Mutiara Tauhid Renungan #340
KALBU YANG TERSUMBAT


Kata-kata yang meluncur dari bibir bukanlah cerminan dari perilaku.
Perilaku merupakan cerminan dari percaya atau tidaknya kalbu pada janji-janji yang disampaikan Sang Maha Kuasa.

Allah Sang Pemilik Surga berjanji, “Barangsiapa yang dapat menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah ganjarannya”


Bila kita masih mudah marah tak usahlah berdalih macam-macam. Karena persoalannya sudah sangat jelas, yaitu tingkat kepercayaan kalbu kita pada janji Sang Maha Kuasa masih terbilang rendah. Bukankah marah termasuk salah satu keinginan nafsu?

BILA JANJI ALLAH SAJA TAK DIPERCAYA, KEMANAKAH AKAN MENCARI PEGANGAN HIDUP?




Gambar :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSgcxbGQIIhmfIVUG2rhIwzoz32lcTo11686s4dOakTr_8pGWLY

Mutiara Tauhid Renungan #339
BERCERMIN DIRI


Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk immortal, tidak akan sirna namun berpindah alam. Sekarang tinggal di dunia esok lusa pindah ke alam kubur. Konsekuensi logisnya, manusia harus berkarya mengumpulkan bekal tidak hanya untuk kehidupan saat ini saja namun juga untuk kehidupan setelah lepas dari alam yang sekarang.

Berkarya untuk alam yang sekarang ini harusnya seimbang dengan berkarya untuk alam keabadian kelak.


Bila bercermin diri, saat ini aku rajin berkarya untuk membangun alam yang akan segera ditinggalkan ataukah untuk alam yang akan dituju? 

Coba saja buat statistiknya berapa % karya untuk dunia dan berapa % pula karya untuk akhirat yang sudah aku buat, seimbangkah?
Bila tampak seimbang, berarti sudah benar.

“WAHAI MANUSIA! KETAHUILAH BAHWA APA YANG ENGKAU BANGUN ITU AKHIRNYA AKAN HANCUR. USIAMU AKAN HABIS.  RAGAMU AKAN DITIMBUNI TANAH. TEMANMU HANYALAH AMAL SOLEHMU” - Hadits Qudsi



Gambar :https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwYukSZUEwgstm9RvWfGPlAlbhr293FP-s1wxRv3Y0ZUVw3ulgpHxdmJS7UNbmdbG4aWmcBnn3LK10vVfcruLw8IsKeWOIWgfUMtzA8kO7diB6zYsY5mW2RUKuxIM0vMOFuwA8T7HqPmbZ/s1600/anigif.gif

Mutiara Tauhid Renungan #338
PEMBERIAN TERINDAH



Memberi maaf jauh lebih indah dibandingkan dengan memberi dunia dengan seluruh isinya




Gambar:http://www.panjimas.com/wp-content/uploads/2015/06/maaf.jpg

Mutiara Tauhid Renungan#337
MELUKIS DI ATAS AIR


Banyak orang yang bertekad akan :
… selalu ikhlas menerima musibah
… selalu pasrah bila dizalimi
… selalu tawadhu
… selalu bersyukur di waktu senang dan susah
… selalu berzikir ingat Allah di waktu duduk, berjalan, berbaring

Akankah tekad mereka itu kesampaian?


Ah, hanya berbekal tekad saja tanpa diiringi kesadaran tak ubahnya bagaikan melukis di atas air.......



Gambar :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTrqai29xzh0_sH2dk26m8cYTyqqe3lkAbg9DlfecOAd6Wye9MV

Mutiara Tauhid Renungan#336
MENJADI KEKASIH ALLAH



Ada satu rahasia besar yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as. pada kita, “SALAH SATU SEBAB AKU MENJADI KEKASIH ALLAH ADALAH KARENA AKU TIDAK PERNAH MERISAUKAN SESUATU YANG TELAH DITANGGUNG OLEH-NYA.”

Ternyata untuk menjadi kekasih Allah tidaklah susah2 banget, asalkan saja tidak meragukan kemampuan-Nya.

Bisakah kita tidak meragukan kemampuan-Nya?
Janganlah terlalu cepat mengatakan bisa.

Mari kita introspeksi :
Ketika telah berikhtiar sungguh-sungguh, apakah merisaukan hasil yang akan terjadi?
Ketika berobat, apakah merisaukan datangnya kesembuhan?
Setelah bekerja dengan baik, apakah merisaukan kecukupan harta?
Setelah lama dalam kesendirian, apakah merisaukan jodoh?

Bila jawabannya iya, rupanya kita belum memenuhi kriteria sebagaimana yang dimaksud Nabi Ibrahim as.



Gambar :https://static-s.aa-cdn.net/img

Mutiara Tauhid Renungan#335
DI TANGAN BUKAN DI HATI


Selama manusia belum mampu merasakan di balik kesenangan terselip ujian-Nya, boro2 ia bisa lurus, perilakunya malahan cenderung melaju ke arah nekad.

