Mutiara Tauhid Renungan #166
MEMAKSA ORANG BUTA MELIHAT REMBULAN

Tak seperti kebenaran yang dilihat dengan mata lahir, kebenaran Alqur’an hanya dapat terlihat oleh mata hati.



Seorang ahli hikmah berkata, “Sinar pagi hanya terlihat oleh orang yang terbuka mata inderanya, dan cahaya kebenaran hanya terlihat oleh orang yang terbuka mata hatinya”

Saatnya menyadari …, memaksa orang untuk menerima kebenaran Alqur’an sama seperti memaksa orang buta untuk melihat indahnya rembulan.

“SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKINYA DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG2 YANG MAU MENERIMA PETUNJUK”  ( AL QASHASH 56 )




Gambar:www.pixabay.com

14 komentar:

  1. Bener banget.
    Sangat sulit bicara soal agama dengan orang sombong dan orang bodoh. Mereka sama-sama sudah membuat benteng diri.

    Orang sombong membentengi dirinya bahwa dialah yang paling tahu dan benar. Sedang orang bodoh membentengi dirinya dengan kebenaran logika dan lingkungan, menganggap Al-Qur'an hanya sebagai bacaan dan teori.

    Kalaulah tidak menyadari memaksa orang untuk menerima kebenaran Alqur’an sama seperti memaksa orang buta untuk melihat indahnya rembulan, pastilah terjebak dalam perdebatan dan rasa dongkol. Rugi.

    Bila aku mengaku muslim, salah satu tugasku adalah menyampaikan kebenaran. Dan sungguh Rasulullah adalah panutan, sampaikan kebenaran melalui perilaku dan tutur kata yang santun.

    Bagiku, bertemu orang sombong dan orang bodoh, lebih baik meninggalkan pembicaraan. Alihkan atau dengarkan tanpa komentar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, berlaku proporsional saja. tidak perlu kita meladeni orang buta yg mengajak berdebat soal warna langit

      Hapus
    2. jadi, orang buta dicuekin aja ya ..
      kasian dong, kan mrk juga pengin ke surga

      Hapus
    3. tentunya bukan begitu maknanya, wah salah nangkep pesan nih kalo diartikan jangan menyampaikan kebenaran pada orang buta

      Hapus
  2. KEBABLASAN

    Allah tidak memaksa. Kenapa aku harus memaksa....?
    Allah yang memberikan hasil (petunjuk) . Kenapa aku harus memikirkan hasil ....?

    Kenapa harus memaksa ! Bukankah aku sudah mendapatkan pahala . Bila orang itu tidak berubah ketetapan pahalaku juga tidak berubah . Jangan lebay ahh....

    “ AGAMA MEMANG MENJAUHKAN KITA DARI DOSA ,TAPI BERAPA BANYAK DOSA YANG KITA LAKUKAN ATAS NAMA AGAMA “ – Raden Ajeng Kartini (1879-1904)
    #talktomyself,hidupDBAS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kesadaran ini mendunia
      heibat ya RA Kartini dalam usia 25 tahun bisa melihat ini ...
      saya yakin beliau pasti "mikir"nya kenceng

      Hapus
  3. Hidayah itu didapat bukan dgn gratisan, aku harus menghampirinya... Ketika aku menghampiri dan menerima, dan mengenal Allah ku, disitulah pintu Kalbu ini terbuka dimana aku bisa menguak kebenaran akan petunjukNYA. AjaranNYA adalah untuk ku...

    Aku sdh menjalaninya, aku sdh punya TUJUAN.
    Dan aku juga ingin anak2 ku, keluarga ku, orang2 disekitar aku, sama seperti aku... Punya Tujuan, menjalankan Aturan Main yg telah ditetapkanNYA. Hidup selaras dengan KehendakNYA.
    Tapi aku sadar, bahwa Allah hanya memberi petunjuk kpd orang2 yg dikehendakiNYA. Allah memberi kpd orang2 yg mau menghampiri hidayah NYA. Yang aku bisa lakukan hanya memfasilitasinya, agar anak2 ku, keluarga ku menemukan kesadaran nya. Kesadaran utk bisa hidup Taat dan selaras dgn KehendakNYA.

    Dengan tetap berpegang teguh pada TUJUAN ku, sllu kedalam diri, fokus dan konsisten membenamkan keyakinan-keyakinan ilahiyyah, aku hanya berupaya menyampaikan kebenaran dgn tulus dan Ikhlas, tidak berharap mereka tercerahkan. Sprt Rasulullah mencerahkan ummatnya tidak pernah memaksa, apalagi aku, aku juga tidak bisa memaksakan mereka menerima kebenaran Al-Qur'an semudah membalikkan telapak tanganku, atau sprt memaksa orang bisu utk menyanyi, atau sprt aku memaksa orang buta melihat keindahan Rembulan. Karena faktor luar diluar kendali aku.

    Allah tidak merubah aku, bila aku sendiri tidak berusaha merubahnya.

    Salam DBAS Sahabat Jiwa
    Never Stop Tafakur

    BalasHapus
    Balasan
    1. menyampaikan kebenaran yang terbaik itu adalah dengan ikhlas sepenuh hati dan sungguh2 ...

      Hapus
  4. Iya ya … Nabi kita yang paling cinta sama Islam aja gak pernah memaksa orang menerima kebenaran Alquran, lalu kenapa kita yang cintanya pada Islam tak ada seujung kuku cintanya Nabi malah maksa ya …
    Ah, kurang “mikir” nih ….


    BalasHapus
  5. Darimana sih asal muasalnya maksa dalam berdakwah kalo bukan dari setan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh tuduhan ini ada yg tersinggung nih, kalo bukan para ustadz yg tersinggung krn dituding mengikuti hasutan setan, pastilah setan yg tersinggung krn dia merasa udah lama ngga menghasut … he..he..he

      Hapus
  6. Maksa itu menutup kebenaran yg Allah mau berikan.
    Maksa juga perbuatan tidak pakai hati karena di lakukan tanpa sadar.
    Pantas saja ya Allah terus menerus mengulang2 ujianNya ternyata supaya aku yg minim KI ini punya kemampuan untuk tidak memaksa.
    Kalau sadar pertanggung jawaban masing-masing, kenapa masih harus memaksa??
    Semoga pengalaman burukku ini cukup aku yg merasakan.
    Memaksa itu gak enak, hati pun gak damai, untung masih tinggal di dunia masih ada pintu pertaubatan.
    Alhamdulillah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksa itu kompensasi akibat ketidakmampuan

      Hapus