNCAK DI DUNIA, TIADALAH SEUJUNG KUKUNYA KENIKMATAN DI SURGA,” begitulah kata Nabi kita yang mulia.



Gambar:https://kampussamudrailmuhikmah.files.wordpress.com/2015/04/kampus-samudra-ilmu-hikmah4.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #290
BINATANG KESAYANGAN


Bolehkah kita memelihara binatang?
Tentu saja boleh.
Persoalannya mereka dikandanginnya dimana?
Kalo dikandanginnya di halaman rumah, aman.


Tapi kalo dikandanginnya di hati, gawat!
Memangnya bisa ...?

Bila kita masih rakus layaknya babi
atau masih riya’ layaknya burung merak,
atau barangkali masih licik layaknya rubah,
maka kita perlu “mikir” :
JANGAN-JANGAN KITA PUNYA PIARAAN BINATANG YANG SAKING SAYANGNYA MEREKA ITU KITA KANDANGIN DI HATI !




Gambar:https://pbs.twimg.com/profile_images/485723952711364609/J3r6YaCo.jpeg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #289
MEMANFAATKAN PELUANG


Banyak orang  yang memaknai alam kubur hanya sebatas alam penantian menunggu malaikat Israfil meniup terompet sangsakala sebagai tanda kiamat.

Sebenarnya alam kubur lebih tepat dimaknai sebagai “alam kemurahan” yang disediakan Allah untuk memperbanyak pahala yang dibutuhkan kelak ketika kita ditimbang.


“ADA TIGA PERBUATAN YANG PAHALANYA AKAN TERUS MENGALIR SETELAH KEMATIAN,”  demikian disampaikan oleh Nabi kita yang mulia.

Nah, ada peluang nih …



Gambar:https://i1.wp.com/umrohhajiwisata.com/wp-content/uploads/2017/12/17123254699_c2f412c9ee_b_2.jpg?resize=708%2C430

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #288
BERSYUKUR DAN PENYESALAN



Mengapa ada bersyukur?  Mengapa pula ada penyesalan?
BERSYUKUR DAN PENYESALAN TERJADI KARENA BEDA MEMPERLAKUKAN PELUANG.

Bila semasa hidup taat pada Allah dan Rasul-Nya, maka di alam berikutnya akan bersyukur tanpa henti karena diberi kesempatan tinggal di dunia.

Sebaliknya bila semasa hidup “mabuk dunia,” maka di alam berikutnya akan menyesal tanpa henti karena dulu pernah mampir di dunia.



Gambar:www.shutterstock.com





0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #287
KURANG MIKIR


Hidup di dunia bagi sang jiwa adalah semata-mata untuk diuji.
Rasakan saja, bila tidak ada ujian-ujian akankah ada surga dan neraka?

Dalam ketidaknyamanan kita selalu dapat merasakan ujian-Nya.


APAKAH DALAM KENYAMANAN KITA JUGA MERASAKAN ADANYA UJIAN ALLAH?

Bila tidak, ini boleh jadi salah satu pertanda bahwa kita masih kurang banyak “mikir” ...



Gambar:https://i1.wp.com/www.islamkafah.com/wp-content/uploads/2017/07/money1.jpg?fit=600%2C315&ssl=1

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #286
ADA HARGA ADA BARANG


Manusia dari sananya diberi kemerdekaan oleh Sang Pencipta untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Bila kita mau “mikir,” tentunya kita akan menyadari bahwa setiap pilihan pastilah ada harganya.

Bila memilih yang perlu perjuangan serius, yaitu taat pada kehendak Allah, harganya surga. Sedangkan bila memilih yang semudah membalikkan telapak tangan, yaitu taat pada kehendak ego, harganya neraka.



Memang begitulah sunatullahnya, ada harga ada barang.



Gambar:www.pixabay.com


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #285
BANGUN SEBELUM MATI



“SESUNGGUHNYA KEBANYAKAN DARI MANUSIA ITU “TERTIDUR” DAN BARU “TERBANGUN” KETIKA IA MATI,” begitulah Nabi kita yang mulia pernah bersabda.

Semua orang juga ngerti sebelum “terbangun” ngga mungkinlah langkahnya bakalan lurus.
Ya iyalah ..., gimana bisa lurus bila :
Tuhannya aja uang, bukannya Allah
Kitabnya internet, bukannya Alqur’an
Yang dikejar jabatan, bukannya amal soleh
Suri teladannya seleberiti, bukannya Muhammad Rasulullah

SEBELUM MATI KITA HARUS “BANGUN” DULU AH ….



Gambar:www.sleepassociation.org

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #284
TAK PERLU NEKAD



Dunia dijadikan Allah sebagai perhiasan bagi manusia, demikian menurut Alqur’an.
Walaupun kita boleh memakai perhiasan apapun, namun akal sehat tentunya tak boleh ditinggalkan. Kita tak perlu nekad memakai perhiasan2 mahal bila berjalan di tempat rawan kejahatan yang dapat membahayakan keselamatan kita.

Begitu juga, kita tak perlu nekad memanjakan keinginan pada dunia yang dapat melalaikan urusan ukhrowi.

“JANGANLAH ENGKAU MEMASUKI DUNIA YANG DAPAT MEMBAHAYAKAN AKHIRATMU,” begitu nasihat Lukman Al-Hakim jauh sebelum turunnya Alqur’an.



