Mutiara Tauhid Renungan #121
PEMENANG ATAUKAH PECUNDANG ?

Manusia akan mendatangi akhirat tak perlulah dibahas lagi.

Ada dua kategori manusia ketika sampai di akhirat, yaitu para pemenang dan para pecundang.

Mereka yang sewaktu di dunia memilih untuk taat pada “aturan main” yang dibuat Allah dan Rasul-Nya, mereka inilah yang akan datang sebagai pemenang.


Sedangkan mereka yang lebih suka memilih taat pada nafsunya, inilah dia sang pecundang.

Begitulah, selalu ada harga dari suatu pilihan.

SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING TAKWA, TAAT HANYA PADA KEHENDAK ALLAH DAN RASUL-NYA






Gambar:www.pixabay.com


15 komentar:

  1. Aku kadang2 suka iri ke mrk2 yg brani make gamis, sorban, islami bangeeeet....
    Kapan ya aku punya keberanian tampil beda seperti itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak juga lho para pecundang yg cinta sama Islam, mrk gemar berpenampilan dg atribut2 Islam tapi perilakunya tidak mencerminkan Alqur’an

      Hapus
  2. Aku lelah menjadi Pemburu kesenangan... Dah ga Mau ngeberesin yg diluar, hasilnya kecewa terus. Setelah Tafakur udah sadar, sdh terang, aku sudah memilih, sekarang aku menjadi Pemburu kebahagiaan.. karena Bahagia itu ada disini, di Kalbu, dan sepenuhnya dlm kendali aku.. sekarang udah ga mau nyenter yg udah terang, udah ga tenggelam dlm fakta, harus bisa melihat kebenaran yg tdk nampak, melihat secara spiritual.. karena Akhirat itu nyata dan aku ga mau datang kesana sbg pecundang.
    Aku sudah punya TUJUAN..
    Sekarang selagi Masih ada waktu berproses terus, pegang TUJUAN, sllu kedalam diri.. berproses menggeser ego, Fokus dan konsisten mengisi Kalbu dgn keyakinan-keyakinan ilahiyyah.. ikut Aturan Main Allah, supaya hidupku selaras dgn KehendakNYA. Berproses utk bisa menjadi ahli spiritual... (Bukan kePDan tapi yaqin).
    Aku ngomong gini Allah Maha Mendengar.. semakin aku ingin Taat, semakin deras UjianNYA, aku disuruh praktek... Makanya harus never Stop Tafakur nieh...

    Salam DBAS Sahabat Jiwa
    Never Stop Tafakur

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejatinya ujian Allah itu tidak ada, yg ada adalah polesan-Nya utk membuat jiwaku berkilat!
      salam DBAS

      Hapus
    2. Bener ya Pak... Kl qolbu sdh punya kemapuan, ujian itu hanya lah pemoles jiwa ku supaya berkilat. MasyaAllah...

      Hapus
    3. memang apa yg dilihat oleh mata fisik berbeda dg apa yg dilihat oleh mata hati
      tafakur membuat mata hati semakin tajam bebas dari katarak

      Hapus
  3. KARYAKU

    Menjadi pecundang atau pemenang adalah murni karyaku bukan InsyaAllah . Untuk menjadi pemenang , Allah tidak memberikan pilihan . Hanya satu pilihan saja …….....T A A T.

    Bagi orang yang pilihanya menjadi pemenang, semakin bertambah usia akan semakin mikir , Terngiang dihatinya “ Kuisi untuk apa detik demi detik hidup ini , sudahkah aku menjadi sebaik-baiknya manusia yaitu manusia yang bertakwa. #talktomyself.hidup DBAS

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya sederhana saja, hanya SATU pilihan
      sederhana itu indah ...

      Hapus
  4. Iya ya..., masuk islam itu ternyata beresiko, kalo gak taat jadi pecundang

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo menurut saya masuk Islam bukan beresiko tapi terhindar dari resiko ..

