Mutiara Tauhid Renungan #45
PENGANTIN

Para bijak mengatakan, memasuki liang lahat bagaikan orang bangun dari tidur. Seperti apa kira-kira rasanya ya …? 

Taat pada Allah membuat ketika “bangun” serasa pengantin …..............



TAAT PADA EGO, MEMBUAT KETIKA “BANGUN” SERASA PENJAHAT YANG AKAN DIHUKUM PANCUNG 



Gambar : pixabay.com

9 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #44
GAWAT

Di awal kedatangan ke dunia, pada saat lahir, warna jiwa kita putih bersih.
Perjalanan waktu merubah warna jiwa ini.
Bila hari demi hari perilaku kita selaras dengan kehendak-Nya, warna jiwa tidak hanya putih bersih tapi juga mengkilat. Namun bila sebaliknya, warna jiwa bisa berubah jadi abu-abu bahkan hitam!

Wah, bila kita pulang dengan warna yang tidak beda dengan saat kita datang aja udah salah, bagaimana kalo hitam ya … APA NGGA GAWAT?




Gambar : dreamstime.com

20 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #43
BERAT JIWA

Salah seorang sahabat agung Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab, pernah mengingatkan kita, “HITUNGLAH DIRIMU SEBELUM DIHITUNG, DAN TIMBANGLAH DIRIMU SEBELUM DITIMBANG” 


Berat badan kita boleh jadi sekarang ini sudah ideal, tapi apakah “berat jiwa” juga sudah ideal?
Bila belum, mau nunggu apa lagi …??

Aku adalah jiwa
Akulah yang akan ditimbang itu …





Gambar : dreamstime.com

21 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #42
PALING PASTI

Semua manusia pada akhirnya menjadi tua, dan mati.
Menabung untuk kehidupan hari tua dan menabung untuk kehidupan setelah kematian tentunya menjadi suatu keharusan.


Mana yang harus diprioritaskan?

Yang pasti, menabung untuk hari tua BELUM PASTI aku yang bakalan menikmatinya, sedangkan menabung untuk alam kubur PASTI aku yang akan menikmatinya.


  


Gambar : pixabay.com

12 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #41
TERBALIK

Normalkah bila memburu rezeki dijadikan nomor satu, sementara memburu amal soleh dijadikan nomor dua?


Normalkah untuk sesuatu yang sudah dijamin pasti akan aku dapatkan ia aku kejar mati-matian, sementara yang tak dijamin akan aku dapatkan ia aku kejar sekenanya? 

Allah sudah menjamin rezekiku, bagaimana dengan surga : sudah dijamin-Nya kah aku kelak akan tinggal di sana?



Gambar : pixabay.com

16 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #40
TAMPIL MENAWAN

Manusia memiliki jiwa dan raga.

Di antara keduanya manakah yang seharusnya dibuat menawan : jiwa ataukah raga?

Bila aku katakan jiwa, apakah jawaban yang kuberikan itu sudah sesuai dengan kenyataannya?

Bila belum, bagaimana jadinya bila dalam keadaan jiwa yang kumel mendadak aku dipanggil-Nya ... ?

Akan beranikah aku menatap-Nya?
Akankah DIA mengajak aku ke surga-Nya?
Lalu kemanakah aku akan pergi, bukankah dunia tempat asalku sudah hancur? 

Oh Tuhan, jangankan untuk tinggal di neraka,

MENYEBUT NAMA ITU SAJA SUDAH MEMBUAT AKU TERKAPAR PERIH …



Gambar : pixabay.com

10 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #39
KESADARAN



“CELUPKAN TANGANMU DI LAUTAN, KEMUDIAN ANGKATLAH.  AIR YANG MENETES JATUH DARI JARIMU ITULAH DUNIA, SEDANGKAN LAUTAN ITULAH AKHIRAT,” demikian Nabi kita yang mulia pernah bersabda.

“Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan..” firman Allah dalam Alqur’an.

Jadi, manakah yang lebih bernilai : kehidupan di alam dunia ataukah kehidupan selepas dari alam dunia?


Gambar : www.dreamstime.com

11 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #38
SURGA PILIHAN DIRI

Allah menyediakan surga untuk manusia tidak datar, tapi bertingkat tujuh. Adapun perbedaannya terletak pada ‘”kemuliaannya.”

SUDAHKAH KITA MEMILIH MAU TINGGAL DI TINGKAT YANG MANA?


Bila kita memilih tinggal di tingkat tujuh, yaitu bersama dengan Muhammad Rasulullah, para Nabi, orang-orang bijak yang bertakwa, maka ketaatan kita haruslah prima.
Tapi bila kita sudah puas dengan pilihan tingkat satu saja, yaitu bergabung selamanya dengan komunitas para bayi, anak-anak idiot, atau orang gila dari sejak kecil, cukuplah dengan ketaatan seadanya saja.

Masa sih makhluk yang sempurna milihnya bergabung dengan anak2 idiot dan kumpulan orang gila?


Gambar : pixabay.com

23 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #37
BERKARYA

Biar dia menghujatku, yang penting bukan aku yang menghujatnya ..
Biar dia memfitnahku, yang penting bukan aku yang memfitnahnya ..
Biar dia memakiku, yang penting bukan aku yang memakinya ..
Biar dia membenciku, yang penting bukan aku yang membencinya .. 

WALAUPUN KIAMAT BESOK, BENIH AKAN TETAP KUTANAM …









Gambar : www.pixabay.com


25 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #36
PUNAH



Tsunami meluluh lantakkan Aceh.
Tak terhitung karya terbaik anak bangsa ini yang dibuat dengan perasan otak serta cucuran keringat sirna dalam sekejap dilahap tsunami yang bagaikan raksasa kelaparan ini.

Semoga kejadian ini membuat kita sadar, TIDAK ADA SATUPUN KARYA MANUSIA YANG TAK AKAN PUNAH KECUALI HANYA AMAL SOLEH.

18 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #35
PRIHATIN


Manusia adalah makhluk pengembara. Alam dunia ini hanyalah secuil saja dari perjalanan yang harus dilewati. Orang yang mau “mikir” akan menyadari bahwa kenikmatan sejati bagi seorang pengembara tempatnya bukan di perjalanan, melainkan di tujuan. Karena itu hidup prihatin di perjalanan mestinya suatu keharusan.

Bila suatu ketika muncul hasrat ingin melakukan maksiat yang semuanya nikmat itu, tinggalkan saja, tahanlah air liur … bukankah kita sedang prihatin? Begitu juga bila kita mau bergunjing, tahanlah …
Nanti di alam tujuan kita akan menikmati kenikmatan tiada tara yang bedanya bak langit dan bumi dengan kenikmatan yang dapat disajikan oleh dunia.

“KENIKMATAN YANG PALING PUNCAK DI DUNIA, TIADALAH SEUJUNG KUKUNYA KENIKMATAN DI SURGA,” begitulah kata Nabi kita yang mulia.



Gambar : www.pixabay.com

13 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #34
BINATANG KESAYANGAN

Bolehkah kita memelihara binatang?
Tentu saja boleh.
Persoalannya mereka dikandanginnya dimana?
Kalo dikandanginnya di halaman rumah, aman.
Tapi kalo dikandanginnya di hati, gawat!
Memangnya bisa ...?


Bila kita masih rakus layaknya babi
atau masih riya’ layaknya burung merak,
atau barangkali masih licik layaknya rubah,
maka kita perlu “mikir” :

JANGAN-JANGAN KITA PUNYA PIARAAN BINATANG YANG SAKING SAYANGNYA MEREKA ITU KITA KANDANGIN DI HATI !






Gambar : www.dreamstime.com


12 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #33
MEMANFAATKAN PELUANG

Banyak orang  yang memaknai alam kubur hanya sebatas alam penantian menunggu malaikat Israfil meniup terompet sangsakala sebagai tanda kiamat.

Sebenarnya alam kubur lebih tepat dimaknai sebagai “alam kemurahan” yang disediakan Allah untuk memperbanyak pahala yang dibutuhkan kelak ketika kita ditimbang.


“ADA TIGA PERBUATAN YANG PAHALANYA AKAN TERUS MENGALIR SETELAH KEMATIAN,”  demikian disampaikan oleh Nabi kita yang mulia.


Nah, ada peluang nih …





Gambar : www.pixabay.com


15 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #32
BERSYUKUR dan PENYESALAN


Mengapa ada bersyukur ?  Mengapa pula ada penyesalan ?
BERSYUKUR DAN PENYESALAN TERJADI KARENA BEDA MEMPERLAKUKAN PELUANG.

Bila semasa hidup taat pada Allah dan Rasul-Nya, maka di alam berikutnya akan bersyukur tanpa henti karena diberi kesempatan tinggal di dunia.


Sebaliknya bila semasa hidup “mabuk dunia,” maka di alam berikutnya akan menyesal tanpa henti karena dulu pernah mampir di dunia.





Gambar : www.pixabay.com

9 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #31
KURANG MIKIR

Hidup di dunia bagi sang jiwa adalah semata-mata untuk diuji.
Rasakan saja, bila tidak ada ujian-ujian akankah ada surga dan neraka?
Dalam ketidaknyamanan kita selalu dapat merasakan ujian-Nya.

APAKAH DALAM KENYAMANAN KITA JUGA MERASAKAN ADANYA UJIAN ALLAH?


Bila tidak, ini boleh jadi salah satu pertanda bahwa kita masih kurang banyak “mikir” ...






Gambar : www.pixabay.com



25 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #30
ADA HARGA ADA BARANG


Manusia dari sananya diberi kemerdekaan oleh Sang Pencipta untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Bila kita mau “mikir,” tentunya kita akan menyadari bahwa setiap pilihan pastilah ada harganya. 


Bila memilih yang perlu perjuangan serius, yaitu taat pada kehendak Allah, harganya surga. Sedangkan bila memilih yang semudah membalikkan telapak tangan, yaitu taat pada kehendak ego, harganya neraka.
  
MEMANG BEGITULAH SUNATULLAHNYA, ADA HARGA ADA BARANG.






Gambar : www.pixabay.com

15 komentar: