Tampilkan postingan dengan label Keyakinan Menentukan Sikap. Tampilkan semua postingan

Mutiara Tauhid Renungan #435
ISI HATI BUKAN ISI OTAK


Sering jadi berita seorang yang ilmu agama Islamnya tinggi tapi melakukan perbuatan tak terpuji. Umat pun mengerinyitkan dahi, koq bisa ya …?

Sebenarnya tak perlu lah heran. Karena ilmu agama bila masih berada di otak, belum turun ke hati, memang tak mampu membuat orang berakhlak mulia. Jauh hari Rasulullah SAW sebenarnya telah memberi petunjuk, “Dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila daging itu baik maka akan baik pula akhlak orang itu. Daging itu adalah hati”


Saatnya menyadari …, akhlak mulia muncul bukan disebabkan karena otak banyak tahu ilmu agama, melainkan karena hati banyak terisi keyakinan yang diajarkan oleh ilmu agama.

PERILAKU BUKANLAH HASIL MENGIMPLEMENTASIKAN ILMU, MELAINKAN PANCARAN     DARI KEYAKINAN YANG TERPATERI DI KALBU



Gambar:https://i2.wp.com

Mutiara Tauhid Renungan #434
SALAH BERJUANG



Benarkah untuk menjadi orang yang bertakwa kita harus berjuang keras mengimplementasikan ilmu agama yang telah kita pelajari menjadi amal soleh?

Saatnya menyadari …, amal soleh bukanlah dihasilkan dari perjuangan mengimplementasikan ilmu agama. Amal soleh merupakan implementasi otomatis dari keyakinan yang terpateri di kalbu.

DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL DAGING. BILA DAGING ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PULA AKHLAK ORANG ITU. DAGING ITU ADALAH  KALBU



Gambar:https://i0.wp.com/www.arrisalah.net

Mutiara Tauhid Renungan #341
KEPEDEAN


Allah telah berjanji bahwa DIA tidak akan pernah menganiaya manusia.
Percayakah kita pada janji-Nya itu?


Ops …!  Jangan dulu buru-buru mengatakan “pastilah”
Tanda percaya bukanlah di bibir, melainkan pada perilaku.

MERONTA BILA MENDAPAT KETETAPAN-NYA YANG TAK NYAMAN BUKANLAH PERILAKU ORANG YANG PERCAYA PADA JANJI-NYA



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRNbYeZrmhqSp9X1q9n1-gro2Urp85eiMDhf9FEYTJA3imlFWp9

Mutiara Tauhid Renungan #340
KALBU YANG TERSUMBAT


Kata-kata yang meluncur dari bibir bukanlah cerminan dari perilaku.
Perilaku merupakan cerminan dari percaya atau tidaknya kalbu pada janji-janji yang disampaikan Sang Maha Kuasa.

Allah Sang Pemilik Surga berjanji, “Barangsiapa yang dapat menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah ganjarannya”


Bila kita masih mudah marah tak usahlah berdalih macam-macam. Karena persoalannya sudah sangat jelas, yaitu tingkat kepercayaan kalbu kita pada janji Sang Maha Kuasa masih terbilang rendah. Bukankah marah termasuk salah satu keinginan nafsu?

BILA JANJI ALLAH SAJA TAK DIPERCAYA, KEMANAKAH AKAN MENCARI PEGANGAN HIDUP?




Gambar :https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSgcxbGQIIhmfIVUG2rhIwzoz32lcTo11686s4dOakTr_8pGWLY

Mutiara Tauhid Renungan #315
PECAH KONGSI



Kita mempunyai akal dan kalbu.

Akal kita sudah sangat meyakini DIA pastilah Maha Pengasih Maha Penyayang, bagaimana dengan kalbu kita? Apakah mereka kompak seiya sekata, jangan-jangan tanpa sepengetahuan kita mereka pecah kongsi!

BILA KALBU SERING MERONTA LANTARAN PENGATURAN-NYA, APAPUN ALASANNYA, HAL INI SUDAH CUKUP MEMBUKTIKAN TERNYATA SI KALBU INI MASIH MERAGUKAN KASIH SAYANG-NYA!

Lalu apa artinya ucapan lirih bismillahirrahmanirrahiiim ....?



Gambar :sosyalmedya

Mutiara Tauhid Renungan #313
IKRAR BODONG


Setiap hari, paling sedikitnya lima kali, ketika menghadap Allah kita berikrar :

INNA SHOLATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMAMATI LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN

Kita bertekad akan berperilaku karena Allah semata.


Mungkinkah tekad ini dapat kesampaian bila tidak memiliki banyak keyakinan yang tertanam di kalbu?

Ah, manalah mungkin …
Bukankah perilaku itu merupakan cerminan dari keyakinan?

“DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL ‘DAGING.’ BILA ‘DAGING’ ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PERILAKUNYA. ‘DAGING” ITU ADALAH KALBU” (Muhammad Rasulullah SAW)



Gambar :https://pusatpandang.com/wp-content/uploads/2018/03/sholat-tahajud.jpg



Mutiara Tauhid Renungan #312
HARUS MURNI


Kita butuh keyakinan, karena kemampuan kalbu seperti sabar, pasrah, ikhlas, bersyukur dan lainnya itu terbentuk melalui interaksi antar keyakinan2.
Mengambil keyakinan tidak boleh keliru, ibarat orang bikin kue pakailah telur ayam jangan telur cicak.

Selama orang masih mengambil keyakinan salah, seperti misalnya sabar ada batasnya atau marah itu manusiawi, tak mungkinlah akan dapat terbentuk kemampuan sabar.


KEYAKINAN ITU HARUS MURNI, YAITU SELARAS DENGAN ALQURAN DAN SUNNAH RASUL. Di luar itu adalah KW !



Gambar :www.kompasiana.com




Mutiara Tauhid Renungan #311
SERIBU KALI LEBIH PENTING


Empat belas abad yang silam Nabi kita yang mulia pernah memberikan petunjuk, “DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL DAGING. BILA DAGING ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PERILAKUNYA. ‘DAGING’ ITU ADALAH KALBU”

Di zaman kini, dimana kita merindukan orang2 yang berperilaku akhlakul karimah, petunjuk Nabi tersebut bila dikaji kembali hasilnya mungkin akan membuat kita kaget, ternyata SERIBU KALI LEBIH PENTING MENGURUS KALBU KETIMBANG MENGURUS AKAL!
Selama ini kita terbalik!

Sebetulnya sejarah juga sudah mencatat, mereka yang rajin mengurus akal ( bahkan sampai level doktor ) tidak pasti mencerminkan akhlakul karimah, tapi yang pasti mereka banyak yang ahli dalam “akal-akalan.”

Nah, apakah kesalahan akibat kurang “mikir” ini akan kita wariskan juga pada anak2 kita?
Jangan dong ah …


Gambar :www.dakwatuna.com


Mutiara Tauhid Renungan #251
MEMBUKA PINTU SURGA

Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang memberi ganjaran surga bagi yang dapat menahan hawa nafsunya ( An-Naazi’at : 40-41 ).

Saatnya menyadari …, menahan amarah identik dengan membuka pintu surga.


Nah, relakah kita mengikuti kemarahan?

UJUNG DARI KEMARAHAN SELALU PENYESALAN




Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #247
ADA API ADA ASAP

Benarkah seorang ustadz yang berpendapat bahwa akhlak orang Indonesia sulit dirubah kecuali bila Tuhan berkenan menurunkan kembali Muhammad Rasulullah SAW di bumi Indonesia?

Saatnya menyadari …, walaupun berada di samping Rasulullah SAW, tanpa bertafakur tidak akan bisa terbentuk kesadaran. Tanpa kesadaran manalah mungkin ada akhlak mulia. Ya, tanpa adanya api manalah mungkin timbul asap.


TANPA ADANYA “KESADARAN,” ABU BAKAR DAN ABU LAHAB TIDAK AKAN ADA BEDANYA




Gambar:www.pixabay.com

Mutiara Tauhid Renungan #244
HATI-HATI SALAH BERJUANG

Tak disangsikan lagi sebaik-baik manusia adalah yang paling kaya amal solehnya. Tapi tahukah Anda bila amal soleh itu muncul bukannya lantaran otak banyak tahu ilmu agama, melainkan karena kalbu banyak terisi dengan keyakinan?


Saatnya menyadari …, perjuangan kita yang sesungguhnya bukanlah dalam mengamalkan ilmu jadi amal soleh, melainkan memasak ilmu agar ia berubah menjadi keyakinan. Ya, amal soleh hanya muncul bila ada keyakinan yang tertanam di kalbu.

“DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL ‘DAGING.’ BILA ‘DAGING’ ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PULA PERILAKUNYA. DAGING’ ITU ADALAH KALBU”



Gambar:www.pixabay.com


Mutiara Tauhid Renungan #243
KESIA-SIAAN TERSEMBUNYI

Rasulullah SAW yang mulia bersabda, “Di dalam diri manusia ada segumpal ‘daging.’ Bila ‘daging’ itu baik maka akan baik pula perilakunya. ‘Daging’ itu adalah kalbu.”

Saatnya menyadari …, isi kalbulah yang akan menentukan seseorang itu tampil berakhlak mulia atau durjana.


SIA-SIA BELAJAR AGAMA BILA HANYA UNTUK MENGISI AKAL




Gambar:www.pixabay.com