Mutiara Tauhid Renungan #456
MULAI DARI MANA

 


Dari manakah kita harus mulai bila ingin bisa meneladani perilaku Muhammad Rasulullah SAW?

Kata kuncinya, perilaku adalah hanya cerminan dari keyakinan yang tertanam di kalbu. Bila semua keyakinan kita sama dengan keyakinan Rasulullah maka tanpa kita maupun perilaku kita otomatis akan sama dengan beliau.

Saatnya menyadari …, kita hanya bisa mengcopy perilaku Rasulullah SAW bila kita mengcopy keyakinan2 beliau.

PENYEBAB TIDAK BISANYA MENELADANI RASULULLAH SAW BUKANLAH LANTARAN BELIAU SEORANG NABI, TAPI KARENA BANYAKNYA KEYAKINAN KITA YANG TIDAK SAMA DENGAN KEYAKINAN BELIAU

 


Gambar:https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2019/12/17/69/1472374/muhammad-saw-sang-mutiara-6-PuN-thumb.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #455
MEMILIH SURI TELADAN

Siapakah yang layak kita jadikan sebagai suri teladan : orang tua, tokoh masyarakat, ulama, ataukah orang bijak?

Pilihan siapa yang akan dijadikan suri teladan sangat tergantung dari apa tujuan hidup kita.

Bila tujuan hidup kita ingin menjadi orang yang berperilaku selaras dengan kehendak Tuhan, mereka semua yang disebutkan di atas tidak ada yang bisa dijadikan sebagai suri teladan.

Lalu siapakah yang pantas dijadikan suri teladan bila ingin berperilaku hidup yang selaras dengan kehendak-Nya?

Mudah saja, ia haruslah orang yang direkomendasikan oleh DIA sendiri.

Saatnya menyadari …, satu-satunya manusia yang direkomendasikan Allah sebagai suri teladan bagaimana berperilaku yang selaras dengan kehendak-Nya hanyalah Muhammad Rasulullah SAW.

Ya, hanya beliau seoranglah yang paling tahu secara persis apa-apa saja yang dikehendaki-Nya. Adapun yang lain bisanya hanyalah sekedar menduga saja.




ORANG YANG TAK MUNGKIN SALAH MEMAHAMI KEHENDAK2 ALLAH HANYALAH MUHAMMAD RASULULLAH SAW

 

 

Gambar:https://assets.pikiran-rakyat.com/crop/0x0:0x0/750x500/photo/galamedia/191209001103-nabi-.jpg

 

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #454
SURI TELADAN

Perlukah kita mempunyai seorang suri teladan?

Ops …, jangan terburu-buru mengatakan pastilah perlu.

Bila yang kita inginkan adalah menjadi orang yang banyak bermanfaat bagi orang lain, tentunya tak perlu. Bukankah tanpa seorang suri teladan pun kita dapat berbuat banyak kebaikan?

Begitu juga bila yang kita inginkan adalah menjadi orang yang dekat dengan Tuhan, tentunya tak perlu suri teladan. Bukankah banyak guru yang dapat mengajarkan kita untuk dapat dekat dengan Tuhan?

Tapi bila yang kita inginkan menjadi orang yang berperilaku selaras dengan kehendak Sang Maha Kuasa, nah ini mau tidak mau mutlak harus punya suri teladan. Apa pasal?

Penjelasannya sederhana saja, yaitu karena kita tidak bisa tahu secara persis apa-apa saja yang dikehendaki olehTuhan!


ORANG YANG TAK MUNGKIN SALAH MEMAHAMI KEHENDAK
2 ALLAH HANYALAH MUHAMMAD RASULULLAH SAW

 

 

Gambar:https://cdns.klimg.com/merdeka.com

 

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #453
YANG SEBENARNYA



Islam adalah rahmatan lil ‘alamin,

Islam adalah damai,

Islam adalah anti pemaksaan.

Kenyataan di atas tertangkap jelas oleh seorang bijak asal India,  Mahatma Gandhi. Inilah kata beliau :

“Islam berkembang bukan karena pedang, melainkan karena akhlak Muhammad.”

