Mutiara Tauhid Renungan #168
API DALAM SEKAM

Mengaku Islam, tapi menggunakan ajaran yang berlawanan dengan yang diajarkan oleh Islam adalah suatu pengkhianatan.

Ya iyalah, bila kita berani memilih Islam sebagai pedoman hidup maka kita harus berani juga dengan konsekuensi logisnya, yaitu 24 jam rela diatur oleh ajaran Islam.


Kita mengkhianati Islam bila soal rezeki kita gantungkan pada jimat atau benda pusaka
Kita mengkhianati Islam bila kita lebih senang menghakimi dari pada tabayun
Kita mengkhianati Islam bila mencap mereka yang tidak sepaham dengan sebutan sesat
Kita mengkhianati Islam bila kita maksa dalam menyampaikan kebenaran.

PENGKHIANAT DAN MUNAFIK ITU SEBELAS DUABELAS




Gambar:www.shutterstock.com




8 komentar:

  1. Iya ya …, pengkhianat2 inilah yg merusak Islam sedikit demi sedikit dari dalam layaknya api dalam sekam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Api dalam sekam, walaupun merusaknya lambat tapi pasti!

      Hapus
  2. Apakah ustadz yang omongannya menyakitkan atau yang memprovokasi orang melakukan perbuatan anarkis mereka tidak tahu bahwa itu tidak dibolehkan dalam Islam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajaran Islam apa sih yg ngga diketahui oleh para ustadz? Rasanya tidak ada.
      Tapi kalo soal ajaran Islam mana sih yg belum dijalankan oleh para ustadz, itu sih soal lain lagi.
      Lebih baik ngga usah nyenter orang lain dulu deh, jangan2 kita sendiri termasuk pengkhianat juga. Sesama pengkhianat jangan saling ganggu he..he..he..

      Hapus
  3. Ko kayaknya di Indonesia banyak banget pengkhianat ya …
    Pantesan aja Islam di Indonesia melorot terus, jumlah dan kualitasnya turuuunn terusss...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu saya kecil dulu Islam di Ind lebih dari 95%, sekarang setelah saya menjadi tua konon katanya merosot jadi sekitar 85%. Moga2 ngga melorot lagi ya …

      Hapus
  4. Memang ya bahaya banget kalau belum bulat menyadari tujuan hidup adalah DBAS dan hanya ada satu cara untuk meraih DBAS, yaitu TAAT pada aturan main Allah.

    Pernah saya marah pada seseorang karena selalu bersikap yang tidak mengenakkan. Alasannya : abis dia selalu begitu sih, lama-lama kan sebel.
    Dengan berjalannya waktu, saya jadi tertawa : kok saya yang sebel, orang lain yang saya salahkan?
    Bukan berarti sekarang udah gak sebel, masih, tapi sudah menyadari bahwa bukan dia yang salah tapi aku yang salah. Aku yang harus berjuang merubah persepsiku agar semua terasa kewajarannya dan nampak keuntungannya bagiku.

    Persepsi kecil yang keliru seperti batu cadas yang terus ditetesi air akhirnya bolong. Bayangkan bagaimana jadinya kalau persepsi jumbo yang keliru, tersulut sedikit langsung byar, bagai api dalam sekam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, disamping tak menyadari tujuan hidup adalah DBAS diperparah lagi belum menyadari bhw agama itu utk AKU bukannya untuk KAMU

      Hapus