Gambar:https://dashboard.masjidku.id


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #283
BUAH KULDI


Aku aslinya bukanlah penduduk dunia, aku datang dari surga. Karena ada tugas penting, aku dimutasikan-Nya ke dunia.
Tuhanku Yang Maha Pengasih Maha Penyayang tidak begitu saja melepaskan aku di dunia. Dia membekaliku dengan Alqur’an dan Rasul-Nya agar aku bisa hidup serasa di surga.



Seperti layaknya di surga, di dunia pun aku boleh melakukan apa saja yang aku mau asalkan bukan “buah kuldi.”
Aku boleh setiap hari gonta ganti mobil baru asalkan tidak membuatku lalai dari mengingatNya, ataupun takabur berbangga diri.
Aku boleh berbaju buatan perancang kelas dunia, asalkan tetap rendah hati dan tidak memperlihatkan auratku.
Aku boleh ... ah layaknya seperti di surga apapun boleh aku lakukan ..., asalkan jangan “buah kuldi” saja.



Gambar:http://3.bp.blogspot.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #282
BUKAN NEKAD



Seorang wanita tampak berdoa mengangkat tangannya. Di antara isak tangisnya, sayup-sayup terdengar suaranya lirih :

Ya Allah … sekiranya aku beribadah lantaran mengharapkan surgaMu, jauhkanlah surga itu dariku …
Ya Allah … sekiranya aku beribadah lantaran takut Engkau masukan ke neraka, tempatkanlah aku di dasar neraka …

Semoga saja suatu hari kelak sebelum ajal menjemput, aku pun berani mengatakan ini.  semoga … semoga …. semoga ….

PECINTA BUKANLAH ORANG YANG MENGHARAPKAN DARI KEKASIHNYA SUATU IMBALAN ATAU MENUNTUT DARINYA SUATU KEPERLUAN  (Ibn ‘Atha’illah)



Gambar:www.hawa.co.id

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #281
MANUSIA ARIF


Allah Yang Maha Suci tidak akan mengingkari janji-janjiNya.
Salah satu janjiNya : DIA akan menempatkan di surga orang-orang yang taat padaNya dan RasulNya.



Sebenarnya dalam beribadah kita tidak perlu mengungkit-ngungkit pahala ataupun surga. Lakukan saja tugas beribadah sebaik-baiknya, tak usah menuntut hak pahala apalagi hak surga padaNya, biarkanlah DIA menunaikan janjiNya.

“JANJI TUHAN MEMBUAT PAMRIH MENJADI LENYAP,”  begitu kata ahli hikmah.


Gambar:www.rawstory.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #280
WADUUH !



Dari 208 negara, Indonesia berada di urutan ke140!
Inilah hasil survey pada tahun 2010 yang lalu tentang “Negara manakah yang paling Islami?” oleh dua orang professor Muslim yaitu Hossein Askari dan Scheherazade S Rehman.
Sebagai juara pertamanya adalah New Zealand. Indonesia masih jauh ketinggalan bahkan dibandingkan Malaysia yang berada di urutan ke 38.

Kita tentu ngga rela, bukankah kita adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia?  Bukankah kita negara yang setiap tahunnya jamaah hajinya terbanyak sedunia? Bukankah kita negara dengan jumlah pesantrennya terbanyak sedunia?
Bukankah … ah, masih banyak lagi …
Mungkinkah penduduk Indonesia kurang “mikir”?  Nah, kalo ini belum ada yang melakukan surveinya.  Mungkin Anda berminat, siapa tahu lho Indonesia  juaranya …



Gambar:www.stockvault.com


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #279
ORISINAL


Barang orisinal tidak selalu lebih baik.
Onderdil mobil yang orisinal memang lebih baik, tapi “onderdil” manusia?


Bila kita lihat otak, mana yang lebih baik : otak yang masih orisinal (bahasa terangnya jarang dipake) atau otak yang sering digunakan?
Bagaimana pula dengan kalbu, mana yang lebih baik : kalbu yang masih orisinal atau kalbu yang sering dipake?
Bila kalbu sering digunakan ia akan jadi cerdas, ibarat pisau yang sering diasah. Tak heran bila ia punya kemampuan bersyukur, sabar, ikhlas, berserah diri, rendah hati, pemaaf. Nah gampang dimengerti, mudah marah, suudzon, menghujat, culas adalah cerminan dari kalbu yang masih orisinal.

Mengapa ketakwaan kita tidak juga kunjung meningkat?
Jangan-jangan bukannya lantaran kurang banyak mendengarkan tausiah, tetapi karena kita lebih suka mempertahankan kalbu tetap orisinal ketimbang digunakan untuk bertafakur.



Gambar:www.unsplash.com



0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #278
KAMBING HITAM


Tidaklah diragukan lagi, Tuhan menciptakan kita dengan tujuan semata-mata untuk beribadah. Karena itu tidaklah mengherankan bila di mata Tuhan manusia yang hebat itu adalah yang bertakwa. Di lapangan, populasi orang yang melaksanakan ibadah secara ala kadarnya jauh lebih banyak ketimbang orang yang melakukannya dengan sepenuh hatinya. Mereka mengatakan ibadah itu sulit karena adanya setan yang selalu menghasut. Benarkah?


Setan itu ada tidaklah disangsikan. Namun bila malas beribadah gara-gara ulah setan, janganlah terburu-buru mengkambing-hitamkannya dulu. Jangan-jangan ibadah itu sulit dikarenakan karena kesalahan kita, yaitu kita kurang rela “mikir” sehingga kemampuan kalbu kita minim!

BUKANKAH TANPA KEMAMPUAN, HAL SEKECIL APAPUN AKAN TERASA SULIT?



Gambar:www.pixabay.com

0 komentar: