Mutiara Tauhid Renungan #320
KETAATAN ADALAH SEGALANYA



Bumi diciptakan Allah untuk berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari.
Apa yang terjadi bila bumi membangkang, sehari saja ia mogok berputar pada porosnya?  Ya, pastilah keharmonisan alam raya akan terganggu.

Begitu juga, apa jadinya bila manusia yang diciptakan-Nya untuk berperilaku selaras dengan kehendak-Nya tapi ia berperilaku semaunya sendiri?

Pastilah tak jauh berbeda seperti yang dialami alam raya, ia pasti akan kehilangan ketenteraman dan kelak akan kehilangan surga!

PADA HARI KETIKA MUKA MEREKA DIBOLAK-BALIKKAN DALAM NERAKA, MEREKA BERKATA, “ALANGKAH BAIKNYA ANDAIKATA DAHULU KAMI TAAT KEPADA ALLAH DAN TAAT PULA KEPADA RASUL”


Gambar:https://www.scienceabc.com/wp-content/uploads/2015/09/Solar-System.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #319
JEMBATAN SHIRAATHAL MUSTAQIIM


Seorang ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali wafat th. 1111, menuturkan bahwa semua manusia akan melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat neraka.


Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung.

Namun di samping itu, ada juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang.

Perbedaan cara menyeberangi jembatan ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selagi mampir di dunia, apakah ia selalu taat ataukah ia sering membangkang pada aturan Tuhan dan Rasul-Nya.


Marilah kita “berlatih” lebih giat lagi agar kelak kaki kita mampu berlari secepat kilat!


Gambar  :data:image/jpeg;base64

Mutiara Tauhid Renungan #318
PELECEHAN



Mungkinkah selama hidup di dunia kita tak mengalami rasa galau alias bahagia selamanya …?

Bila bahagia selamanya tak mungkin, lalu apa gunanya Alqur’an sebagai pedoman

Walaupun surga sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya, mungkinkah kita dapat berupaya untuk meraihnya …?

Bila meraih surga tak dapat kita upayakan, lalu apa gunanya alqur’an sebagai pedoman

BILA BAHAGIA SELAMANYA DIANGGAP TAK MUNGKIN
BILA SURGA DIANGGAP TAK DAPAT DIUPAYAKAN
APAKAH ITU TIDAK BERARTI PELECEHAN TERHADAP ALQUR’AN?



Gambar:https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRBL_m3fFQxYfLBHMTTIVM88J2-fmwdh7JX-_cPHrJenIESZ5dIkg

Mutiara Tauhid Renungan #317
INSAN KAMIL



Menyadari adanya kekeliruan diri, merupakan langkah awal menjadi insan kamil.

Perlu dirasakan kembali sabda Nabi kita yang mulia empat belas abad yang silam : “Barangsiapa yang amal solehnya hari ini sama dengan hari kemarin ia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang amal solehnya hari ini lebih buruk dari hari kemarin, ia adalah orang yang celaka!”

BILA AKU SANGGUP TERTAWA TERPINGKAL-PINGKAL PADAHAL TAMPILANKU LEBIH BURUK DARI KEMARIN, BOLEH JADI INI SALAH SATU PERTANDA AKU TELAH KEHILANGAN HATI …



Gambar:https://i2.wp.com/www.hisbah.net/wp-content/uploads/2016/01/intropeksi-Diri.jpg?fit=700%2C350&ssl=1


Mutiara Tauhid Renungan #316
PAMRIH TERSEMBUNYI



Ketika aku menyapa, aku mengharapkan dia membalas
Ketika aku tersenyum, aku mengharapkan diapun membalas tersenyum
Ketika aku menyampaikan kebenaran, aku mengharapkan dia menerima

Aku sebel bila perlakuan santunku dibalas dengan cuek.
Ada apa dengan diri ini, bukankah malaikat Raqib telah mencatat dan tak akan mengurangi atau menambahnya bila orang itu tak membalas dengan santun juga?

“KEINGINAN AGAR KEISTIMEWAANMU DIKETAHUI ORANG, ADALAH BUKTI TIDAK ADANYA KEJUJURAN DALAM KEHAMBAANMU” (Ibn ‘Atha’illah)



Gambar:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYB8rM3RJSFTLb3fefQuSDza9XYutPrrkXdTJLQJZbyyHSa-lQaueMOh7DeDe0Od2UiNoJUB77nk-H_WnCbQ96zDHcTmU7twoVtDDuXWki1Xqyn46gU5sFTZCjrSyUvnq88tc4Vih-Y6I/s1600/22500837_216883295516049_1686301327_n.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #315
PECAH KONGSI



Kita mempunyai akal dan kalbu.

Akal kita sudah sangat meyakini DIA pastilah Maha Pengasih Maha Penyayang, bagaimana dengan kalbu kita? Apakah mereka kompak seiya sekata, jangan-jangan tanpa sepengetahuan kita mereka pecah kongsi!

BILA KALBU SERING MERONTA LANTARAN PENGATURAN-NYA, APAPUN ALASANNYA, HAL INI SUDAH CUKUP MEMBUKTIKAN TERNYATA SI KALBU INI MASIH MERAGUKAN KASIH SAYANG-NYA!

Lalu apa artinya ucapan lirih bismillahirrahmanirrahiiim ....?



Gambar :sosyalmedya

Mutiara Tauhid Renungan #314
TAK TERBENDUNG



Bila hidup semata-mata ditujukan untuk ibadah (selalu berperilaku selaras dengan kehendak-Nya) , dijamin tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membendung terwujudnya “Dunia Bahagia Akhirat Surga.”


Gambar:http://www.dailymoslem.com/wp-content/uploads/Shalat-Tapi-Masih-Maksiat-1.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #313
IKRAR BODONG


Setiap hari, paling sedikitnya lima kali, ketika menghadap Allah kita berikrar :

INNA SHOLATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMAMATI LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN

Kita bertekad akan berperilaku karena Allah semata.


Mungkinkah tekad ini dapat kesampaian bila tidak memiliki banyak keyakinan yang tertanam di kalbu?

Ah, manalah mungkin …
Bukankah perilaku itu merupakan cerminan dari keyakinan?

“DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL ‘DAGING.’ BILA ‘DAGING’ ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PERILAKUNYA. ‘DAGING” ITU ADALAH KALBU” (Muhammad Rasulullah SAW)



Gambar :https://pusatpandang.com/wp-content/uploads/2018/03/sholat-tahajud.jpg



Mutiara Tauhid Renungan #312
HARUS MURNI


Kita butuh keyakinan, karena kemampuan kalbu seperti sabar, pasrah, ikhlas, bersyukur dan lainnya itu terbentuk melalui interaksi antar keyakinan2.
Mengambil keyakinan tidak boleh keliru, ibarat orang bikin kue pakailah telur ayam jangan telur cicak.

Selama orang masih mengambil keyakinan salah, seperti misalnya sabar ada batasnya atau marah itu manusiawi, tak mungkinlah akan dapat terbentuk kemampuan sabar.


KEYAKINAN ITU HARUS MURNI, YAITU SELARAS DENGAN ALQURAN DAN SUNNAH RASUL. Di luar itu adalah KW !



Gambar :www.kompasiana.com




Mutiara Tauhid Renungan #311
SERIBU KALI LEBIH PENTING


Empat belas abad yang silam Nabi kita yang mulia pernah memberikan petunjuk, “DI DALAM DIRI MANUSIA ADA SEGUMPAL DAGING. BILA DAGING ITU BAIK MAKA AKAN BAIK PERILAKUNYA. ‘DAGING’ ITU ADALAH KALBU”

Di zaman kini, dimana kita merindukan orang2 yang berperilaku akhlakul karimah, petunjuk Nabi tersebut bila dikaji kembali hasilnya mungkin akan membuat kita kaget, ternyata SERIBU KALI LEBIH PENTING MENGURUS KALBU KETIMBANG MENGURUS AKAL!
Selama ini kita terbalik!

Sebetulnya sejarah juga sudah mencatat, mereka yang rajin mengurus akal ( bahkan sampai level doktor ) tidak pasti mencerminkan akhlakul karimah, tapi yang pasti mereka banyak yang ahli dalam “akal-akalan.”

Nah, apakah kesalahan akibat kurang “mikir” ini akan kita wariskan juga pada anak2 kita?
Jangan dong ah …


Gambar :www.dakwatuna.com


Mutiara Tauhid Renungan #310
ISTIGFAR


Ketika kita mencemaskan sukses atau tidaknya hasil upaya,
ketika kita bepergian jauh minta selamat,
ketika kita bekerja karena dorongan ingin kaya,
ketika kita ke dokter karena sangat ingin sembuh …

segeralah istigfar …, karena secara tak langsung kita telah menuding-Nya tidur.


Padahal DIA tak pernah sedetik pun tertidur, apalagi tidur, DIA selalu istiqomah ‘mati-matian’ dalam memilihkan yang terbaik bagi para hamba-Nya yang menyerahkan diri pada-Nya tanpa reserve.

…. LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYIL ADZIM ….



Gambar :https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Menangis-dalam-doa-2zz8jcb7f96g9k551imm80.jpg

Mutiara Tauhid Renungan #309
KEKELIRUAN DIRI



Peduli dengan kekeliruan diri, merupakan langkah besar menuju pribadi indah.
Sebaliknya, tak mau peduli dengan kekeliruan diri merupakan langkah besar menjumpai bencana dahsyat.

AKU ADALAH AKU,
INDAH ATAU BURUKNYA SANG AKU TERGANTUNG PADA MAUNYA AKU …



Gambar :http://static.pulsk.com/images/2013/09/14/ea3a1a243317468fa6a51fdeaf67be20.jpg