Mutiara Tauhid Renungan #9
MANUSIA YANG LUNTUR

Manusia pada awalnya diciptakan Allah sempurna, namun lantaran kurang “mikir” derajat manusia terlempar dari kesempurnaannya itu.

Tengok saja di lapangan. 

 

Makhluk yang awalnya sempurna ini ada yang menjelma jadi tukang fitnah, tukang gossip, tukang menghujat, dan tukang-tukang lainnya yang sebenarnya tidak pantas dijadikan profesi oleh manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang mulia (pantasnya sih profesi ginian diambil oleh monyet dan teman-temannya)

Coba deh dirasa-rasa, seandainya mau “mikir”, mana ada sih orang yang tega memfitnah atau menghujat saudaranya … kalaupun ada, perlu diragukan tuh apa hatinya masih ada, jangan-jangan dia cuma punya liver doank …

Kalo punyanya cuman liver doang ya memang repot, manalah mungkin bisa merasakan kata orang bijak, “BARANGSIAPA MENJAGA KEHORMATAN ORANG LAIN, PASTI KEHORMATAN DIRINYA AKAN TERJAGA”



Gambar : pixabay.com



15 komentar:

  1. Assalamu alaikum Pak Permadi,

    Sejak saya mengikuti metode tafakur Mutiara Tauhid, ada perubahan besar dlm mempelajari agama. Seakan sabda Rasulullah saw yg ini baru kedengeran sama saya: "dalam dirimu ada segumpal daging, jika daging itu baik, maka baik pula akhlakmu. Daging itu adalah kalbu". Padahal sebenernya bukan hal yg baru ya Pak. Saya renungkan kembali hidup saya yang dulu. Tega sekali saya menghujat saudara seiman, menzalimi anak-amanah yg Allah titipkan,dll. Memang penyebab kehinaan diri itu karena ngga "mikir". Mikir yg dominan pake hati seperti yg dikatakan Rasulullah.

    Di majelis tafakur, saya menemukan alam hakikat. Kenyataan yg sebenarnya, bahwa dunia adalah arena pengujian semata. Mana mungkin skrg tega untuk menghujat orang lain. Bukankah sikap itu menyabotase diri sendiri? Lalu kenyataan bahwa akhirat bukanlah dongeng, melainkan rumah aslinya saya. Dan karena saya pasti ke sana maka saya pasti akan mati. Mana mungkin tega berlaku tidak pantas pada titipan Allah. Rela gitu, menerima konsekuensinya?

    Baru di Mutiara Tauhid saya jadi butuuh banget ajaran agama. Karena, apa jadinya mengarungi hidup tanpa sadar hakikat hidup. Dan bagaimana bisa menyadarinya, kalo tidak pakai hati. Semoga hati saya tidak keburu mati sebelum habis jatah oksigen saya. Terimakasih Pak Permadi. Segala puji bagi Allah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah ..., semoga Allah Yang Maha Bijaksana membimbing kita dalam upaya "back to basic" ini
      salam

      Hapus
  2. Maha Suci Allah...
    Aku ini lemah, tanpa kesadaran..
    Aku ini hina, tanpa kesadaran..
    Aku ini terbatas, tanpa kesadaran..
    Aku ini jauh dari sempurna, tanpa kesadaran..

    Aku yg hina, lemah, terbatas , tak sempurna ini.. masih pantaskah aku merasa benar,merasa lebih mulia dari yg lain ??

    Apalah aku ini tanpaNya yg Maha Sempurna, Maha Mulia , Maha Segalanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah... moga2 kesadaran mbak ini bisa mendunia, sehingga kita tidak lagi menjumpai para tukang2 ... ( yang jelek2 itu lho.. )
      salam