KEKERASAN TIDAKLAH MELAHIRKAN PENCERAHAN, TETAPI IA BAKAL MELAHIRKAN KEKERASAN BARU

 


Gambar:https://jalandamai.org/wp-content/uploads/2016/05/Bumi-damai-ilustrasi-Shutterstock.jpg

 

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #452
ORANG ARIF

 


Bila ibadah masih dirasakan sebagai kewajiban, mungkinkah kita bisa menjadi orang arif?

Ah, rasanya tak mungkin.

Koq..?

DARI KEWAJIBAN CENDERUNG AKAN MUNCUL PAMRIH,

SEDANGKAN DARI KEBUTUHAN AKAN MUNCUL KECINTAAN

KETIKA ORANG SUDAH MENYADARI APA YANG PALING BERHARGA BAGI DIRINYA, BARULAH IA AKAN DAPAT MERASAKAN BUTUHNYA SYAHADAT, ZAKAT, PUASA, HAJI, SHALAT, …

 

Gambar:https://www.aswajadewata.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #451
ALQURAN

 

Mungkinkah tanpa berpedoman pada Alqur’an akan masuk surga?

Ah, rasanya sulit. Why?

Persoalannya manusia bukanlah makhluk yang serba tahu, tanpa berpedoman pada Alqur’an boleh jadi upaya yang dilakukannya untuk meraih surga itu keliru.

Coba saja …

Benarkah untuk meraih surga cukup dengan berakhlak mulia? Benarkah untuk meraih surga dengan cara menjadi orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain? Benarkah untuk meraih surga dengan cara dekat kepada~Nya? Atau, benarkah untuk meraih surga dengan cara selalu pasrah menerima ketetapan~Nya?

Gawat kan bila kita yakin benar, padahal keliru!

“BARANGSIAPA YANG TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA; NISCAYA ALLAH AKAN MEMASUKKANNYA KE DALAM SURGA” ( AL FATH 17 )

 

Gambar:https://www.infoyunik.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #450
KEMAMPUAN MANUSIA VS KEMAMPUAN KITA

 


DIA Yang Maha Bijaksana sangat tidak mungkin akan menimpakan sesuatu bila sesuatu itu berada di luar batas kemampuan manusia.

Benarkah demikian? Mengapa sering kali kita dengar orang yang bunuh diri, bukankah mereka melakukan itu dikarenakan sudah tak sanggup lagi menanggung ujian-Nya?

Saatnya menyadari …, “kemampunan manusia” dan “kemampuan kita” adalah sesuatu yang sangat berbeda jauh. “Kemampuan manusia” pasti sama, sedangkan “kemampuan kita” pasti berbeda-beda.

ALLAH TIDAK MUNGKIN MEMBERI UJIAN DI LUAR BATAS KEMAMPUAN MANUSIA, TETAPI DIA SANGAT MUNGKIN MEMBERI UJIAN DI LUAR KEMAMPUAN YANG KITA MILIKI

 

Gambar:https://blue.kumparan.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #449
KENYATAAN

 


Tak pernah ketidaknyamanan diizinkan~Nya berjalan telanjang, ia harus selalu dibalut hikmah.

Ketidaknyamanan bukanlah kenyataan, ia hanyalah sindrom.

Hikmah yang menyertainya itulah yang sebenar-benarnya kenyataan.

PENYEBAB UTAMA DARI PENDERITAAN ADALAH KELALAIAN DALAM MENGERTI KENYATAAN

 

Gambar:https://cdn2.tstatic.net

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #448
PANTASNYA BAGAIMANA

 


Ketika Allah menghujaniku dengan kesulitan kehidupan, pantasnya aku berterima kasih ataukah ‘ngedumel’?

Saatnya menyadari …, bukankah tanpa melalui kesulitan manusia tidak mungkin dapat menjadi tabah dan berjiwa lapang?

Alqur’an mengingatkan kita, “Sesungguhnya Allah itu tidak menyukai orang2 yang berkhianat dan tidak berterima kasih.”

