Mutiara Tauhid Renungan #2
JIKA AKU BELAJAR AGAMA



HAL YANG INGIN AKU DAPATKAN DARI

"MENGAPA AKU BELAJAR AGAMA" ADALAH :




Tidak was-was, khawatir atau gelisah
Dapat berserah diri
Dapat ikhlas menerima musibah atau ketentuan-Nya
Mampu mengendalikan nafsu ( tidak marah, tidak dengki, tidak menghujat orang yang berbeda pandangan denganku, dll )
Mampu bersabar
Selalu ingat Allah
Dapat shalat dengan khusu
Dapat mensuri-teladani Rasulullah SAW
Dapat selalu bersyukur
Berjiwa lapang ( tidak picik, berani meminta maaf bila salah )
Tidak melakukan syirik
Berlaku santun / bijak
Tidak berprasangka buruk
Tidak pendendam
Tidak berlaku dzalim
……………………….
.....................................
.....................................



Gambar : pixabay.com



15 komentar:

  1. Assalamualaikum bapak Permadi. Belajar agama dengan harapan agar mudah menjalankan semua aturan main Allah habluminannas habluminallah agar taat lebih mudah dengan berpegang pada alquran dan assunnah sehingga DBAS dunia bahagia akhirat surga tercapai. Belajar agama untuk mendapatkan kesadaran bukan untuk menjadi pintar. Kesadaran diperoleh melalui tafakur. salam DBAS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wls mbak Eva, agama itu layaknya ilmu2 lainnya, yaitu suatu kendaraan untuk mewujudkan keinginan. Apakah kita ingin di dunia bahagia dan di akhirat masuk surga? Bila ingin, ilmu apa yang harus kupelajari? apakah ilmu matematika ataukah ilmu agama?
      salam

      Hapus
  2. Terima kasih Pa Permadi Alibasyah telah membimbing saya untuk rajin melakukan perenungan.
    Masih saya ingat kondisi saya, sebelum bertemu majelis bapak, Majelis Tafakur Mutiara Tauhid.
    Saya seperti orang pada umumnya, orang yang sering gelisah menghadapi hidup, kadang stress dengan permasalahan hidup, hati kotor dengan rasa dendam, dengki dan iri, mulutku juga sering kugunakan untuk menyakiti orang, membicarakan aib orang, pemarah, tidak ikhlas bila tertimpa musibah, shalat hanya sebatas kewajiban jauh dari kekhusuan ...dan banyak lagi perilaku saya yang tidak selaras dengan kehendak Allah.
    Setelah mengikuti majelis bapak selama beberapa tahun, akhirnya terjadi perubahan yang signifikan pada diri saya, perilaku saya berubah menjadi lebih taat..saya menjadi lebih sabar, shalat saya menjadi lebih khusu, hati saya menjadi lebih bersih, gosip sudah saya tinggalkan, tertimpa musibah jadi lebih ikhlas, mulut menjadi terjaga..dan banyak lagi perilaku saya yang berubah menjadi lebih baik (lebih selaras dengan kehendak Allah)
    Selain berkat Allah, tentunya perubahan pada diri saya sangat terbantu dengan motoda yang diterapkan di majelis bapak, bapak ajarkan kami untuk bisa merenungkan ajaran-ajaran agama yang telah kami ketahui, bapak dorong kami untuk selalu menghayati kebenaran –kebenaran Allah, bapak beritahu kami bahwa buah perenungan yang baik adalah yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits, bapak tekankan pada kami kesuksesan merenung atau bertafakur adalah bertambahnya ketaatan/perilaku semakin selaras dengan kehendak Allah.
    Intinya majelis tafakur mutiara tauhid, mengajak kami untuk mengisi kalbu dengan kebenaran ilahiyyah , supaya kalbu kami menjadi cantik .
    Petunjuk Rasulullah SAW :
    “Di dalam diri manusia ada segumpal ‘daging’.
    Bila ‘daging’ itu baik maka akan baik perilakunya.
    ‘Daging’ itu adalah kalbu”

    BalasHapus
    Balasan
    1. wls, bersyukurlah pada Allah karena DIA belum mematikan hati mbak. Apa yang disampaikan di majelis tafakuran sama, tapi koq hasilnya ngga semuanya bagus kayak mbak ya?
      salam DBAS
      salam

      Hapus
  3. Setelah saya mengikuti perenungan untuk apa Aku belajar Agama,ternyata Aku masih belum Islam karena Islam itu mampu menjalankan Esensi Islam itu sendiri,Subhaanalloh saya ucapkan terima kasih yg sangat mendalam kpd siapapun yg telah memfasilitasi untuk jiwaku tercerahkan berapa banyak majelis yg aku ikuti dahulu hanya di Mutiara Tauhidlah kesadaran demi kesadaran sedikit demi sedikit mulai tumbuh hanya di majelis ini kita mampu mengukur seberapa jauh kesadaran,semakin mudah berintrofeksi diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. marilah kita lihat Islamnya seseorang dari perilakunya yang Islami, tidak lagi dari baju koko atau jilbabnya; ataupun dari pernak pernik ala Islam yang menempel pada tampilannya

      Hapus
  4. 16. Mampu selalu prasangka baik pd Allah.
    17. Bisa selalu beramal dg niat Lillahita'ala.
    18. Tidak berputus asa dan tidak malas berikhtiar.
    19. Mampu memaklumi kebodohan orang lain.
    20. Mampu menerima kritik dan saran dari orang lain (siapapun itu)
    21. ......

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus, kalbunya "ON"
      walaupun diteruskan sampai tak terhingga tidak akan ditemui : ingin jadi teroris, ingin jadi penghujat (kalo ada, pasti kalbunya "OFF" alias mati atau jangan2 ngga punya kalbu cuman punya liver doang)

      Hapus
  5. alhamdulilah.... Senangnya pertama kali dengar ada blog ini. Jadi bisa sharing RASA, bersinergi silih asah silih asih silih asuh. Thank you bapak..

