Mutiara Tauhid Renungan #124
MASALAH JADI TAK MASALAH

Mengapa kita galau?
Pastilah karena ada masalah yang mengusik kalbu!

Begitulah karakteristik kalbu, bila dia merasa kedatangan masalah maka tanpa dapat dicegah dia langsung mengkerut menjadi galau.
Namun bila dia merasa segala yang dialaminya wajar (apalagi bila menguntungkan), dia tak pernah mengkerut alias rasa galau tak pernah bisa singgah.

Jadi untuk terbebas dari rasa galau mudah saja,
yaitu jangan biarkan kalbu merasa adanya perlakuan tak wajar menimpanya.

Memangnya bisa?

Ketika akal, kalbu, dan Alqur’an melebur dalam tafakur, maka segala kejadian pahit yang dialami akan selalu terasa wajar ( bahkan seringkali menguntungkan! )


DENGAN BERTAFAKUR, MASALAH AKAN MENJADI TAK MASALAH







Gambar:www.pixabay.com



14 komentar:

  1. Sedang berproses terus nieh Pak... Berupaya utk melebur Akal, Kalbu dan Al-Qur'an dengan berTafakur. Dlm berproses kadang masih sering Akal dan Kalbu pecah kongsi...

    Tapi Aku sdh memilih, sekarang aku mantap dgn TUJUAN aku. Udah ga mau nunjuk keluar, karena Allah men-design yg diluar itu sdh sempurna,aku sllu kembali kedalam diri, fokus dan konsisten. Bertafakur utk mengisi Kalbu dgn keyakinan-keyakinan ilahiyyah, berupaya utk meraih kesadaran supaya Rumus2 kehidupan yg diterima akal bisa diturunkan dan dibenamkan dlm Kalbu, supaya Kalbu punya kemampuan. Dengan berTafakur Kalbu Jadi Smart dan ketika persoalan hidup menghampiri, Kalbu sdh terang, Kalbu sdh bisa melihat yg tersirat dari yg tersurat.

    Langsung Allah memoles Jiwa ku Pak..: bbrp wkt lalu, aku hampir 2 minggu lost contact dgn Anak yg lg kerja di Aceh Ujung, banyĆ aaak banget hasutan... Alhamdulillah.. kalbu ngga terusik, ngga mengkerut, aku praktek memakai Ajaran-ajaranNYA dan nyata.. masalah yg aku alami jadi terang, selalu ada jalan keluar yg terbaik. Dan ketika aku sdh mampu menggunakan ajaranNYA, Hidup terasa nikmat karena setiap masalah yg datang menjadi terasa wajar, menguntungkan dan itulah yg aku butuhkan. Keyakinan menentukan Sikap.

    Alhamdulillah Kalbu sdh ngga gegana, kl kadang masih agak godeg itu bagian dari aku berproses. Sllu Pegang TUJUAN.
    Gelang Emas kan terbentuk juga dari proses dilebur, dicetak, dibakar, dipoles sehingga menjadi indah.
    Aku juga sprt itu ... Berproses untuk menjadi indah dimata Allah.

    Salam DBAS utk semua para
    Pemburu Kebahagiaan
    Never Stop Tafakur

    BalasHapus
  2. Selama kalbu merasakan adanya kerugian, dia pasti akan berubah menjadi galau. Sebaliknya, kl dia merasakan adanya kewajaran (bahkan menguntungkan), dia tdk akan galau, bahkan bisa tersenyum. .. Apa bisa? Ya bisalah. ....

    Begitu aku sudah menentukan tujuan, sudut pandangku pasti mengarah kepada tujuan tsb. Dan Allah sudah menyiapkan ajaran2, yg akan selalu membantu aku meraih tujuan tsb...

    Kalau sudah begitu, mana mungkin kalbu merasa rugi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitu aku sudah menentukan tujuan, sudut pandangku pasti mengarah kepada tujuan tsb. Dan Allah sudah menyiapkan ajaran2, yg akan selalu membantu aku meraih tujuan tsb... Juga bila aku bertanya soal agama, pasti pertanyaanku ada kaitannya dg tujuan. Kalo aku belajar, juga yg menunjang tercapainya tujuan. Bila aku merenung, pasti yg aku renungi itu juga yg ada kaitannya dg tujuan. Intinya, segala daya upaya aku kerahkan demi meraih tujuan

      Hapus
  3. RUAARRRRRRRBIASA

    Tidak bisa dipungkiri ...............kalo aku mau jujur dan bercermin ,penyebab aku galau yang membuat gak nyaman kalbu ini karena aku gak mengikuti petunjuk-Nya. Pada saat itu bisa jadi pedomanku budaya , pedomanku orang pintar, pedomanku lingkungan .

    Pasti saat itu aku sedang pake ajaran lain selain AJARAN ISLAM. Pasti saat itu aku sedang pake pedoman lain selain PEDOMAN AQ. Pasti saat itu aku sedang tidak TAFAKUR

    Begitu potensi yang aku miliki ini yaitu akal dan kalbu untuk memikirkan AQ yang diproses melalui tafakur maka semua masalah dalam hidup ini tidak pernah membebani kalbuku .