SENANG DAN SUSAH ITU SAMA SAJA, YAITU KEDUA-DUANYA BUKANLAH YANG KITA CARI

 

Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2540960.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #447
UNTUK AKU SENDIRI

 


Nabi kita yang mulia bersabda, “Satu orang yang mendapatkan petunjuk (hidayah) Allah di tanganmu, adalah lebih baik bagimu dari apa yang diterbitkan oleh matahari”

Saatnya menyadari …, menyampaikan kebenaran itu sejatinya bagi kepentingan diriku sendiri.

BERTERIMA KASIHLAH PADA MEREKA YANG MAU MENDENGAR KEBENARAN YANG KITA SAMPAIKAN

 

Gambar:https://static.inilah.com/data/berita/foto/2535603.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #446
LUPA JURUS

 

Agama Islam terdiri dari kumpulan ajaran-ajaran yang di antaranya adalah shalat, sabar, pasrah, ikhlas, bersyukur, takdir, berserah diri, mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa.

Bila kita merasa sudah mempelajari Islam tapi kenyataannya tak mampu menggunakan ajarannya, ini tak ubahnya bagaikan guru silat yang ketika berkelahi lupa dengan jurus silatnya.

Saatnya menyadari …, suatu ajaran dikatakan berhasil dikuasai setelah ia mampu dipraktekkan.

BELAJAR TAK MENGENAL JEDA, DARI MULAI BUAIAN SAMPAI DENGAN LIANG LAHAT

 

Gambar:https://storage.nu.or.id/storage/post/16_9/mid/1571122149.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #445
SELALU ADA CELAH

 

Bagaimana caranya melepaskan diri dari rasa galau atau rasa takut yang mencengkeram jiwa?

Bersyukur adalah jawabannya.

Ya, rasa bersyukur akan membebaskan jiwa dari kegalauan dan ketakutan.

Tapi, apakah mungkin dapat bersyukur ketika sedang terjerat ketidak nyamanan?

Pasti bisa, karena Allah telah mendesain di balik kejadian yang tak nyaman selalu saja ada celah ( walaupun sempit ) untuk bersyukur.

Saatnya menyadari …, barangsiapa yang pandai menemukan “celah sempit” ini jiwanya akan terbebas dari  kegalauan dan ketakutan.

 “SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR PASTI KAMI AKAN MENAMBAHKAN NIKMAT KEPADAMU …” IBRAHIM 7

 

Gambar:permadi alibasyah/mutiara tauhid

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #444
PENTINGNYA PUNYA TUJUAN

 

Luasnya ilmu Allah tak berhingga, karena itu majelis yang membahas ilmu Allah pun jumlahnya pastilah tak berhingga.

Dengan banyaknya jumlah majelis ini, apakah semuanya harus kita ikuti?

Wah bila semuanya diikuti di samping waktunya tidak cukup, juga yang paling penting dalam meraih kesuksesan yaitu “Fokus dan Konsisten” tidak akan bisa terpenuhi.

Saatnya menyadari …, banyak yang ditawarkan pilihlah hanya yang benar-benar sesuai dengan tujuan.

Nah, sudahkah kita memiliki tujuan mengapa belajar ilmu agama? Pilihlah hanya majelis yang mengantarkan ke tujuan kita itu.

 MENYADARI TUJUAN YANG INGIN DIPEROLEH ADALAH ANAK TANGGA PERTAMA DARI KESUKSESAN

 

Gambar:https://pbs.twimg.com/media/Bv-Gy_CCUAEhQ9l.jpg

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #443
KISAH SUKSES TETESAN AIR

 


Tahukah Anda, tetesan air yang lemah ternyata dapat membuat batu cadas menjadi berlubang!

Rahasia apa yang berada di balik kisah sukses ini?

Saatnya menyadari, sunatullah kesuksesan itu adalah FOKUS dan KONSISTEN.

Ya, usaha yang sporadis hanya akan membuang enersi percuma.

ALLAH LEBIH MENYUKAI USAHA KECIL TAPI BERKESINAMBUNGAN KETIMBANG USAHA BESAR TAPI SEKALI-KALI

 

 Gambar:https://aktual.com/wp-content/uploads/2015/09/tetesan-air.jpg

 

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #442
ANDAI KU TAHU



Andaikata aku diberi tahu Tuhan, pasangan hidupku akan meninggal 10 hari lagi. Apa yang akan aku lakukan ya ..?