      Hapus
  5. Assalamualaikum bapak, mau jd pecundang atau tidak itu pilihan. aku sdh bersyahadat masuk islam. otomatis aku hrs mempertanggung jwbkan pilihanku.utk taat dan selaras dengan ajaran2 islam aku harus neverstop tafakur. tafakur memberikan pilihan.. kesenangan atau kebahagiaan.. aku memilih kebahagiaan..krn aku sdh memilih kebahagiaan , otomatis yg aku garap/senter adalah ke dalam diri aku..aku hrs sll bercermin diri kebahagiaan ataukah msh kesenangan yg aku lakukan. melihat fakta yg tampak atau tak tampak..itu yg sedang aku proses dan tafakuri. agar aku mampu menjadi pemenang kelak. melihat dgn kaca mata spiritual..adalah jln yg akan membawa aku menjadi pemenang. bukan insha Allah lagi..kalau semua itu aku jalankan dan selalu berpegang kepada AQ dan sunnah Rasul... aku sudah berpegang pd buhul tali yg kokoh..dan tidak ragu lagi, aku PASTI jd pemenang. Yang paling penting tafakur dan neverstop tafakur..kuncinya. salam DBAS ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa membedakan antara kesenangan dg kebahagiaan adalah modal dasar utk melangkah
      sesungguhnyalah mengejar kesenangan akan membuat kebahagiaan itu mampet!

      Hapus
  6. Ahhh... pas banget untaian rasa ini

    Aku melakukan segala kegiatan yang ada di dunia ini, adakah artinya? Adakah atau tiada?

    Ya, aku bekerja untuk apa? Karir, harta, masa depan? Apa gunanya kalo mati? Orang kaya dan miskin tak ada beda.
    Aku belajar untuk apa? untuk pintar? Kalo mati, otak pun busuk
    Aku membina anakku untuk apa? agar mereka berhasil dan menjadi kebanggaan? Emang apa bedanya orang tua yang bangga dan tidak ketika mati?

    Yang MEMBEDAKAN hanyalah untuk apa dan siapa aku melakukannya... ketika aku melakukannya untuk ego ku dan orang2 sekitarku, semuanya akan lenyap seketika saat aku berkalang tanah...

    NAMUN ketika aku melakukannya untuk Allah, aku bekerja untuk melakukan tugasku sebagai pencari nafkah untuk makluk2 Allah yang dalam lindunganku, aku belajar agar menjadi khalifah yang lebih arif dan melakukan kewajiban belajar seumur hidup, dan aku membina anak karena aku harus mempertanggungjawabkan titipan-Nya... MAKA tiada kematian yang dapat melenyapkan amalku...

    Karena Allah akan tersenyum... Amal sholeh itupun will be SEALED AND PROTECTED FOREVER, EVEN FROM DEATH ... now that's the true champion...!

    Terima kasih Pak Permadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah .., lagi2 bahasa kalbu yg indah!
      subhanallah ...

      Hapus
  7. Aku sedang membayangkan, bagaimana aku saat berada di alam ruh. Pasti aku sangat tidak sabar menunggu giliran untuk diperjalankan.
    Ketika Allah mengambil janjiku : "Apakah AKU Tuhanmu?"
    Pasti dengan semangat aku menjawab : "Ya, Engkau Tuhanku. Aku pasti akan mendengarkan setiap perkataan-MU dan aku pasti akan mentaatinya".
    Tiap saat aku merengek-rengek pada Allah, minta untuk segera diturunkan. Tapi Allah hanya tersenyum dan menjawab : "Sabar. Tunggu giliran".

    Ketika akhirnya giliranku diperjalankan tiba, aku lupa dengan janjiku.
    Tak bisa aku mempersalahkan kedua orang tuaku yang tidak membimbingku untuk menggunakan Al-Qur'an (rekaman perkataan Allah yang aku telah berjanji untuk mentaatinya) sebagai tolok ukur kebenaran akan perilakuku.
    Aku telah diberi sarana yang sempurna. Mata yang dapat melihat dengan jelas, telinga yang bisa mendengar, akal yang mampu berpikir dan hati yang mampu merasa.

    - Saat aku pulang, sebagai pecundang yg tidak dapat membuktikan janjiku, betapa takut dan malunya aku untuk bertemu dengan Allah. Aku yang telah merengek-reyek minta diperjalankan, kini pulang hanya untuk menerima murka-Nya.

    - Saat aku pulang, sebagai orang yang berhasil menggunakan mata, telinga, akal dan hati sehingga aku mampu menepati janjiku, pasti aku tak sabar ingin segera berjumpa Allah, dan aku akan berteriak dengan suka cita : "Ya Allah, telah kubuktikan janjiku pada-Mu".

    Ya Allah, bantu aku untuk dapat memenuhi janjiku pada-Mu. Alhamdulillahirrobilalamiin. La ilaha illallah.

    BalasHapus