Mutiara Tauhid Renungan #161
DBAS
(Dunia Bahagia Akhirat Surga)


Islam adalah kendaraan yang dibutuhkan bagi mereka yang mendambakan di dunia hidup bahagia, dan di akhirat kelak menempati surga.

Bila kita berkaca dari lapangan, mengapa ya banyak orang yang fanatik mengaku Islam bahkan rela mati demi membela Islam, tapi kurang serius menggeluti Islam?

Saatnya menyadari …, belum mau serius bukanlah menandakan iman yang rendah, namun hal ini merupakan cerminan dari keinginan akan DBAS yang masih encer.

BAGI YANG BELUM KUAT HASRAT UNTUK UNTUK DBAS, DAPAT DIPASTIKAN IA AKAN MEMANDANG ISLAM DENGAN SEBELAH MATA






Gambar:www.pixabay.com



18 komentar:

  1. Iya ya pak.. karena hasrat DBAS nya msh encer atw bahkan samar2..gk jelaas.. maka boro2 menyadari ajaran itu hakekatnya untuk aku.. agar aku bisa mencapai tujuan ajaran itu dibuat.

    BalasHapus
  2. TARGET

    Puncak kerugianku hari ini bukanlah kesenangan – kesenanganku hilang tapi apabila ketentraman jiwaku yang hilang .

    Menjalankan ajaran Islam secara total akan dilakukan bagi aku yang sudah mempunyai tujuan hidup di dunia ini 24 jam harus bahagia dan di akhirat masuk surga. DBAS ADALAH TARGET yang dimulai dari hasrat yang kuat dari diriku.

    BILA BELUM TIMBUL HASRAT ................... ketaatan hanya diukur dari tidak pernah meninggalkan sholat bukan dari taat kepada seluruh aturan main Allah. #talktomyself.hidupDBAS

    BalasHapus
    Balasan
    1. bermula dari hasrat, selanjutnya terciptalah semangat yang heibat
      tanpa hasrat, tak mungkin amal soleh akan lebat

      Hapus
  3. Ketika tujuanku hanyalah DBAS, I LET GO of expectation, because I realize expectation in essence is a 'false possibility of reality'.

    Aku menciptakan expectation on how things/person SHOULD be, pada hakikatnya adalah agar ego aku merasa nyaman...

    Ketika tujuanku DBAS, maka aku melihat things/person seperti apa adanya... karena inilah realita sebenarnya... a.k.a alam nyata...

    Saat masih ada ekspaktasi, maka menggunakan ajaran agama hanya akan seperti kejedot tembok... Ajaran agama digunakan untuk alam nyata - alam yang dibuat Allah. BUKAN, pada alam khayalan yang bernama 'expectation' yang sesungguhnya kubuat sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. be a rational actor not a positive thinker

      Hapus
  4. Yaaa aku termasuk salah satu manusia, yang "fanatik" mengaku Islam, apa2 sllu nanya : Agama nya apa... Kl bukan Islam, rasanya gimana gitu...
    Dulu juga Belajar Agama serius, ikut pengajian dimana-mana... Keliling... Al-qur'an dibaca sampe Bulak-balik khatam... Tapi Jiwa ini tetap kosong... Hidup lbh banyak mengeluh, kurang bersyukur. Kerugian yg sangat besar... Walaupun tidak Ada yg sia-sia.. tapi aku merasa salah banget... Karena aku merasa diriku benar padahal aku keliru..

    Sekarang setelah ikut Tafakur di MT aku telah "menemukan" kesadaran.... Sadar bahwa isi kalbulah yg akan menentukan tempat ku di Akhirat.

    Degan Tafakur menyadarkan aku betapa pentingnya tujuan. Dengan Tafakur Aku berproses memantapkan TUJUAN. Membangkitkan hasrat untuk meraih tujuan aku DBAS.. berproses mencerdaskan jiwa ku utk bisa meyakini firman2NYA.