SERINGKALI AJAL DATANG TANPA PERMISI





Gambar:https://lh3.googleusercontent.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #441
MABUK DUNIA



Mabuk dunia” adalah penyakit serius.
Penyakit yang satu ini dapat dikenali  dari gejalanya, yaitu :

syahadat hanya sebatas ucapan,
zakat hanya sebatas keharusan,
puasa hanya sebatas menggugurkan kewajiban,
haji hanya sebatas kebanggaan,
shalat hanya sebatas gerakan.

Mabuk dunia bukanlah berarti segalanya uang dan uang, tetapi segala yang dilakukan tidak ada nuansa ilahiyyahnya sama sekali.

KETIKA DUNIAWI SEDANG NOMOR WAHID, PELAKSANAAN IBADAH CENDERUNG HANYA SEBATAS MENGGUGURKAN KEWAJIBAN SAJA



Gambar:https://s.kaskus.id/r540x540/images/2018/03/26/9919633_201803260339350373.jpg

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #440
NUANSA ILAHIYYAH



Hidup ini adalah ibadah tak perlu disangsikan lagi.
Setiap ibadah, pastilah ada nuansa keilahiyyahannya.
Bila tidak ada nuansa keilahiyyahannya, harus diakui itu hanyalah pekerjaan duniawi saja.

Menolong orang, bekerja, berobat ke dokter apakah termasuk ibadah?

Bila sebagaimana yang dilakukan oleh orang kafir, yaitu menolongnya lantaran kasihan, bekerjanya demi mendapatkan uang, dan ke dokternya semata-mata karena ingin sembuh belaka, janganlah terburu-buru mengatakan itu ibadah.

Gampangnya, bila tidak ada nuansa ilahiyyahnya pastilah bukan ibadah.

KETIKA SEDANG ‘MABUK DUNIA’ IBADAH KEHILANGAN KENIKMATANNYA KARENA IA AKAN BERUBAH RASA JADI KEWAJIBAN



Gambar:https://assets-a1.kompasiana.com/statics/files/1411710957492030683.jpg




1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #439
ILMU PUNCAK



Dari semua ilmu yang ada di dunia seperti misalnya ilmu teknik, ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu kedokteran, ilmu agama dan lain-lainnya itu, manakah yang paling utama?

Tentunya pilihan mana yang paling utama bagi masing-masing orang berbeda.

Bagi yang sangat ingin jadi dokter, ilmu yang paling utama tentunya adalah ilmu kedokteran.
Bagi yang sangat ingin jadi pengacara, ilmu yang paling utama di kolong langit ini tentunya adalah ilmu hukum.
Lain lagi bagi yang ingin jadi bankir, tentunya menurut dia ilmu yang paling utama adalah ilmu ekonomi.

Lalu, bagi yang ingin di dunia ini hidup bahagia dalam artian tenteram bebas dari rasa gelisah, takut, ataupun cemas dan bila mati menempati surga, ilmu apakah gerangan yang paling utama?
Mudah ditebak, pastilah ilmu agama. Bukankah tidak ada ilmu selain ilmu agama yang mengajarkan untuk meraih dunia bahagia akhirat surga?

Nah, nampaknya persoalannya bukan mana ilmu yang paling utama tapi apakah sudah tepat bila yang paling diinginkan itu jadi dokter, pengacara, ataupun bankir?

DI KALA SAKRATULMAUT DATANG, BOLEH JADI KITA AKAN MENYESAL KARENA SELAMA INI TERNYATA MEMBURU ILMU YANG TAK BISA MENOLONG ….


Gambar:https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.kompasiana.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan # 438
SHALAT YANG DISESALKAN



Rasululah SAW pernah bersabda, “Nanti pada hari kiamat ada orang yang membawa shalatnya ke hadapan Allah. Kemudian shalatnya diterima, dan dilipat2 seperti dilipat2nya pakaian yang kotor dan usang. Lalu shalat itu dibantingkan ke wajahnya!”

Wah, gawat nih … ternyata tidak semua shalat yang kita lakukan bakal diterima oleh Allah!