      Hapus
  3. Merenungi tulisan "manusia yang luntur" membuat air mata menetes.
    Ingat proses diri dalam upaya menjadi manusia seutuhnya, sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia.
    Sebelum belajar agama dengan metoda tafakur, saya bertanya, apa yang harus saya bawa?
    Abang saya yang baik hati ini menjawab : cukup bawa hati yang bersih dan mau mendengarkan serta berpikir.
    Saya terperangah saat menyadari ternyata saya tidak tau apa-apa. Yang saya punya hanya kebenaran yang bersumber dari lingkungan, warisan dan ego semata.
    Perlahan-lahan perubahan terjadi pada sikap dan jiwa saya.
    Sayang saya pernah berhenti bertafakur, saat itu saya belum menyadari kalau tafakur itu harus selalu dilakukan. Berhenti tafakur sama saja dengan berhenti memproses menjadi manusia seutuhnya. Berhenti tafakur sama dengan membiarkan diri terus kelunturan.
    Kalau shalat bisa kita lakukan sehari 5 kali, mengapa tafakur tidak bisa kita lakukan sesering itu? Padahal shalat khusuk berawal dari tafakur yang khusuk.
    Untuk membersihkan diri dari luntur, gak ada jalan lain kecuali tafakur yang terus menerus dilakukan. Tidak cukup bahkan tidak pernah bisa bila hanya bermodal tekad semata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tekad saja tanpa visi akhirnya akan kandas juga, tapi visi doang tanpa tekad juga jadi memble

      Hapus
  4. Kata.2 luntur ini benar.2 kena telak kalau dalam tinju saya itu udah knock down. Malu rasanya kalau kudu jujur sih. Ini saya luntur dah kebablasan. Semoga dengan bertafakur terus menerus semakin terkuak jalan menuju koridor yg benar. Merasa diri paling benar...merasa bisa melakukan semua hal...merasa hebat di antara yg lain...duhhh Allah Yang Maha Kuasa...tanpa sadar aku menggunakan jubahMU...ampuni hamba ya Rabb...ampuni hamba. Pak Permadi you already gave me the right ways thru tafakur....terima kasih banyak pak...terima kasih..Dahsyatnya bertafakur....subhanallah.

    BalasHapus
  5. Pak permadi knp ustad or guru agama yg ilmunya byk tp ga mau membawa muridny untuk mikir esensi suatu hal? Pdhl ilmuny byk...? Kebanyakan printilan yg d bahas knp bgtu y?pdhl ilmuny byk

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin jawabannya ada di Renungan #2

      Hapus
    2. Pak permadi cd tafakur kan sy bru puny7 y sama dua cd awal pembukaan persamaan persepsi kira2 cd ny ada lg ga y yg versi terbaru biar keyakinan ilahiah sy byk...thx pak permadi smua pertanyaan sy terjwb di cd anda...pdhl sy nyari jwbanny itu smua bertahun2 hihi

      Hapus
    3. CD terbaru belum ada, belum sempat bikin lagi, maaf banget ya ...

      Hapus
  6. Assalamualaikum bapak. Berdasarkan praktek dalam kehidupan bahwa saya bisa jadi manusia luntur jika tidak mau berfikir. Turun derajat dari kesempurnaan yang telah Allah anugerahkan. Betapa pentingnya 'berfikir'sehingga bisa terus iqro ke aku bukan ke orang lain. Menilai-nilai orang lain bahkan memfitnah menghujat tanpa sadar merasa diri lebih hebat (pemahaman, perbuatan) dari dia (Barangsiapa memakai jubah Allah maka akan KU lempar ke api neraka (hadits QUdsi), Kibr jangankan surganya baunya saja tidak dapat (HR)). Bersyukur bisa bertemu di majelis tafakur, setelah proses tafakur demi tafakur, sifat yang dibenci Allah itu semakin hilang, alhamdulillah. Sekarang PR saya bisakah saya memandang seseorang dengan kasih sayang, memandangnya bukan 'bangkai anjingnya' tapi 'gigi putih'nya (sebagaimana nabi Isa melihat bangkai anjing, yang diucapkan alangkah indah gigi putihnya). Diri ini merasa tidak punya hak untuk menilai2 orang, biarlah Allah sajalah yang menilai. Bagaimana jika saya yang difitnah dihujat. Fitnahan dan hujatan justru pemercepat agar DBAS tercapai, mengembalikan kefitrahan diri agar kembali kepada kebenaran sesuai fitrahnya. (Al Araf:168 Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). Wallahualam bissawab. Mohon klarifikasi bapak jika ada yang belum benar. Haturnuhun, salam DBAS.
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. subhanallah ... benar bangeet
      Hakimilah diri sendiri, resiko tidak ada tapi kesadaran akan bertambah
      Menghakimi orang? Beresiko pahala amal soleh kita pindah ke orang yang kita hakimi, dan kalbu semakin butek

      Hapus
    2. Terimakasih bapak..bersyukur bisa bersinergi dengan bapak di blog bapak..mhn bimbingannya. Haturnuhun. Salam

      Hapus