    Sekarang selagi Masih ada waktu, aku serius berproses.. aku fanatik dan sdh mantap dgn Ajaran-ajaranNYA.. dan ajaranNYA semua utk aku...
    Sekarang aku sdh masuk dlm koridorNYA berproses.. Pegang TUJUAN, sllu kedalam diri, fokus, konsisten dan sungguh2 ... utk meraih DBAS.
    Sekarang Jiwa ini bergetar ketika membaca firman2NYA.
    Sekarang semua ayat2NYA bisa aku rasakan sebagai kebenaran untuk aku.

    Allah memberi aku banyak "polesan" ... Dan aku berupaya utk tidak meronta. Permisalan2 yg diberikanNYA melalui polesanNYA adalah tanda Kasih sayangNYA. DIA menginginkan aku utk meraih TUJUAN aku. Dan aku merasakannya.
    DIA memoles Jiwaku, karena tanpa "polesanNYA" bagaimana bisa aku ngaku2 kl aku ingin hidup selaras dgn KehendakNYA.

    Allah tidak akan merubah keadaan aku, bila aku tidak berusaha merubahnya.
    Target tertinggi yg INGIN aku capai adalah DBAS. Dan aku berproses.

    Salam DBAS Sahabat Jiwa
    Never Stop Tafakur

    BalasHapus
    Balasan
    1. hasrat itu mestinya hanya pada tujuan
      orang yg punya hasrat pada agama tapi tak tahu apa tujuan yg mau diraih melalui agama itu, mrk inilah yg biasanya tenggelam dalam simbol atau asesoris agama semata

      Hapus
    2. tenggelam dalam simbol atau asesoris agama semata itu maksudnya apa sih pak?

      Hapus
    3. mereka bukan tenggelam dalam ketaatan mengikuti kehendak Allah dan Rasul-Nya, tapi tenggelamnya misalnya dalam berpakaian ala Islami, atau senang menggunakan istilah2 yg berbau Arab seperti misalnya tausiah sbg pengganti ceramah, umi sbg pengganti ibu, dll

      Hapus
  5. Iya ya …, bila hasrat untuk DBAS rendah pastilah upaya untuk meraihnya juga rendah

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya iyalah, kan keyakinan menentukan sikap

      Hapus
  6. Kebanyakan di Indonesia fanatiknya sebenarnya bukan pada Islamnya tapi pd egonya.
    Buktinya mereka itu hanya mau membela kesucian Islam kalo kepentingannya terganggu. Ketika ada masjid yg ga mau menyolatkan jenazah gara-gara orang itu milih Ahok padahal orang itu hajah dan rajin sholat mereka diem aja tuh … bukankah sikap DKM masjid yg satu ini menodai kesucian Islam?

    BalasHapus
  7. jadi kuncinya agar aku mau mempelajari agama Islam sebagai prioritas yang utama
    adalah membangunkan HASRATKU untuk DBAS dulu.Begitu kan pak? Karena bila Hasrat sudah kental otomatis dia akan mencari bagaimana agar hasratnya ini dapat terealisasi. Otomatis aku akan mempelajari agama Islam sebagai kendaraan aku.karena agama islam adalah satu-satunya kendaraan yang bisa mengantarkan aku ke tujuan..Aha Yess.. sekarang aku harus menemukan dulu bagaimana supaya hasratku tumbuh.. ya akan aku cari dan aku renungkan lagi lebih dalam pak.

    BalasHapus
  8. Bener pak, ibarat semua orang tau dirinya bakal mati tapi anehnya jarang yg serius ngumpulin bekal utk kehidupan setelah kematian. Bahkan para ustadz juga ada yg sering mengumpat, mestinya kan orang yg ingat mati gak akan berani mengumpat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yakin tidak semua ustadz lupa akan mati, yg lupa mah itu ustad-ustadan kali …

      Hapus