Mungkinkah kita bisa selagi di dunia ini merasakan apakah di akhirat nanti shalat kita bakal diterima-Nya ataukah dibanting?
Rasanya mungkin.

Bila sudah shalat tapi perilaku tidak juga santun, besar kemungkinan wajah kita bakal bengep. Bukankah salam yang kita sampaikan ke kanan dan ke kiri itu tidak hanya sekedar penutup shalat?

“SESUNGGUHNYA SHALAT MENCEGAH DARI PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR” ( Al Ankabuut 45 )


Gambar:https:https://lh3.googleusercontent.com


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #437
SHALAT



Manusia mempunyai akal dan kalbu.

Keduanya bisa melakukan sholat, tentunya dengan kualitas yang berbeda.

Bila akal yang shalat, ia sekedar menggugurkan kewajiban
Bila kalbu yang shalat, ia sedang berproses menjadi “indah”

Di tangan kita lah keputusan apakah shalat mau menggunakan akal atau menggunakan kalbu.

KELALAIAN TERBESAR SAAT SHALAT ADALAH MEMBIARKAN AKAL MENGAMBIL ALIH KALBU



Gambar:https://thumb.viva.co.id


0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #436
PUNGGUK MERINDUKAN BULAN


Ingin punya perilaku yang selaras dengan kehendak Tuhan tapi membiarkan kalbu “kosong”?


Itu mah, kata orang tua tempo doeloe, tak beda dengan pungguk merindukan rembulan.

Bila kita ingin bisa ngobrol sama bule, pastilah kita butuh kemampuan berbahasa Inggris kan …

Bila kita ingin bisa berperilaku selaras dengan kehendak-Nya, apa yang kita butuhkan?
Pasti dong kemampuan kalbu ya …

Masih banyak orang yang beranggapan kemampuan kalbu seperti sabar, pasrah, ikhlas, tawakal, bersyukur, dan lain-lainnya itu datang dengan sendirinya. Padahal manalah ada kemampuan yang datang dengan sendirinya.

TANPA BELAJAR, AKAL JONGKOK.
TANPA TAFAKUR, KALBU TIARAP.


Gambar:https://ahbabulcoffee.files.wordpress.com/2016/05/images.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #435
ISI HATI BUKAN ISI OTAK


Sering jadi berita seorang yang ilmu agama Islamnya tinggi tapi melakukan perbuatan tak terpuji. Umat pun mengerinyitkan dahi, koq bisa ya …?

Sebenarnya tak perlu lah heran. Karena ilmu agama bila masih berada di otak, belum turun ke hati, memang tak mampu membuat orang berakhlak mulia. Jauh hari Rasulullah SAW sebenarnya telah memberi petunjuk, “Dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila daging itu baik maka akan baik pula akhlak orang itu. Daging itu adalah hati”


Saatnya menyadari …, akhlak mulia muncul bukan disebabkan karena otak banyak tahu ilmu agama, melainkan karena hati banyak terisi keyakinan yang diajarkan oleh ilmu agama.

PERILAKU BUKANLAH HASIL MENGIMPLEMENTASIKAN ILMU, MELAINKAN PANCARAN     DARI KEYAKINAN YANG TERPATERI DI KALBU



Gambar:https://i2.wp.com

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #434
SALAH BERJUANG



Benarkah untuk menjadi orang yang bertakwa kita harus berjuang keras mengimplementasikan ilmu agama yang telah kita pelajari menjadi amal soleh?

Saatnya menyadari …, amal soleh bukanlah dihasilkan dari perjuangan mengimplementasikan ilmu agama. Amal soleh merupakan implementasi otomatis dari keyakinan yang terpateri di kalbu.

DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL DAGING. BILA DAGING ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PULA AKHLAK ORANG ITU. DAGING ITU ADALAH  KALBU



Gambar:https://i0.wp.com/www.arrisalah.net

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #433
TANDA KEBERHASILAN


Seseorang dikatakan menguasai ajaran Islam, apakah karena ia banyak tahu mengenai ajaran Islam ataukah karena ia mampu mempraktekkan banyak ajaran Islam?