Salah satu dari sekian kenekadan itu misalnya saja ia mengakui bahwa harta itu adalah ujian. Tapi mengapa dia nekad meletakkannya di hati? Bukankah bila harta ditaruh di hati ia akan dapat menggantikan posisi Allah?



HARTA HARUS DILETAKKAN DI TANGAN,” begitu kata seorang ahli hikmah.



Gambar :https://amaryllis.pna.web.id/wp-content/uploads/2018/03/cinta-harta-722x445.jpg


Mutiara Tauhid Renungan#334
PANTANG DIDUAKAN


Allah berada dimana-mana.
Pada diri manusia DIA berada lebih dekat dari urat leher, tepatnya DIA bersinggasana di dalam hati manusia.


DIA hanya akan meninggalkan singgasana-Nya apabila si pemilik hati berlaku nekad menyandingkan-Nya dengan harta, pangkat, amarah, ataupun dendam kesumat.

Begitulah, DIA selamanya tak pernah mau diduakan!

MANUSIA YANG PALING NEKAD ADALAH MEREKA YANG MELAKUKAN PERBUATAN YANG NYATA-NYATA TAK DISUKAI-NYA




Gambar :https://cdn.brilio.net

Mutiara Tauhid Renungan#333
MENGORBANKAN TUHAN




Kenapa menuruti nafsu itu salah?
Sadari … menuruti nafsu adalah bahasa halus dari mengorbankan Tuhan!

BILA KITA BERPIHAK, PASTI ADA YANG DIKORBANKAN
BILA KITA BERPIHAK PADA NAFSU , TUHANLAH YANG KITA KORBANKAN!




Gambar:http://www.dharitri.com

Mutiara Tauhid Renungan#332
DAN SETANPUN MENANGIS


Mungkin tak pernah terbayangkan setan yang selalu digambarkan sebagai musuh kita yang canggih dan lihai itu menangis. Koq bisa?

Coba saja dirasakan bagaimana frustrasinya setan ketika ia menggoda manusia yang memiliki kemampuan sabar, kemampuan pasrah, kemampuan ikhlas, kemampuan bersyukur, apalagi kemampuan berserah diri!

Yuk kita bikin setan menangis frustrasi, makin kejer dia nangisnya semakin baik.

“MUSUH” HASUTAN ADALAH KEMAMPUAN




Gambar:http://4.bp.blogspot.com/-Jp7etrWu5ww

Mutiara Tauhid Renungan#331
KITAB AJAIB


Rasa indah erat kaitannya dengan keadaan hati.
Begitu pun dengan rasa galau.
Bila hati mengembang maka rasa indah yang ke luar, sebaliknya bila hati mengerut rasa galau yang akan muncul.

Mengembang dan mengerutnya hati tergantung dari input yang diberikan padanya. Bila hati kita beri asupan rasa untung maka ia akan mengembang, sebaliknya bila ia kita beri asupan rasa rugi maka akan mengerut.


Alqur’an yang telah lama kita kenal itu bukanlah kitab biasa, ia kitab ajaib yang apabila kita gunakan tak ada satupun kejadian akan terasa merugikan.

Tak heran para sahabat utama Rasulullah SAW yang selalu melihat kejadian menggunakan kacamata Alqur’an merasakan hidup selalu indah.

Nah, rahasia besar telah terkuak …, masih enggankah kita fanatik berpegang pada Alqur’an?

ALQUR’AN ADALAH PEDOMAN HIDUP YANG DIBUAT TUHAN AGAR HIDUP KITA SELALU TERASA INDAH


Gambar :https://4.bp.blogspot.com


Mutiara Tauhid Renungan#330
PASTI BAIKNYA



Sadarkah kita bila Allah memiliki 99 “jubah”?
Nama “jubah” itu bermacam-macam, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Suci, dan lain-lain.

Uniknya, “jubah” itu selalu dipakai-Nya, tak pernah dilepas walaupun hanya sedetik.

Pantaslah bila ada seorang ahli hikmah yang berucap, “KETETAPAN-NYA WALAU DIRASA TAK NYAMAN, TAPI PASTI TIDAK ADA YANG BURUK“



Gambar :https://gedubar.com/wp-content/uploads/2017/08/Asmaul-Husna.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #329
TIRAI BAJA


Manusia membutuhkan kebenaran agar jalannya dapat lurus menuju negeri surga.
Dimanakah kita dapat menemukan kebenaran?
Kebenaran banyak ditemukan di bibir manusia.
Bisa dirasakan, bila kita punya keangkuhan diri, yaitu memandang rendah seseorang, dapatkah kita mengambil kebenaran yang ada di bibirnya?
Tak mungkinlah.



Itulah sebabnya ahli hikmah mengatakan keangkuhan diri merupakan tirai baja penghalang masuknya kebenaran.

Nabi kita yang mulia jauh-jauh hari juga sudah mengingatkan, “Mereka yang dalam hatinya ada keangkuhan diri walaupun hanya sebesar biji sawi, tidak akan masuk surga”

“KEANGKUHAN DIRI” ASAL MUASALNYA ADALAH PERILAKU IBLIS, YANG KEMUDIAN DICONTEK OLEH MANUSIA




Gambar:https://2.bp.blogspot.com