Mutiara Tauhid Renungan #66
JAUH PANGGANG DARI API

Einstein yang konon adalah manusia paling cerdas sedunia pernah tidak naik kelas. Koq bisa?

Tak usah heran …, setinggi apapun IQ seseorang bila diuji dengan perkalian 17 x 17 pasti gagal bila ia tidak mempunyai kemampuan di bidang kali-kalian.

Manusia yang konon adalah makhluk Allah yang paling sempurna, tidaklah dijamin akan selalu lulus dari ujian-ujianNya. Koq demikian?

Tak usah heran …, yang namanya ujian itu lulus atau tidaknya bukan ditentukan oleh sempurna atau tidaknya, melainkan oleh ada tidaknya kemampuan. Tanpa memiliki kemampuan yang sesuai dengan soal ujiannya, ya selalu jadi pecundang.

Coba bayangkan,  kita akan diuji kali-kalian tapi kita mati-matian belajar agar bisa sabar, ikhlas, pasrah. Bisakah kita lulus?
Begitu juga kita akan diuji Allah, walaupun kita mati-matian belajar sampai tingkat doktor di universitas paling bergengsi, bisakah kita lulus?  Inilah yang dikatakan orang bijak tempo doeloe, “JAUH PANGGANG DARI API”



Gambar: www.pixabay.com

6 komentar:

  1. Bener pak..JAUH PANGGANG DARI API..ini aku dengan kebodohanku..menemukan celah diri..
    Berarti selama ini aku salah urus..
    Sekolah dari tk sampai sarjana hanya bisa melahirkan 1kemampuan saja..itulah potensi akal..
    Kita rela mengorbankan banyak waktu, tenaga, bahkan biaya hanya melahirkan 1kemampuan atau keahlian saja..
    Sementara potensi kalbu nya tetep jongkok..
    Allah dengan keadilanNya memberikan 2potensi yg sama untuk umatNya..tp umatNya ini yg gak adil "menganak tirikan" si kalbu.. Makanya sampai kapanpun gak akan pernah bisa sabar, ikhlas, berserah diri, dll..
    Jelas Nabi SAW bersabda “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya”

    BalasHapus
    Balasan
    1. .. Berarti selama ini aku salah urus ..
      --> menyadari hal ini adalah kemajuan besar, tinggal action

      Hapus
  2. ' SABAR YA NAK .....IKHLASKAN YA !!'

    Di pemakaman saudara saya , ada peristiwa yang menarik untuk ditafakuri . Saudara saya yang wafat adalah seorang ayah yang meninggalkan istri dan dua anak.
    Saya melihat anak perempuannya begitu terpukul dengan fakta ini . Terlihat matanya yang bengkak dan isak tangisnya yang tidak berhenti .

    Semua pelayat bersimpati kepadanya dengan mengatakan
    ' sabar ya nak ' .....ikhlaskan ya.
    Lebih dari 20x ucapan itu tersebut . Tapi tidak menghentikan tangisan si Anak. Puncaknya ketika ayahnya sudah didalam liang lahat dan kita sudah siap-siap meninggalkan kuburan . Si anak semakin histeris sambil tidur diatas pusara ayahnya , tidak mau pergi dari situ. Terdengar lagi dari orang2 mencoba menenangkan dan mengajak pulang ,perkataan
    ' sabar ya nak' .....ikhlaskan ya.
    Sampai ada juga yang kesal dan terucap , bgmn sih tuh anak , ya udah lah ikhlaskan saja , susah amat sih

    Apakah anak ini bodoh sampai begitu susahnya melakukan sabar???......ah tidak !! . Sekolahnya di ITB dan bekerja di perusahaan minyak asing yang terkenal. Lalu kenapa tidak bisa melakukan sabar dan ikhlas.....?
    Karena SABAR DAN IKHLAS ADALAH KEMAMPUAN KALBU.
    Ciri dari kemampuan tidak akan terbendung kalo kita sudah miliki, gak perlu dsuruh-suruh .


    Kemampuan akal dan kemampuan kalbu adalah SUATU YANG BERBEDA . Selama belum 'ngeh' perbedaan karateristik akal dan kalbu , tinggal tunggu waktu saja melakukan kebodohan seperti diatas . 'sabar ya nak '....ikhlaskan ya.
    DAGINGYA DI BANDUNG , PANGGANGANYA DI JAKARTA.
    hidup DBAS

    BalasHapus
  3. Iya ya ...walaupun otak kita doktor di bidang ilmu agama tetap aja akan kesulitan menghadapi ujian Allah.
    Lah yang akan diuji itu kalbu kok...
    Mestinya yang dibuat doktor itu kalbunya bukan akalnya !

    BalasHapus