Saatnya menyadari …, tidak ada satu pun ajaran yang dibuat hanya untuk sebatas tahu saja.

Keberhasilan dalam mempelajari suatu ajaran dicirikan bukan oleh hapalnya, melainkan oleh seberapa mampu ia mempraktekkan ajaran tersebut.



BELAJAR ISLAM TAPI TAK DAPAT MEMPRAKTEKKAN AJARANNYA BERARTI SASARAN BELUM TERCAPAI



Gambar:https://img.okeinfo.net

1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #432
MENISTA TUHAN


Tuhan mengatur segala hal yang akan menimpa kita.

“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan” –Nuh 4

Katakanlah : “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami” –At Taubah 51

Saatnya menyadari …, apakah kita tidak menista Tuhan apabila menggerutu saat datang ketidaknyamanan dari-Nya?



TUHAN MEMANG MENETAPKAN, TETAPI DIA TIDAK KEJAM


Gambar:https://bimbinganislam.com


1 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #431
SMS



Kali ini izinkan ya saya berbagi sms yang saya terima dari seorang teman :

Melihat ke atas memperoleh semangat untuk maju,
melihat ke bawah bersyukur atas semua yang ada,
melihat ke samping semangat kebersamaan,
melihat ke belakang sebagai pengalaman berharga,
melihat ke dalam untuk introspeksi,
melihat ke depan untuk menjadi lebih baik.



Gambar:https://blog.malwarebytes.com

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #430
BERMATA TAPI TAK MELIHAT



Pernahkah menjumpai orang yang sedang asik bergunjing, apa yang terlihat?

Bagi orang yang “bermata”  yang terlihat adanya transfer pahala.
Ya, tak nampak olehnya yang bergunjing itu menggunakan jilbab, ataupun yang bergunjing itu sudah sering kali naik haji.

ORANG YANG TENGGELAM DALAM FAKTA IBARAT KATA PEPATAH “BERMATA TAPI TAK MELIHAT”


Gambar:https://amp.galamedianews.com/media/news/190904184143-ancam.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #429
SETAN SELALU ADA DIMANA-MANA


Apakah ada tempat yang bebas dari setan?

“KEMUDIAN AKU (SETAN) AKAN DATANGI MEREKA DARI MUKA DAN DARI BELAKANG MEREKA, DARI KANAN DAN KIRI MEREKA”  Al A’raaf 17

Saatnya menyadari …,  dimana pun kita berpijak selalu saja ada setan yang mengintai.


Ketika kita sedang berperan sebagai dermawan, akan ada orang yang berperan sebagai setan yang mengatakan perbuatan kita itu riya’

Begitu pula ketika kita sedang berperan sebagai penyampai kebenaran, akan selalu ada orang yang berperan sebagai setan yang mengatakan perbuatan kita itu sesat.

TAK MASALAH BILA PERAN BAIK DAN PERAN SETAN SELALU BERGANDENGAN, YANG PENTING JANGAN KITA YANG BERPERAN SEBAGAI SETAN

  
Gambar:https://anefariz.com/wp-content/uploads/2017/07/eye.jpg

0 komentar:

Mutiara Tauhid Renungan #428
KARYA UNTUK ALAM KEABADIAN



Alam abadi itu ghaib, karena itu perlu “karya ghaib” pula untuk meraihnya.

Inilah dia :

Biar dia menzalimiku, yang penting bukan aku yang menzaliminya ..
Biar dia menuduh aku sesat, yang penting bukan aku yang menuduhnya ..
Biar dia menghakimiku tidak konsisten mentaati Alqur’an, yang penting bukan aku yang menghakiminya .. ..
Biar dia memakiku, yang penting bukan aku yang memakinya ..
Biar dia membenciku, yang penting bukan aku yang membencinya ..

WALAUPUN MALAM TERASA PANJANG,
NAMUN SANG FAJAR AKAN TERBIT JUGA

WALAUPUN USIA KITA PANJANG,  
LIANG KUBUR AKAN KITA MASUKI JUGA



Gambar:https://cdn.utakatikotak.com/20190710/20190710_105825menyiram_tanaman.jpg

0 komentar: