Mutiara Tauhid Renungan #304
SATU SAJA


Semua manusia menginginkan kembali ke tempat asalnya semula yaitu surga.  Untuk ini ia harus mendaki jalan berliku ribuan bahkan bisa jutaan tahun lamanya.
Dan apakah akhirnya ia akan sampai di tujuan atau tidak, ditentukan oleh satu hal saja yaitu kesediaannya taat mengikuti kehendak2 Sang Pencipta.



Semoga kita tak berhenti bertafakur, karena sungguh tak terbayangkan apa jadinya bila setelah menjalani perjalanan yang begitu panjang ribuan atau jutaan tahun, boro-boro nyampe di tujuan ...
Ah,  mendekatinya pun sama sekali tidak.



Gambar: https://1.bp.blogspot.com/--0gpnO706gs/UZtVI21a6MI/AAAAAAAABXM/wr2bhDOdE0A/s1600/telunjuk+2.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #303
PILKADA



Salah satu asesoris dunia adalah jabatan. Tak heran bila yang dapat membuat menjadi “orang penting” ini diperebutkan.

Tapi, benarkah seharusnya kita berlomba-lomba menjadi orang penting?

Yang jelas mah kata kang Ebet, “MEMANG BAIK MENJADI ORANG PENTING, TAPI YANG JAUH LEBIH PENTING LAGI ADALAH MENJADI ORANG BAIK”




Gambar:http://rmol.co/images/berita/normal/2017/11/927005_02581429112017_kampanye_ilustrasi.jpg


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #302
AWAL DARI KEHIDUPAN



ALAM KUBUR BUKANLAH ALAM KEMATIAN.
Alam kubur adalah awal dari “benar2 hidup.” Bila dulu taat pada Allah dan Rasul-Nya, niscaya awal kehidupan yang sebenarnya ini akan diisi dengan bersyukur tanpa henti karena diberi kesempatan tinggal di dunia.
Sebaliknya, bila dulu “mabuk dunia” maka akan menyesal tanpa henti mengapa pernah mampir ke dunia.

Sekaranglah saatnya untuk memilih ...




Gambar: http://www.salamdakwah.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #301
PENGANTIN


Para bijak mengatakan, memasuki liang lahat bagaikan orang bangun dari tidur. Seperti apa kira-kira rasanya ya …?


Taat pada Allah membuat ketika “bangun” serasa pengantin …

TAAT PADA EGO, MEMBUAT KETIKA “BANGUN” SERASA PENJAHAT YANG AKAN DIHUKUM PANCUNG



Gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #300
GAWAT

Di awal kedatangan ke dunia, pada saat lahir, warna jiwa kita putih bersih.
Perjalanan waktu merubah warna jiwa ini.


Bila hari demi hari perilaku kita selaras dengan kehendak-Nya, warna jiwa tidak hanya putih bersih tapi juga mengkilat. Namun bila sebaliknya, warna jiwa bisa berubah jadi abu-abu bahkan hitam!

Wah, bila kita pulang dengan warna yang tidak beda dengan saat kita datang aja udah salah, bagaimana kalo hitam ya … APA NGGA GAWAT?


Gambar : http://cdn.teenink.com/artwork/Jan11/originals/f127953_1296363921.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #299
BERAT JIWA


Salah seorang sahabat agung Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab, pernah mengingatkan kita, “HITUNGLAH DIRIMU SEBELUM DIHITUNG, DAN TIMBANGLAH DIRIMU SEBELUM DITIMBANG”

Berat badan kita boleh jadi sekarang ini sudah ideal, tapi apakah “berat jiwa” juga sudah ideal?
Bila belum, mau nunggu apa lagi …??

AKU ADALAH JIWA
AKULAH YANG AKAN DITIMBANG ITU …



Gambar :http://www.syaarar.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #298
PALING PASTI


Semua manusia pada akhirnya menjadi tua, dan mati.
Menabung untuk kehidupan hari tua dan menabung untuk kehidupan setelah kematian tentunya menjadi suatu keharusan.


Mana yang harus diprioritaskan?

Yang pasti, menabung untuk hari tua BELUM PASTI aku yang bakalan menikmatinya, sedangkan menabung untuk alam kubur PASTI aku yang akan menikmatinya.



Gambar :https://i2.wp.com/gayahidupbaru.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #297
TERBALIK



Normalkah bila memburu rezeki dijadikan nomor satu, sementara memburu amal soleh dijadikan nomor dua?

Normalkah untuk sesuatu yang sudah dijamin pasti akan aku dapatkan ia aku kejar mati-matian, sementara yang tak dijamin akan aku dapatkan ia aku kejar sekenanya?

Allah sudah menjamin rezekiku, bagaimana dengan surga : sudah dijamin-Nya kah aku kelak akan tinggal di sana?



Gambar :www.pixabay.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #296
TAMPIL MENAWAN


Manusia memiliki jiwa dan raga.
Di antara keduanya manakah yang seharusnya dibuat menawan : jiwa ataukah raga?


Bila aku katakan jiwa, apakah jawaban yang kuberikan itu sudah sesuai dengan kenyataannya?
Bila belum, bagaimana jadinya bila dalam keadaan jiwa yang kumel mendadak aku dipanggil-Nya ... ?
Akan beranikah aku menatap-Nya?
Akankah DIA mengajak aku ke surga-Nya?
Lalu kemanakah aku akan pergi, bukankah dunia tempat asalku sudah hancur?

Oh Tuhan, jangankan untuk tinggal di neraka,
MENYEBUT NAMA ITU SAJA SUDAH MEMBUAT AKU TERKAPAR PERIH …



Gambar:www.pixabay.com


0 komentar: