Mutiara Tauhid Renungan #128
BERSERAH DIRI

Bila badai menerjang bagaimana caranya supaya dapat tetap berdiri kokoh?
Jawabannya sederhana, pegangan!
Berpeganglah pada suatu yang kokoh.



Berserah diri adalah pegangan yang terkokoh.

Orang yang berserah diri pada Allah dijamin tidak akan tumbang, sehebat apapun  badai menggila ia tidak akan ikutan gila!

“BARANGSIAPA YANG MENYERAHKAN DIRINYA KEPADA ALLAH SEDANGKAN DIA ORANG YANG BERBUAT KEBAIKAN, MAKA SESUNGUHNYA IA TELAH   BERPEGANG PADA BUHUL TALI YANG KOKOH”  ( LUKMAN 22 )







Gambar:www.pixabay.com




12 komentar:

  1. Assalamualaikum bapak, "berserah diri". nyambung banget dengan ujian yg aku rasakan hr ini. Semua kejadian tidak ada yg kebetulan yg aku alami dalam berproses kepada tujuan DBAS. Betapa aku merasakan kasih sayangNya melalui ujian2Nya..sehebat apapun badai yg aku alami..dengan tafakur dan menggunakan keyakinan ilahiyah "berserah diri"..Alhamdulillah..hidangan Allah yg terjadi aku masak menjadi hasil yg luar biasa aku dapatkan. Tidak ada lg gegana dlm kalbu ini pada saat badai menerpa. Ternyata keyakinan menentukan sikap bener banget.. OTOMATIS keluar dgn sendirinya rasa itu. itulah yg saat ini aku rasakan. di fitnah, dizolimi tidak aku rasakan sbg pengganggu. dengan tafakur dan hakulyakin kepada janji2nya , serta menyerahkan segala keadaan yg aku rasakan hanya pada Allah...maka aku telah berpegang pada buhul tali yg kokoh. Hidangan Allah bagiku sebagai pemoles kalbu agar semakin bersih dan kinclong..Subhanallah..nikmat mana lagi yg kau dustakan.. Ketika mata hatiku sudah mampu melihat, ketika keyakinan-keyakinan ilahiyyah sdh menjadi suatu kesadaran bagiku, ketika aku sdh mampu menggunakan ajaran2NYA dgn benar, semua ujianNYA adalah wajar dan menguntungkan, seperti yg pernah bapak sampaikan..bahwa sejatinya Ujian itu tidak ada, yg ada adalah Allah sedang memoles kalbu ku agar lbh berkilat.
    Tafakur dan never stop tafakur sdh Jadi kebutuhan aku. salam DBAS ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ...
      memang, ketika jiwa sudah mampu berpegang pada janjiNya langit cerah maupun mendung sama saja ...

      Hapus
  2. Subhanallah...terima kasih Bapak...bahan Iqro ini...DULU sebelum tafakur BERSERAH DIRI ini ILMUNYA para nabi....hanya slogan bacaanku saja utk merekayasa hatiku saja...menghadapi masalah krn sdh mentok gak tau mau ngapain lagi... Astaghfirullahaalazim...lahawlaquwwataillabillah...dgn aku tafakur baru kusadari...bener yaa manusia ada raga ..ada jiwa...masing2 punya pegangan utk keselamatan hidup... didunia maupun akhirat...utk raga aku sgt mahir memilih berpegangan pd sesuatu yg kokoh bila aku dalam satu kondisi...punya kemampuan agar ragaku selamat...tp tidak dengan kalbuku...??? ketika itu was2, takut, khawatir dst...ooh ternyata...pegangan kalbuku ternyata tdk sekokoh pegangan ragaku...Why..? krn aku tdk menyadari berserah diri ini kemampuan kalbu... krn kemampuan kalbuku pegangannya sesuatu yg tdk tampak (spiritual)... pegangan kalbuku "kesadaran2 " bila tdk punya "kesadaran2" otomatis kalbuku tdk punya kemampuan apalagi kemampuan ...BERSERAH DIRI... kusadari berserah diri adalah prilakuku---> keyakinan menentukan sikap... fakta ini kurasa2kan utk aku bercermin diri "melihat kedalam" kalbuku...masih banyakkah ilah ilah (sampah sampah ) bersemayam dikalbuku..? because garbage in garbage out...bila ini terjadi mustahil bila kalbuku punya kemampuan berserah diri..dengan tafakur...tafakur ... tafakur...any time any where...dgn merasa2kan "berproses" kalbuku utk terus meraih kesadaran2...agar kalbuku ini punya kemampuan berpegang pada "buhul yg kokoh"... Semoga Bapak sll dalam lindungan dan rahmatNya..Aaamiin.....Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya betul, 'sampah' itu bagaikan nila setitik