    Ilmu sejatinya adalah kendaraan untuk mewujudkan keinginan aku agar menjadi kenyataan. Aku dulu kuliahnya di fakultas teknik sipil karena aku ingin menjadi sarjana teknik sipil bukan menjadi lawyer.

    Nah, sekarang "Mengapa aku mempelajari ilmu agama?"
    Apa sih yang ingin diwujudkan dengan mempelajari ilmu agama ?

    HASRAT ini penting bangets. Berdarah-darahnya di HASRAT /Tujuan ini.
    Ketika sdh mempunyai HASRAT, otomatis kegiatan yg aku lakukan semua nya yang mendukung ke Tujuan. Jadi bisa fokus dan konsisten karena HASRAT itu. Tidak mungkin kan aku inginnya menjadi sarjana sipil mau diajak kuliah kedokteran :D

    Sikap/ prilaku orang yg gak punya tujuan (hardolin) dengan seorang Ronaldo. Sikapnya pasti beda 180 derajat.

    Nah bayanginn deh... Keinginan aku ini melebihi bangggeeettsss keinginan seorang Ronaldo.

    Aku INGIN di dunia ini bahagia dan di akherat nanti masuk surga. Berprilaku selaras dengan kehendak Allah seperti yg bapak uraikan 1-15. Otomatis dengan hasrat ingin DBAS, tidak mungkin deh move on dari Tafakur. Aku ikut metode tafakur MT dari 2004. Tujuan DBAS hanya bisa dengan OLAH RASA / tafakur. BUKAN Olah Pikir !

    Jadi never stop merasa-rasa... supaya DBAS INI TIDAK LEPAS.
    Pantesan tambah lagi RASAnya bahwa OLAH RASA ITU IBADAH !! Confirmed yaa kenapa perintah pertama itu Iqro/ Olah Rasa / Tafakur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awal menentukan akhir. salah langkah di awal kacau beliau kemudian. Bila di awal tujuan ngga jelas, di akhir juga ngga tahu apa yang didapat. Lebih celaka lagi gara2 di awal ngga jelas mau ngapain, belum sampai finish udah stop

      Hapus
  6. Assalamualaikum pak permadi. Terimaksih utk metode2 yg sdh banyak sekali mencerahkan dan memberi pemahaman2 kepada jiwa yg gelap gulita. Selama ini ada begitu banyak pertanyaan2 yg tdk pernah aku dapatkan jawabannya dan aku sendiri bingung hrs bertanya pada siapa. Di majelis tafakur baru saya menemukan jawaban2 dari semua pertanyaan saya. Alhamdulillah puji syukur kepada Allah sekarang saya tahu siapakah saya dan utk apa saya ada didunia ini. Berat dan berdarah2 tapi itulah perjuangan utk mencapai tujuan puncak dari kehidupan yaitu menggapai ridha Sang Maha Pemilik Kehidupan, Allah SWT.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wls mbak Amy, jangan pernah bosan berjuang menghampiri-Nya, apalagi sampai berhenti. Semakin kencang kita berlari, semakin cepat DIA menghampiri kita.
      salam

      Hapus
  7. Disinilah bedanya majelis Tafakur dg majelis pd umumnya,umumnya manusia masuk dunia sepiritual masuk dulu/ikut2an tanpa cari tau dulu mau ngapain mk tak heran jika tak berproduk,alhamdulillah di majelis ini kita digiring untuk menyadari TUJUAN mau ngapain barangkali jiwakupun sama kembali ketitik Nol untuk berdarah2 dulu di TUJUAN

    BalasHapus
  8. * Bapak, Bertahun-tahun aku belajar agama.., tapi RASA..butuh ilmu agama itu suatu kendaraan utk mewujudkan keinginan.. kadang tumbuh kadang lepas.., ini sama saja Dgn Tidak Butuh!! Semua itu krn sebenarnya aku belum "menemukan sendiri" apa sih yg menjadi keinginan puncakku..??

    * Terbukti..ketika ditanya..: kenapa mau belajar ilmu ekonomi? apa yg diinginkan..? langsung jawabmya yakin banget : supaya aku menjadi ahli ekonomi. Keinginan itu sudah ditemukan sendiri, shg saat kuliah..berasa hari2 belajar ilmunya sbg kebutuhan karena sadar banget..ilmu inilah satu2nya kendaraan utk mewujudkan keinginanku.
    * Tetapi ketika ditanya : utk apa aku belajar agama..? jawabnya ragu.., jawabannya gak pasti : keluarlah banyak pilihan2 jawaban.

    * aku anggap belajar agama sebelah mata, belajar agama hanya sebatas kehadiran, jiro, tidak sungguh2 memahami mendalam di setiap ilmu agama yg sdg kupelajari.
    * Tanpa kutemukan dulu apa yg menjadi keinginan puncakku, aku seperti Robot. Belajar agama tetapi tidak dgn kesadaran. ilmu agama tidak disadari sbg kendaraan utk mewujudkan keinginan.

    * "PR" besar..: menemukan jawaban ingin Berperilaku selaras dgn kehendak2-Nya (DBAS) bukan lg jawaban keilmuan, krn tau dari oranglain atau karena tau dari tafakuran, tetapi sudah ditemukan sendiri melalui pengolahan rasa yg terus menerus.
    * Sampai menemukan..iya..hanya ilmu agama satu2nya ilmu sbg kendaraanku utk mewujudkan keinginan puncakku.
    * Awal menentukan akhir..
    Terima kasih SA3 Tafakurannya Bapak..

    BalasHapus