    TAFAKUR MENYELESAIKAN MASALAH TANPA MASALAH . hidup DBAS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allah membuat AQ, agar manusia hidup di dunia ini bisa selalu tersenyum ....

      Hapus
  4. Assalamualaikum bapak, tafakur memang membawa aku kepada Tujuan dan Arah yg benar..yang sesuai petunjuk AQ dan sunah rasulnya. Selama aku keluar, dan salah menempatkan arah pastilah jiwaku terganggu dengan kekecewaan dan kegalauan. tetapi kalau aku selalu kedalam dan selalu bercermin... otomatis jiwa mnjd tenang , masalahpun bukan mnjd masalah lagi. Semua mnjd wajar dan menguntungkan. mau di jutekin mantu, di zolimi teman, di bentak anak sudah tidak berpengaruh pd jiwa yg punya tujuan. Benar banget apapun kalau pegang tujuan serta fokus.. pasti kalbu mnjd terang. Alhamdulillah...salam DBAS ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, semuanya berawal dari tujuan
      Gara2 tujuan kaki melangkah ke kiri atau ke kanan
      Gara2 tujuan aku mau mengikuti AQ
      Gara2 tujuan aku tolak semua yg bertentangan dg AQ dan sunnah Rasul
      Gara2 tujuan, aku mau bertafakur ...

      Hapus
  5. Saya belum paham kenapa dg bertafakur masalah menjadi tak masalah.Bukankah yg namanya masalah selalu ada ? hanya orang mati yg gak punya masalah, bener gak pak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Produk dari bertafakur itu kesadaran.
      Belum sadar namanya bila ketetapan Allah masih dirasakan merugikan, masa sih Sang Maha Pengasih Maha Penyayang mau merugikan kita, tul ngga…?
      Orang mati memang ngga punya masalah dihina, dizalimi, ataupun kekurangan uang .. tapi orang mati bisa jadi punya masalah yg jauh lebih besar dari itu, yaitu siksa kubur. Nah, kalo ngga mau ketemu dg masalah setelah mati satu2nya jalan adalah TAAT pada-Nya dan Rasul-Nya

      Hapus
  6. Iya ya....ketenteraman itu hilangnya kalo kita merasa dizalimi, diinjak-injak harga diri ataupun kalo ditimpa musibah.
    Kita gak pernah kehilangan ketenteraman sepanjang semua yang berjalan dirasakan manis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketika akal, kalbu, dan Alqur’an melebur dalam tafakur, maka segala kejadian pahit yang dialami akan selalu terasa wajar ( bahkan seringkali menguntungkan! ), termasuk ketika kita dizalimi, diinjak-injak harga diri ataupun kalo ditimpa musibah

      Hapus
  7. Saat aku lahir, Allah menyertaiku dengan Al-Qur'an sebagai manual book, panduan bagaimana aku harus mengoperasionalkan diriku agar aku tidak rusak.
    Tapi pada kenyataannya aku tak pernah melirik buku panduanku itu. Aku bertindak sesuai dengan kata hatiku yang diasuh oleh lingkungan. Kegalauan sering datang dan itu ku anggap wajar sebagai manusia hidup. Kesulitan atau ketidak nyamanan yang datang menyapa wajar saja bila ditanggapi dengan kemarahan atau kegundahan. Semua orang yang ku kenal pun merasakan hal yang sama dengan aku.

    Saat manual book ku mulai dibaca, baru aku tahu kalau aku punya tujuan hidup yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Aku adalah makhluk immortal yang seharusnya selalu bahagia.
    Selama ini kebahagiaanku sering terampas karena aku punya pandangan yang bertentangan dengan buku panduan hidupku.
    Ternyata disetiap kejadian selalu ada maksud dari Pencipta ku, baik bagiku belum tentu baik dimata-Nya, buruk bagiku tidaklah selalu buruk dimata-Nya.

    Dengan mau mendengar, berpikir dan menghayati, perlahan-lahan pandanganku tentang kebenaran mulai bergeser mengikuti buku panduan hidup. Ajaibnya kegalauanku berkurang, kemana perginya kemarahan yang acap muncul? Apakah karna tidak ada lagi masalah?
    Masalah tentu saja tetap ada, tapi dia tidak lagi menjadi masalah karna penilaianku yang telah berubah. Tidak lagi mengikuti ego/lingkungan tapi mengikuti buku panduan hidupku.

    Ketika akal, kalbu dan Al-Qur'an melebur dalam tafakur, masalah tidak pernah dirasakan lagi sebagai masalah. Semua ketetapan-Nya, baik berupa kenyamanan atau ketidak nyamanan, adalah karunia-Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku adalah makhluk immortal yang seharusnya selalu bahagia. Bahagia itu adalah persepsi. Dg Alqur'an persepsiku melihat peristiwa cuma dua, yaitu kalo bukan wajar pastilah menguntungkan. Tks ya Allah ... Alqur'an yg Engkau buat sungguh ruarrr biasaaa .... alhamdulillah ...

      Hapus