      Hapus
  3. Iya ya..., tentunya Allah tidak akan pernah mengecewakan kita . Masa sih orang yang berpegangan padaNya dicuekin ..gak mungkinlah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memberhentikan kasih sayangnya aja DIA tidak mampu, apalagi nyuekin ..

      Hapus
  4. Berserah diri apakah artinya kita menerima aja dg ikhlas apapun yg menimpa tanpa perlu ikhtiar untuk keluar dari masalah yg menimpa itu ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan seperti itu, ikhtiar mah kudu!
      Lihat lagi renungan #88 ya …

      Hapus
  5. Bagi Manusia yg Berakal sehat dan Berhati bersih, sikap terbaik bila disapa musibah adalah Berserah Diri.

    Setelah Tafakur, Aku sdh memilih, aku sdh punya TUJUAN... Sekarang pegang TUJUAN, Sllu kedalam diri... Fokus dan konsisten, Berproses mengolah potensi diri untuk Meningkatkan keahlian Kalbu dgn meyakini keyakinan-keyakinan ilahiyyah, supaya Jiwa ini punya keahlian Berserah Diri.

    Sekarang aku Berserah Diri diawal, ikhtiar maksimal dan hasilnya biarlah Allah yg menetapkan. Karena ketetapanNYA selalu baik.
    Supaya DBAS aku ga terampas, sekarang Jiwa ini berproses utk membatasi keinginan, berupaya menggeser ego, ga mau ikut campur dgn apa2 yg sdh dijamin NYA. Aku punya keinginan, Allah punya keinginan dan yg terjadi pasti selalu keinginan NYA, dan itu yg aku butuhkan. Aku sdh mantap.

    Aku sdh berpegang pada buhul tali yg kokoh, menggantungkan jiwa ini sepenuhnya kpd Allah, dan kaki tetap menapak dibumi (ikhtiar maksimal). Berproses menebalkan keyakinan, berupaya meraih kesadaran supaya aku ga tumbang ketika Musibah datang menyapa.

    Jujur dgn berTafakur semua jadi terang, dan ketika aku mampu melewati ujian-ujianNYA, disitulah aku merasakan nikmatnya bersyukur. Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah.

    ujian-ujianNYA sejatinya tidak ada, yg ada adalah pemoles Kalbu. Jika waktunya tiba aku ingin kembali kepadaNYA dalam keadaan Jiwa yg tenang, putih, bersih dan berkilat. Aamiin Allahuma aamiin..

    Salam DBAS utk semua para
    Pemburu Kebahagiaan
    Never Stop Tafakur

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiiiin ..
      mari kita saling mendoakan ya ...

      Hapus
  6. KETERLALUAN

    Jika aku belum beralih profesi ke pencari kebahagiaan maka galau adalah sahabatku .

    Jika fitrah manusia sebagai mahluk yang berpikir tidak dijalani ,maka habislah aku !

    Jika kesadaran bukan sesuatu yang sangat istimewa maka manalah mungkin TAFAKUR menjadi PRIORITAS UTAMA !

    Jika hidup tapi tidak TAFAKUR , maka apalah bedanya aku dengan sapi !

    Sapi tidak bisa merasakan Allah Maha Besar , Allah Maha Tahu, Allah Maha Pengasih Penyayang , Allah Maha Pintar dan segudang Maha lainnya . Allah tidak mungkin berbuat kekeliruan sulit bagi sapi merasakan ini . Pantes saja aku eh ....sapi tidak bisa berserah diri. #talktomyself.hidup DBAS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. disamping ngga "mikir" mengapa sapi ngga bisa berserah diri karena dia juga ngga punya tujuan, dia hidup asal hidup aja

      Hapus